Beranda / Uncategorized / 2 Cerita Tentang Bahaya China

2 Cerita Tentang Bahaya China

Cerita 1

*KISAH NYATA ARTIS INDONESIA YG STUDI DI TURKI*

*By: _Neno Warisman_.*

*DULU MEREKA TUKANG SAPU, SEKARANG KAMI YANG MEREKA SAPU*

Aku berdiri di depan asrama berharap ada yang berbaik hati memberikan tumpangan gratis ke kampus. Alhamdulillah Allah kabulkan. Sebuah mobil yang aku tak ingat apa mereknya, yang ku tahu mobil itu masih baru dan berbentuk mirip seperti Honda CRV, berhenti di hadapanku.

“Mau kemana? Ayo ikut.” Ajaknya ramah, dengan Bahasa Arab.
“Mau ke Jamiah?.” Tanya ku balik.
“Iya, ayo! Naik cepat.”
Aku langsung naik. Aku duduk disisi kanannya. Dia mulai menginjak pedal, lalu mobil pun melaju.
“Apa kabar akhi? Sehat?” Tanya pria berwajah Turki itu.
“Alhamdulillah sehat. Anta apa kabar?”
“Sehat alhamdulillah, ohya dari Indonesia atau Malaysia?”.

Mobil mulai memasuki jalan raya. Kaca mobil sedikit terbuka. Angin musim dingin masuk menyentuh wajah. Hari ini tidak terlalu dingin, sekitar 20°C. Sepertinya musim dingin sudah hampir selesai.

“Dari Indonesia. Anta dari mana?”
“Ana dari Turkistan, tau Turkistan? Turkistan itu dibawah China.” Jelasnya.
“Ooh iya. Masih Asia berarti ya. Gimana kehidupan di Turkistan?” Tanyaku.
“Akhi, kehidupan kami jadi begitu porak-poranda semenjak China masuk ke negara kami. Sekarang saja passport ana tertulis China.”
“Apa?? Kok bisa? Bukannya Turkistan negara sendiri?? Kok
bisa pasportnya China?” Tanyaku heran.

Dia menarik nafas panjang seakan ada beban berat yang dia pikul.
“Ana sudah 9 tahun tidak pulang ke Turkistan.” Keluhnya.
“Loh?? Kok bisa??”
“Begini akhi, sekitar 60 tahun yang lalu, mereka orang-orang China datang baik-baik ke negara kami, bekerja, melancong, dll. Dengan berjalannya waktu, pemerintahan kami lalai dan menganggap keberadaan mereka biasa saja. Padahal pergerakan mereka massif, diam tapi pasti, targetnya panjang. Lalu jumlah mereka semakin banyak, banyak yang sudah mengambil warga negara Turkistan. Pemerintahan kami tetap tidak sadar. Dan akhirnya mereka (China) melakukan kudeta. Presiden kami mereka bunuh. Pemerintahan jatuh ke tangan mereka.

Pada saat kudeta itu, ratusan ribu pribumi pindah ke bermacam negara lain. Karena kekejaman kekuasaan China. *Dulu MEREKA HANYALAH TUKANG SAPU, SEKARANG KAMI YANG MEREKA SAPU*.” Jelasnya panjang.
“Lalu bagaimana kehidupan disana?” Tanyaku balik.

“Disana semuanya serba ketat akhi. Kenapa ana sudah 9 tahun tidak balik ke Turkistan?! Karena mereka melarang siapapun pergi belajar ke negara Islam. Ketika pembuatan pasport mereka mensyaratkan tidak boleh pergi ke Negara Islam, seperti Saudi dan Turki. Akhirnya ana bilang bahwa ana mau kuliah ke Jepang, dari Jepang ana ke Saudi. Mereka berikan izin. Nah, jika kembali ke Turkistan, lalu mereka lihat di passport tertulis negara Islam. Ana akan dipenjara kurang lebih 10 tahun. Dan di Turkistan sekarang ini, setiap hari orang-orang China berdatangan ke Turkistan, ribuan orang. Mereka diberikan tempat tinggal, diberi pekerjaan dan fasilitas. Sedangkan orang orang pribumi, dikekang bahkan diusir.” Terangnya dengan raut muka yang begitu sedih.

Mobil kami masih melaju di jalan raya, dengan kecepatan 90-100 km/jam. Sudah setengah jarak yang kami lewati untuk sampai ke kampus.
“Jadi gimana kehidupan muslim disana?” Tanyaku penasaran.

*”Sholat dilarang, adzan dilarang. Jilbab kalau warna hitam akan dirobek ditempat. Jenggot dilarang. Setiap beberapa meter ada pemeriksaan. Handphone diperiksa, jika ada tulisan Allah atau ayat Quran maka bisa ditangkap dan dipenjara. Tidak boleh mengucapkan kata jihad. Kalau bertamu harus melapor dulu. Kalau tidak melapor tuan rumah bisa dipenjara 10 tahun. Beli pisau agak besar dilarang.”* Sesalnya.

Sepertinya banyak hal yang susah dia ungkapkan. “Selama 9 tahun kalau liburan ana pergi ke Turki, istri orang Turki.” Lanjutnya.
Aku bisa bayangkan bagaiman kehidupan mereka. Berat, terkekang, terjajah.

“Yaa Allah! Jaga negaraku tercinta. Jaga Indonesia. Dan biladal muslimin.” Doaku dalam hati.
“Sekarang di Indonesia, mereka (China), semakin banyak saat ini. Masuk di perekonomian. Bahkan sudah masuk pemerintahan.” Curhatku, aku mulai khawatir dengan keadaan negaraku saat ini. Mobil kami sudah hampir tiba di kampus.

*”Wah.. akhi! Jangan sampai kalian tertidur atau lalai sedikitpun. Jangan sampai pemerintah kalian menganggap enteng hal ini. Keberadaan mereka merusak sekali. Mereka seperti tak punya perikemanusiaan. Egois..!!!”* Tegasnya. Mobil kami tiba di kampus. Dan akhirnya aku mengucapkan terima kasih atas tumpangannya. Sebelum turun dia bertanya.
“Akhi! Mau jadi orang kaya?” Senyum merekah di wajahnya.

“Semua kita mau kaya.” Jawabku.
“Kalau begitu, jual kucing-kucing yang ada di negaramu ke Turkistan. Sebab kucing kucing di sana harganya sangat mahal. Karena jumlahnya sudah sangat sangat sedikit. Sudah habis dimakan orang China kafir.”

*Na’udzubillah….*
*tsumma* *na’udzubillah…*

Semoga bermanfaat.

 

Cerita 2

PolitikPerang Asimetris, Siasat China kuasai Indonesia, Ada di Era Jokowi

Mungkin kita bertanya-tanya kenapa infrastruktur indonesia di era Jokowi china semua yang bangun? atau kok pemerintah kita minjam uang ke china? trus pake syarat lagi pekerja nya harus orang negara mereka.

saya akan sedikit memberi ulasan, dan saya tidak ada maksut rasis ataupun sara. yang di lakukan China terhadap Indonesia sekarang biasa di sebut Perang Asimetris, dan mungkin ini lah siasat China untuk menguasai indonesia seperti apa yang dilakukannya pada Tibet Dahulu.

Perang Asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara non militer, tetapi memiliki daya hancur tidak kalah hebat bahkan dampaknya lebih dahsyat dari perang militer.

Sasaran Perang Asimetris :Membelokkan sistem sebuah negara sesuai arah kepentingan kolonialisme/kapitalisme.Melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyat.Menghancurkan food security (ketahanan pangan) dan energy security (jaminan pasokan dan ketahanan energi) sebuah bangsa, selanjutnya menciptakan ketergantungan negara target terhadap negara lain dalam hal “food and energy security”.

Bentuk “Perang Asimetris” diantaranya melalui “mengubah kebijakan negara sasaran” dengan ciri non kekerasan. Pertanyaannya kini, “Bagaimana modus Perang Asimetris yang sering dilakukan oleh Cina?”

Sejak reformasinya, Cina mengalami masa transformasi dan konvergensi ke arah kapitalisme yang melahirkan One Country and Two System, yakni sistem negara dengan elaborasi ideologi sosialis/kamunis dan kapitalis.

Dengan kata lain, model perekonomian boleh saja bebas sebagaimana kapitalisme berpola mengurai pasar, namun secara politis tetap dalam kontrol negara cq Partai Komunis Cina.

Artinya, para pengusaha boleh di depan membuka ladang-ladang usaha di luar negeri, tetapi ada back up militer (negara) di belakangnya. Itulah titik poin konsepsi One Country and Two System yang kini tengah dijalankan oleh Cina di berbagai belahan dunia.

Ciri lain Cina dalam menerapkan reformasi politiknya, jika kedalam gunakan ‘pendekatan naga’ terhadap rakyatnya, sangat keras, tegas, bahkan tanpa kompromi demi stabilitas di internal negeri. Sebaliknya ketika Cina melangkahkan kaki keluar, tata cara diubah menerapkan ‘pendekatan panda’ (simpatik), dalam bentuk.

Menebar investasi atau “bantuan dan hibah” dalam ujud pembangunan gedung-gedung, infrastruktur dan lainnya, sudah barang tentu dengan persyaratan “tersirat” nya yang mengikat. Pendekatan panda  merupakan ruh atau jiwa pada model “perang asimetris” yang sering dikerjakan oleh Cina.

Turnkey Project Management, adalah sebuah model “investasi asing” yang ditawarkan dan disyaratkan oleh Cina kepada negara peminta dengan “sistem satu paket,” artinya: Mulai dari top management, pendanaan, materiil dan mesin, tenaga ahli, bahkan metode dan tenaga (kuli) kasarnya di dropping dari Cina.

Modus Turnkey Project ini relatif sukses dijalankan di Afrika sehingga warganya migrasi besar-besaran bahkan tak sedikit yang menikah dengan penduduk lokal. Mereka menganggap Afrika kini sebagai tanah airnya kedua.

Beberapa investasi Cina di Indonesia, sebenarnya telah menerapkan modus ini. Memang bukan barang baru, karena sejak dulu sudah berjalan antara lain.

Beberapa Investasi China di Indonesia antara lain :Sinar Mas (Indah Kiat) ketika membangun pabrik pulp dan paper.Pembangunan pembangkit tenaga listrik di Purwakarta, hampir semua tenaga kerja mulai dari direksi hingga kuli bangunan didatangkan dari negeri Cina. Pembangunan Lippo Karawachi dekade 1990-an dikerjakan oleh para pekerja Cina, termasuk di Muara Jawa, Kutai Kertanegara, dan lainnya.

Demikian juga yang akan terjadi di Medan, Cina membawa sekitar 50.000 orang tenaga kerjanya dari Cina.

Bila investasinya di Medan saja mendatangkan sekitar 50.000-an orang, lalu berapa warga lagi bakal migrasi melalui investasi Cina pada 24 pelabuhan laut, 14 pelabuhan udara dan sekitar 8000-an KM jalur Kereta Api di Indonesia, selain rencana mempererat hubungan bilateral Cina – Indonesia menargetkan pertukaran sepuluh juta warganya dalam berbagai bidang pada dekade 2020 an nanti?

Rencana tersebut tentu berpeluang menimbulkan persaingan budaya antara warga Cina dengan pribumi. Bisa terjadi pertarungan untuk mempertahankan siapa lebih dominan, mengingat jumlah 10 juta jiwa itu bukan sedikit.

Bila dikaitkan dengan pemahaman “Perang Asimetris” dan kebijakan “One County and Two System” nya, maka “Turnkey Projek Manajement“, pada hakekatnya merupakan “Perang Asimetris” sebagai strategi Cina untuk menguasai Indonesia secara non militer.

Secara perlahan memasukkan warganya ke Indonesia, kemudian mendesak keluar warga pribumi Indonesia pada peran di sektor-sektor strategis di Indonesia diganti warga Cina, hingga akhirnya, pemilik Indonesia bukanlah orang-orang keturunan nusantara, tetapi orang-orang Cina.

Pertanyaan sederhana: Apakah Jokowi dan Pemerintah tidak mengetahui Skenario ini sebagai Ancaman Negara atau justru merupakan bagian dari Skenario ini? Jawabannya adalah:

Let them think, let them decide (biarlah rakyat berfikir dan biarkan rakyat memutuskan) dalam menilainya sebagai “pemilik kedaulatan” dan “pemberi “mandat”.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *