Beranda / Uncategorized / Ada Apa dengan Pola Pendidikan Metro TV?

Ada Apa dengan Pola Pendidikan Metro TV?

Sebagai lelaki, kecenderungan senang saya terhadap berita dan olahraga lebih baik dari istri dan anak-anak saya. Mungkin situasinya sama dengan Anda. Bagi saya tivi adalah salah satu jalan masuk mengikuti perkembangan mutakhir dari sebuah fenomena disamping berita di internet. Metro TV adalah salah satu channel tivi favorit saya ketika melihat tvOne sudah mulai bergeser dari pasarnya.

Saya akui, Metro TV adalah tivi yang paling konsisten untuk mendidik bangsa ini. Dengan istilah-istilah Bahasa Inggris “rasa kota” dan Bahasa-bahasa yang mengagumkan ala “kaum terdidik”, maka saya meyakini, Ia memiliki pola pendidikan yang dahsyat bagi bangsa. Ini membuat saya bangga menjadi penonton setianya dan tak tahu harus bilang terima kasih kemana atas upayanya selama ini.

Acara favorit saya dulu adalah Mario Teguh Golden Ways. Dengannya, saya tega merebut remot tivi untuk hanya sekedar nongkrong 90 menit bersama Mario. Saya melihat ada yang aneh dalam berhentinya acara ini, terutama ketika Mario berubah dari motivator gaya bebas ke motivator dengan Agama sebagai pesan-pesannya. Saya tidak tahu, benar tidaknya. Mudah-mudahan kasus yang menjeratnya segera tuntas. I love you, Mario.

Kick Andy adalah acara kedua yang membuat saya terinspirasi dan bahkan terhibur. Acara ini menyadarkan saya bahwa untuk menjadi hero, tidak harus melakukan hal besar, namun mengabdi dengan tulus, ikhlas dan konsisten. Acara ini luar biasa mendidik kita untuk menjadi seseorang pengabdi kepada masyarakat, seorang yang pembakti kepada bangsa dan seorang kholifah fil ardi.

Namun di acara favorit ke tiga, saya harus akui bahwa banyak hal yang tidak sejalan dan menurut saya berlebihan ketika berbicara keberpihakan politik. Ya, ia adalah acara berita, baik yang regular maupun yang insidental. Bagi saya, banyak keberpihakan yang tidak pantas untuk dibahas di ruang publik dimana semua mata bisa memandangnya. Keberpihakan inilah yang menjadi penyebab saya untuk menulis tentang tivi bagus di negeri ini, Metro TV. Tentu saja saya harus memandang dari sudut saya, sudut pendidikan.

Untuk urusan yang hebat dan menghebatkannya, saya sudah angkat topi untuk Metro. Banyak acara informatif yang bisa saya ikuti, walau saya melihat tvOne memilki tujuan yang sama. TvOne, menurut saya, lebih Indonesia, lebih membumi, lebih pribumi dan lebih populis. Ia melihat kecenderungan mayoritas pasar dan kadang tidak terlalu memaksakan kehendak, hal ini agak berbeda dengan Metro TV. Program Indonesia lawyer Club adalah acara paling saya tunggu, walaupun baru-baru ini saya kecewa dengan tvOne atas ketidak konsistenan menjadi tv berita dan olahraga.

Baiklah, terlepas dari baiknya Metro TV, saya harus analisis keburukan dan saya harus berupaya mencari alasan tepat serta merasionalkannya dengan logika yang saya miliki. Pertanyaan mendasarnya adalah; Ada apa dengan pola pendidikan Metro TV?

(1) pola pendidikan Metro TV adalah pola pendidikan global. Dengan tagline “knowledge to elevate” pengetahuan untuk mengagungkan, saya meyakini bahwa tujuan utamanya adalah mendidik bangsa. Ketika saya sandingkan dengan tv lain, baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis tapi dengan segmen yang sama (baca: berita), maka saya melihat ada perbedaan mencolok di dalamnya. Bahasa yang digunakan menggunakan Bahasa global, dan terkesan disampaikan kepada orang terdidik. Ingat, mayoritas penonton tivi itu orang yang pendidikannya kurang. Maka tidak heran bila rating RCTI dengan “dunia terbalik”nya lebih bagus ratingnya ketimbang acara berita.

(2) pola manajemen Metro itu modern tapi berpihak. Informasi yang saya terima dari berbagai berita negatif tentang Metro adalah bahwa pemilik Metro adalah konglomerat negeri ini, James Riyadi. Mereka bilang bahwa Surya Paloh sebagai pemilik adalah hanya proxy saja. Surya Paloh yang Aceh dan muslim dapat menjadi interpretasi dari mayoritas negeri ini. Mudah-mudahan informasi ini salah.

Kalau benar, maka saya harus akui bahwa benar cerita mantan wartawan senior Metro yang mengatakan bahwa top manajer Metro itu harus non-Islam, jika pun ada itu bukan muslim yang berpihak kepada agamanya. Mayoritas top manajer adalah non-muslim, dan mereka militan. Dampaknya adalah bahwa berita yang berkaitan dengan keislaman selalu ditolak dan diganti dengan berita lain. Adzan pun ditiadakan diganti dengan iklan, dan yang paling penting adalah simbol-simbol muslim ditiadakan. Mereka hanya berseloroh, “dunia muslim hanya satu bulan, bulan Ramadhan saja”

Terlepas dari benar tidaknya berita negatif itu, saya sedikit percaya bahwa atas nama pemilik modal dan keberpihakan SARA, manajemen Metro sepertinya didesain demikian dan secara mutlak dapat mengatur isi, acara, tendensi berita, dan bahkan simbol-simbol yang menyertainya. Kalau itu benar, maka viral berita Islami untuk menghapus channel TV bernama Metro itu rasional juga. Mereka menganggap bahwa Metro tidak berpihak pada Islam.

(3) pola isi pendidikan Metro itu sekuler. Dampak dari manajemen yang “kurang-pribumi”, pemodal yang “non-pribumi”, maka isi dari Metro saya pandang sekuler. Negara didudukan jauh dari wilayah agama. Jika ada berita berbau relasi negara-agama (baca: Islam), maka akan digoreng untuk membangun persepsi Islam yang negatif. Bagaimana upaya kritis Metro atas Aksi Bela Islam yang dinilainya kurang bijak dan membahayakan kebhinekaan, berbeda dengan tanggapan aksi kebhinekaan yang dinilainya tepat. Menurut pandangan saya, Metro memiliki pandangan sekuler dalam mengisi ruang publik dalam mendidik masyarakat. Pendeknya mereka bilang, “simpan agama dihatimu saja. Ini negara pancasila, ini negara bhineka, ini bukan negara agama.”

Sekularisasi ala Metro bisa berdampak signifikan terhadap pola pemirsanya. Secara bertahap namun pasti, persepsi Metro dibangun atas kepentingan keberpihakannya. Kita tahu bahwa pelanggan Metro adalah kaum terdidik, mayoritas lelaki, daya kritisnya baik dan membutuhkan nutrisi berita yang lebih analitis. Dengan bangunan persepsi isi pendidikan ala metro, para penonton sedikit demi sedikit akan mengikuti alur pikir editorialnya. Bila pun itu tidak populis, maka kemasan bangunan persepsinya dibentuk rasional dan seperti laten, ada namun tidak terlihat.

Isi pendidikan yang menurut saya lebih menyesatkan adalah keberpihakan terhadap politik. Setelah Nasional Demokrat (NasDem) tidak berhasil memegang janjinya untuk tidak jadi partai, partai ini menggandeng Hari Tanoe sebagai penyandang dana partai. Setiap organ partai bisa berenergi dengan dana melimpah. “Pemilik” metro pun mentake over ketua umum. Namun sayang, sepertinya ada kontestasi media antara Hari Tanoe (HT) dan Surya Paloh (SP), Metro vs MNC Group sehingga HT harus mendirikan partai baru dengan model bangunan sama dengan Nasdem.

Inilah inti yang saya mau kritisi. Metro dengan NasDemnya telah menggiring pendidikan politik massa pemirsanya untuk membesarkannya. Lihatlah setiap fenomena di negeri ini, Metro selalu meliput apa yang dilakukan SP, walaupun kapasitas beliau dipertanyakan. Kemenangan penguasa rejim kali ini bisa jadi atas jasa besar dari Metro. Saya masih ingat bagaimana Metro membabi buta untuk mendukung Jokowi-JK dalam pilpres 2014. Mereka berupaya untuk meggosok otak massa melalui “pendidikan” berita dan talk show agar memilih sama dengan pilihannya. Pantas saja, bila Jaksa Agung adalah kue manis sebagai hadiahnya.

Saya tidak mempermasalahkan keberpihakan Metro yang begitu besar terhadap pilihan politiknya. Yang saya permasalahan adalah pengambilan ruang publik yang tidak etis. Metro dengan segala sumber daya nya mengambil ruang publik untuk membangun kepentingannya. Kita penonton tidak bisa menolak untuk menggagalkan acaranya. Kita dijejali pendidikan yang tidak mendidik atas keberpihakan. Dengan beritanya, agama terpinggirkan dan terdegradasi, massa jadi terkotak-kotak dan melawan, isu berkeliaran dengan bebas dan liar, dan yang terpenting adalah kentaranya keberpihakan massa satu dengan massa lainnya sehingga muncul permusuhan yang massif.

(4) kontrol pendidikan Metro tidak evaluatif. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menurut saya tidak memiliki keberanian besar untuk mengkritisi keberpihakan Metro yang jelas-jelas terlihat. Ini berbeda dengan “membredeli” ILC tvOne sebagai katalisator aksi bela Islam. Ini berbeda dengan peringatan KPI untuk ustad Kemed “dunia terbalik” yang berdoa dengan tablet. Fungsi evaluatif KPI sepertinya tidak berlaku untuk Metro. Saya tidak hanya melihat KPI yang tidak sensitif, tetapi bisa jadi Metro yang hebat mengemas acara sehingga kepentingannya disesuaikan dengan Undang-undang penyiaran. Maklum mereka sangat hebat dalam urusan ini.

Tulisan ini mewakili kaum muslim yang merasa canggung dengan kehadiran Metro yang telah berpihak. Ruang publik yang direbut dari kami perlu kami kritisi agar menjadi lebih baik. Kami paham bahwa komponen bangsa harus saling memajukan satu sama lain, bukan memundurkan. Kami juga tahu pola pendidikan Metro sangat baik dan membaikan bagi negeri. Tapi tolong, untuk urusan Isi, berilah kami ruang untuk bangga kepada mu, Metro. Berikan kami (baca: Islam) kesempatan untuk dipuji tidak dimaki. Beri kami peluang untuk menunjukan kepada dunia bahwa Islam Indonesia adalah Islam Damai, bukan sebaliknya. Ya Islam Rahmatan lil Alamin.

Untuk Metro, bila analisa saya salah, saya mohon maaf. Tidak ada tujuan lain selain saya sebagai kontrol sosial. Bila analisis saya benar adanya, tolong dengarkan paragraf terakhir saya di atas. Semoga Metro tetap jaya, dengan sedikit merubah arah keberpihakannya. Ya berpihak pada pribumi kebanyakan. Bukan pada Xin Wen yang hebat itu.{}

Tidak ada media tanpa kepentingan, terutama kepentingan pemilik modalnya.

Bumisyafikri, 14/5/17

3 Komentar

  1. Mewakili pisan tulisannya pa haji, dalam bisnis tidak ada makan siang gratis. *Jaksa Agung Kueh Manis

    Mgkn sebentar lagi TV ini akan #menggoreng RK sbg “Golden Boy” Nasdem di Pilgub Jabar. #konspirasiglobal

  2. Fahmi Muhammad Fauzi

    Sangat mewakili sekali unek-unek saya pak . . .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *