Beranda / Uncategorized / 2 Alasan Pokok Islam Dituduh Terorisme

2 Alasan Pokok Islam Dituduh Terorisme

Oleh: Zaki Mubarak

SEJAK kekalahan komunisme atas demokrasi-liberal, Amerika dan sekutunya mencari musuh baru untuk ideologinya. Ini bukan tanpa alasan, semua ideologi akan sehat dan terus progresif manakala ada lawan yang sebanding. Lawan inilah yang akan menjadi “makanan” utama dalam pengembangan ketangguhan ideologi. Ideologi yang cenderung “ingin menang”, memaksa, egois, satu arah keyakinan, dan tentu saja “merasa benar mutlak” akan membuat lawannya jadi korban “keganasan” ajarannya.

Ideologi Sepilis (Sekuler, pluralis dan liberalis serta kapitalis) yang bernaung atas nama demokrasi menemukan ideologi tandingan setelah sosialis-komunis dikalahkannya. Ideologi ini adalah ideologi Islam. sebenarnya, Islam adalah ideologi yang lebih kuat dari sosialis maupun liberalis. Islam telah teruji kehandalannya kurang lebih seribu tahun selama masa kejayaan Dinasti Umayah dan Abasiah. Walapun ketika kekhilafahan utsmani, Islam mulai menemukan “dark-age-nya” namun dalam konteks ideologi, Islam masih tumbuh berkembang dan bahkan Eropa yang menjadi basis ideologi sepilis dengan massif digerogoti ideologi ini.

Seyogianya, membandingan Islam dengan Sepilis tidak apple to apple, tak sebanding. Yang satu teologis (ideologi berbasis ketuhanan, agama) yang satunya ideologi yang berakar pada tata kelola negara (sekuler), hubungan manusia dengan manusia (pluralis), hakikat kehendak manusia (liberalis) dan ekonomi (kapitalis). Jadi ideologi ini satu sama lain tidak memiliki basis yang sama, tapi itulah faktanya. Keduanya vis a vis. Mungkin alasannya adalah teologi Islam sangat komplit ajarannya, di dalamnya mengandung tata kelola negara, politik, ekonomi, relasi manusia dengan sesama dan bahkan menjelaskan tentang dunia masa yang akan datang. Sehingga, Islam dinilai sebagai “musuh” bagi kelompok Sepilis-demokratis.

Itulah gambaran kenapa Islam hari ini menjadi antagonis bagi kehidupan. Ketika Islam menjadi ideologi adikuasa seperti ideologi sepilis hari ini, Islam pun memberikan tekanan dan permusuhan kepada ideologi di luarnya. Semisal ideologi teologis nasrani-yahudi-majusi, atau ideologi liberalis ala muktazilah atau ideologi keras semacam khawarij. Itu sangat normal, karena sebuah ideologi bisa bertahan lama apabila diperlakukan sebagai predator bagi ideologi lain dan disusupkan ke dalam pengikutnya sedini mungkin. Ideologis teologis disuntikan secara dogmatis, ideologi lainnya disuntikan melalui kajian logis-egois-dogmatis, sehingga hampir semua ideologi cenderung memaksa pengikutnya.

Lantas, dalam terpojoknya Islam sebagai musuh Sepilis-Demokratis, kenapa Islam menjadi bulan-bulanan terorisme? Terminology terorisme begitu melekat pada Islam, padahal dalam konteks literal terorisme adalah paham yang membuat rasa cemas dan takut orang lain. Kenapa terorisme tidak direferensikan kepada Israel yang men”terror” palestina, tidak juga kepada Amerika yang sudah dua dekade lebih menghancurkan banyak negara timur tengah, atau tidak kepada China yang sudah mencaplok kedaulatan negeri-negeri Afrika Semisal Zimbabwe dan Turkistan? Jawabannya jelas, Islam sedang menjadi musuh ideologi yang sedang berkuasa di dunia.

Islam sengaja dilemahkan agar bisa mati seperti sosialis-komunis, walaupun matinya ia mati suri. Kebangkitan Rusia dan China yang menjadi biang Sosialis-komunis hari ini sudah mulai membangun kekuatan. Sepilis-Demokratis yang sedang fokus menghancurkan Islam kewalahan menghadapi dua musuh besarnya. Namun, Islam sudah kadung hampir terkalahkan oleh mereka, sehingga dunia Islam cenderung di jadikan medan untuk berperang antara Sepilis dan Komunis. Suriah adalah bukti bagaimana mereka menjadikan Islam sebagai alasan untuk menjadi medan berperang antara Sepilis dan komunis.

Alasan Pertama: Alasan Eksternal

Terorisme adalah kosakata lama yang direproduksi sebagai alat psikologis baru untuk mengalahkan Islam sebagai ideologi. Terorisme sengaja dijadikan alat untuk melemahkan citra ideologi Islam sebagai ideologi lengkap. Kelengkapan Islam sebagai system of belief pengikutnya diyakini sebagai musuh besar dalam menyebarkan ideologi Sepilis-Demokratis. Masyarakat muslim sudah memperlihatkan sebagai sebuah sub kultur masyarakat dunia yang memiliki ciri khas, kekuatan, dan kelompok yang solid. Hal inilah yang menjadi alasan kenapa citranya harus diperburuk. Ideologi Sepilis tidak ingin ada ideologi di luarnya yang lebih baik darinya.

Kata terorisme telah berhasil memperburuk citra Islam. Semua terror yang terjadi, mesti dialirkan akarnya kepada Islam. Media Barat sudah sepakat bahwa terror adalah terminologi khusus milik Islam dan mereka menyebarkannya. Media muslim pun masuk ke dalam perangkap perang psikologi ini, mereka menyebutkan terror adalah bagian tak terpisahkan dari Islam. suka tidak suka, mau tidak mau, kekuatan media Barat telah memaksa media muslim untuk memiliki pikiran yang sama. Bukan hanya media, pemerintah muslim pun tidak kuasa untuk menolak intimidasi negara Sepilis untuk mengakui Islam sebagai akar dari pelaku terror. Jihad sebagai konsep dijadikan alasan untuk melakukan terror negara terhadap Islam.

Paling tidak, saya melihat alasan eksternal ini bisa diklasifikasikan menjadi tiga alasan. Alasan ini adalah kategorisasi dari penjelasan di atas. (1) Alasan ideologi politis. Alasan ini adalah alasan paling logis dalam menuduh Islam sebagai terorisme. Tujuan politik adalah mencapai kekuasaan. Berkuasa secara global haruslah dimulai dari menguasai “ideologi” orang yang akan dikuasainya. Demokrasi yang menjadi ideologi politik ditawarkan kepada semua negara di dunia, tak terkecuali negara Islam (muslim). Dengan berbagai cara, termasuk janji bantuan dana, ideologi ini dipaksa untk diterapkan di seluruh dunia. Hampir semua negara telah melakukan demokrasi ini.

Lantas, apakah berhasil. Dalam dimensi tatakelola negara, bisa jadi ideologi ini memiliki keberhasilan. Namun, dari banyak sisi ideologi demokrasi yang di dalamnya ditumpangi Sepilis memiliki masalah serius. Contohlah negara muslim terbesar dunia, Indonesia, ia menjadi negara yang paling sulit menghentikan korupsinya karena cost politiik yang tinggi. Desentralisasi politik membuat negara ini menjadi federal yang memproduksi raja-raja kecil yang mana di sana banyak sekali koruspsi dan pembangunan yang tak merata. Tak hanya politik, desakralisasi agama kian nyata karena adanya sekulerisasi. Degradasi moral ketimuran mulai hancur karena adanya leberalisasi akhlak, begitupun sendi ekonomi harus mengikuti cara mereka, kapitalisme, dimana yang kaya makin kaya dan semua harus dikontrol oleh mekanisme pasar.

(2) Alasan ideologi ekonomis. Tentu saja, tujuan menguasai dunia adalah untuk menguasai sumber daya. Sumber daya inilah yang dijadikan tujuan untuk memperkaya atau menolong negara yang kehabisan sumber dayanya untuk hidup. Ketika revolusi industri membutuhkan bahan bakar fosil sebagai bahan baku utama dalam produksi, maka penjajahan dimulai, karena mereka tak memiliki bahan itu. Minyak bumi dan gas yang disebut emas hitam diperebutkan dan itulah alasan kenapa mereka memperebutkan negara timur tengah. Islam yang menjadi ideologi mereka, harus direproduksi sehingga menjadi ideologi yang usang dan pantas diabaikan. Maka, tidak sedikit dari negara timur tengah telah mengalami desakralisasi Islam sebagai ideologi utama dan pertama. Alasan ekonomi inilah yang membuat kata “terror” bisa melemahkan negara yang kaya.

(3) Alasan kontinyuitas ideologi. Sebuah ideologi itu abstrak. Hidupnya bisa lama bisa juga sebentar, sesuai dengan konsep ideologi itu. Semakin ideologi itu kuat, maka semakin lama pula hidupnya, atau sebaliknya semakin lama hidup ideologinya, kuat pula ia menjadi sebuah ideologi. Agar ideloginya lama bertahan dan berpengaruh secara global, maka ideologi Sepilis direproduksi dengan tujuan agar mampu berpengaruh secara mendunia. Tujuan akhirnya adalah agar ideologi ini  menjadi warisan dunia dan dikenang siapa pencetus utamanya.

Cara untuk memperpanjang usia ideologi adalah dengan mengalahkan ideologi yang ada sebelumnya dengan cara apapun. Ideologi komunis-sosialis adalah korban ideologi Sepilis dan Islam hari ini sedang dalam proses “kekalahan”. Cara yang paling utama adalah dengan mengalahkan Islam melalui stigma negative yang salah satunya adalah dengan istilah terorisme.

Dibangunnya ISIS dan Al Qaeda oleh Amerika adalah sebagai cara licik untuk menghancurkan Islam. Logika terbalik yang dibuat oleh Amerika dapat menyembunyikan peranan mereka dalam menggusur Islam pada kondisi dimana semua kekejaman, kekerasan dan terror ditujukan kepada Islam. Walaupun awalnya Al Qaeda adalah ditujukan untuk mengalahkan pengaruh Komunis Soviet di Timur tengah, tapi tetap saja tujuan keduanya adalah menghancurkan stigma positif Islam. jadi mereka berhasil mengalahkan dua ideologi sekaligus melalui satu alat saja.

Alasan Kedua: Alasan Internal

Konspirasi global melalui Al Qaeda dan ISIS ternyata berpengaruh besar terhadap kondisi regional dan nasional. Jejaring kelompok terorisme yang dibuat oleh Ideologi Sepilis berdampak kepada pemahaman sepihak tentang Islam itu sendiri. Sehingga, dalam konteks regional, nasional dan lokal, jaringan terorisme memiliki pemahaman yang unik tentang relasinya dengan konspirasi global. Mereka mengatasnamakan organisasi global, tapi pemahaman mereka sangat lokal dan cenderung picik.

Ada beberapa alasan internal yang bisa jadi pemicu Islam jadi tertuduh terorisme (dalam konteks Indonesia). (1) alasan konten ideologi Islam. Islam sebagai agama yang “lahir” (lahir secara lembaga, bukan lahir sebagai ideologi) pada masa jahiliah tentu saja berhadapan dengan penentangnya. Maka dalam Islam mengandung ajaran-ajaran perang (jinayah-siyasah) sebagai upaya kemenangan agama (futuh). Hal ini normal, karena sebuah ideologi tidak bisa lepas dari sejarahnya. Dalam Islam, istilah ini populer dengan “Jihad”.

Jihad sebenarnya memiliki akar yang jauh dengan terror, tapi Barat menuduh ajaran Islam dengan Jihad sebagai akar dari terorisme. Hal ini bisa dibenarkan karena dalam kelompok Islam ada yang bernama khawarij dan derivasinya. Sejak Nabi Muhammad wafat, kelompok politis yang ingin berkuasa atas nama agama (teokrasi) menggunakan segala cara untuk memenagkan kekuasaan. Hal inilah yang tidak dipisahkan dari sejarah Islam. hingga muncullah kelompok jihad yang dalam konteks Barat disebutnya kelompk teroris. Cucu cicit kelompok inilah yang digunakan oleh Barat untuk menyerang Soviet termasuk Islam itu sendiri.

(2) Alasan lemahnya pengetahuan agama. Kelompok santri yang ada di Indonesia tidak peduli dengan sistem tata negara, mereka hanya membutuhkan negara yang aman, damai dan sejahtera terlepas dari konsep negara seperti apa yang diterapkan. Mereka substansialis, yang dibutuhkan praktik Islam tumbuh subur tanpa ada kekangan negara. Dan itu sudah berjalan di Indonesia. Namun, bagi kelompok yang memahami Islam belakangan (terutama Islam yang baru mereka pahami ketika dewasa saja) memahami Islam berbeda. Mereka membutuhkan pengakuan tata negara Islam atas sistem kenegaraan. Mereka saya sebut kelompok Islam strukturalis. Tentu saja mereka akan ditolak.

Penolakan inilah yang membuat kelompok Islam strukturalis marah dan mencoba dengan segala cara untuk merubah sistem kenegaraan dengan “syariat” Islam. Cara-cara yang mereka lakukan dengan menggunakan pergerakan Semisal HT*, atau menggunakan jaringan transnasional Semisal JI, J*T, J*D dan seterusnya. Mereka membutuhkan pengakuan syariat Islam sebagai landasan bernegara, bukan hanya sekedar aman, nyaman dan damai dalam melaksanakan praktik ibadah Islam. Cara yang efektif bagi mereka adalah dengan mengganggu sistem tata negara ini, dimana bom bunuh diri adalah sebuah cara instan di samping memperjuangkan melalui konstitusi dan jalanan.

(3) Alasan ketidak adilan negara atas Islam. Sudah negara bukan berdasarkan Islam padahal mayoritas muslim, negara lebih memposisikan keberpihakannya kepada agama non-mayoritas. Maka, lahirlah yang dimaksud ketidak adilan. Contoh ketika masjid di Tolikara dibakar oleh oknum, mereka diundang ke Istana negara. Ketika masjid dibakar, tak ada satupun yang menyebut bahwa itu adalah terorisme. Sebaliknya, ketika bomb bunuh diri dilakukan di gereja, semua kebakaran jenggot, bahkan presiden pun datang secara langsung ke lokasi. Bagi publik, ini adalah ketidak adilan terhadap Islam.

Ketidak adilan pun bisa dilihat dari banyaknya kasus politik di tanah air. Kontestasi kekuasaan atas nama agama dan atas nama kesatuan bangsa diperihatkan oleh elit. Negara yang sedang berkuasa melihat agama adalah salah satu penyebab kegagalan negara, sehingga massa 212, 414 bergerak untuk meminta keadilan. Beberapa ketidak sukaan atas Islam ditunjukan secara vulgar di media mainstream, sehingga muslim marah atasnya. Lantas, inilah yang bagi sebagian muslim menyulut untuk melakukan makar. Dan makar inilah yang disebut terorisme Islam. Apakah mereka salah? Dengan ini pula banyak analis (amatiran) muslim yang mengatakan semua terror yang ada di bumi nusantara adalah akibat dari keberpihakan penguasa kepada non-Islam. Apakah inipun salah? Faktor utamanya adalah keadilan, walaupun saya yakin ada alasan logis-historis untuk perlakuan ini.{}

Sahur kedua 1439

Bumimertua, Kuningan. 18/5/18

Satu Komentar

  1. mantap pak #gerakanGantiImamBesar pokoknya mah supaya indonesia aman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *