Beranda / Uncategorized / Ada Apa dengan Tarekat Suryalaya?

Ada Apa dengan Tarekat Suryalaya?

suryalaya

Oleh: Zaki Mubarak

TASIKMALAYA dalam pandangan saya terbagi menjadi tiga pesantren besar yaitu Pesantren Suryalaya di sebelah utara, Pesantren Manonjaya di sebelah Timur dan Pesantren Cipasung di sebelah Selatan-Barat. Ketiganya memiliki karakteristik masing-masing, yang satu berhaluan Tarekat, yang satu corenya tauhid, dan satunya lagi fokus pada Fikih-balaghoh dan kitab-kitab kuning (turats). Pesantren yang paling depan dalam hal tarekat adalah Pesantren Suryalaya atau bernama Latifah Mubarokiah. Pesantren inilah yang menjadi pusat Tarekat Qodiriah Naqsabandiyah (TQN) internasional.

Setelah mursyid TQN ke 37, Pangersa Syekh KH. Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom), wafat September 2011 maka ada kesimpang siuran kepemimpinan TQN. Hal yang lebih “menarik” (dari kajian penelitian) dari kondisi ini adalah adanya tarik ulur estafet kepemimpinan TQN yang bagi sebagian masyarakat pengikutnya membungungkan. Abah Aos dengan dukungan murid-muridnya yang telah mendeklarasikan mursyid TQN ke-38 telah memantik perselisihan pendapat terkait estafet TQN antara keluarga besar Pesantren Suryalaya (PPS) dengan pengikut Abah Aos yang bernaung di Pesantren Sirnarasa Cisirri, Panjalu.

Nah, Tulisan ini akan mencoba menggali benang merah perselisihan ini dalam tubuh TQN Suryalaya. Saya akui saya bukanlah orang pengikut TQN secara langsung berguru kepada Abah Anom maupun Abah Aos (KH. Abdul Ghaos) sehingga pandangan saya sangat objektif sebagai orang luar. Saya pun tidak menguasai keilmuan tarekat yang mumpuni walaupun beberapa tahun mengkaji kitab-kitab torekat dan mengamalknannya di pesantren. Ada hal-hal yang mungkin saya tidak paham dari sisi norma-adat yang mungkin tidak seharusnya saya sebutkan karena ketidak tahuan saya. Pisau analisis saya hanya menggunakan ilmu Islam secara umum (mainstream) yang saya ketahui dengan diintegrasikan melalui teori sosial yang berkembang di dunia antropologi.

Saya juga harus mencoba mengungkapkan tujuan tulisan ini. Tidak ada terbersit sedikitpun tulisan ini untuk menyebarluaskan perselisihan dalam tubuh TQN. Ini hanya sebagai tanggung jawab akademis saya dalam khasanah keislaman.

Seorang kawan bertanya kepada saya terkait keanehan-keanehan yang terjadi di TQN Suryalaya. Ketika beliau memperlihatkan capture-capture postingan Facebook, saya juga merasa heran dan aneh sebegitu kultusnya Abah Aos di mata pengikutnya. Saya merasa ada yang aneh dengan fenomena ini sehingga saya harus menelusuri dan menuliskan hasil penelusurannya. Ada kemungkinan salah dalam menginterpretasikan data yang saya peroleh dari internet dan postingan-postingan pengikut Abah Aos, dan itu pasti terjadi. Saya berupaya menjelaskan seobjektif mungkin agar tidak terjadi kebingungan sistemik atas “kisruh” yang terjadi di TQN Suryalaya.

TQN: Sebuah Pengantar

Tarekat atau “thariqah” adalah salah satu cabang dari tiga muara besar dalam Islam; Syariat, tharikat, dan makrifat. Tarekat dari sudut makna literal berarti “jalan” dari syariat menuju makrifat. Guru di dalam tarekat adalah mursyid dan perjalanan spiritual tarekat si sebut suluk sehingga muridnya disebut salik. Istilah-istilah ini tidak baku karena setiap tarekat memiliki istilah-istilahnya sendiri.

TQN adalah kependekan dari Tarekat Qodiriah Naqsabandiyah. Torekat ini adalah perpaduan dari dua tarekat besar di dunia yaitu Torekat Qodiriyah dengan tokoh syekh Abdul Qodir Jailani, dan Torekat Naqsabandiah. TQN didirikan oleh Sufi Syeikh besar Mesjid Al Haram di Mekah bernama Syeikh Ahmad Khatib Ibn Abd. Ghaffar Al Sambasi Al Jawi (wafat 1878). Beliau adalah Sufi berasal dari Indonesia yang sampai akhir hayatnya tinggal di Mekah. Beliau juga merupakan mursyid dari Torekat Qodiriyah (TQ) dan sekaligus mursyid Torekat Naqsabandiyah (TN). Dalam sejarahnya, beliau hanya menyebutkan silsilah dari TQ tanpa menyebutkan silsilah TN.

Sebagai mursyid yang kamil mukammil Syeikh Khatib memiliki otoritas untuk mendirikan aliran tarekat baru sesuai dengan jenis dzikir dan metodenya. TQN adalah jenis baru dalam tarekat yang merupakan perpaduan dua tarekat besar yang satu sama lainnya saling melengkapi. Dalam beberapa literatur terutama dalam Kitab Fath Al Arifin, sebenarnya TQN penggabungan dari lima tarekat besar yaitu TQ, TN, Tarekat Anfasiah, Tarekat Muwafaqoh (Samaniyah) dan Tarekat Junaidiyah. Karena ketawadhuan pendirinya, TQN tidak mendeklarasikan aliran tarekatnya sesuai dengan namanya semisal Al Khatibiyah atau Al Sambasiyah namun hanya menyebutkan dua tarekat yang dominan saja.

Persamaan dari kedua tarekat ini adalah menolak wahdatul wujud dan menonjolkan sisi syariat. Perbedaannya adalah TQ lebih menggunakan metode Dzikir Jahr Nafi Isbath, sedang TN lebih kepada Dzikir Sirri Ism Dzat.  Dzikir Jahr dalam TQ adalah dzikir yang dikeraskan. Sehingga TQN memiliki metode dzikir yang dikeraskan dengan suara yang “tinggi”. Kalimat yang digunakan dalam dzikir adalah La ilaha Illallah (tahlil). Kalimat ini mengandung Nafi (pengecualian) yaitu la ilaha dan Isbath (penetepan) yaitu Illallah. Jadi kalimat ini didzikirkan dengan keras sehingga sampai kepada derajat tertentu dengan metode khas.

Dzikir ala TN adalah Dzikir Sirri Ismu Dzat yaitu dzikir dengan sirr (tidak keras, tidak bersuara). Dzikir ini berisi ismu dzat yaitu Allah. Penggabungan TQ dan TN menjadi TQN menjadikan tarekat ini lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuannya (mendekatkan diri kepada Allah, makrifatulloh). Satu sisi diujarkan secara keras dengan mengucapkan tahlil, di sisi lain lembut dengan mengucapkan Allah di dalam hatinya. Integrasi keduanya adalah identitas paling menonjol dari TQN dengan empat ajaran pokok: kesempurnaan suluk, adab (etika), dzikir dan muroqobah.

TQN Suryalaya: Pusat Pendidikan Tasawuf dan Bai’at

Sejarah TQN sampai ke Tasikmalaya dengan segala dinamikanya harus dijelaskan dalam tulisan lain. Yang paling pokok dalam tulisan ini adalah bahwa Abah Anom merupakan mursyid ke 37 TQN secara internasional. Sehingga wakil-wakil talqin seluruh dunia terutama di Asia Tenggara berpusat di Tasikmalaya. Abah Anom adalah keturunan Abah Sepuh yang merupakan mursyid ke 36, dan memiliki pesantren dengan nama Latifah Mubarokiah. Namun, karena di Tasikmalaya lebih mudah mengidentifikasi pesantren dengan nama daerah pesantren itu berdiri, maka nama Pesantren Suryalaya lebih termashur dibanding dengan nama Arabnya. Ini juga berlaku untuk Manonjaya dan Cipasung serta ratusan pesantren yang ada di Tasikmalaya.

Pesantren ini berkembang sesuai dengan zamannya. Saat ini, pesantren ini memiliki lembaga pendidikan dari dasar sampai perguruan tinggi. Ada dua perguruan tinggi yang besar yaitu IAILM dan STIE Latifah Mubarokiah. Kedua perguruan ini berkembang di bawah yayasan Pesantren Suryalaya. Ketika saya berkunjung kepada Kemenag Pusat, saat itu saya dikabari oleh seorang pejabat di sana bahwa IAILM akan membuka program Pascasarjana Prodi Ilmu Tasawuf. Saya tidak tahu keberlanjutannya. Namun, yang pasti keilmuan Tasawuf di Suryalaya menjadi core untuk keilmuan lainnya.

Sepertinya Abah Anom dengan segala kehebatannya (karomah) telah mendesain pengembangan Suryalaya menjadi pusat pendidikan sekaligus pusat TQN yang masyhur. Dihikayatkan beberapa tokoh dalam negeri dan luar datang untuk berbaiat kepadanya. Semisal Buya Hamka telah datang dan berbaiat kepadanya untuk diakui sebagai murid. Orang yang saya kenal adalah Prof Ahmad Tafsir dan Prof Juhaya adalah dua orang yang telah berbaiat kepadanya. Padahal kedua orang ini sangat pintar (karena saya adalah murid beliau) dari sisi intelektual dan emosional, namun kehebatan Abah Anom mampu “menjinakan” mereka berdua. Sampai prof Juhaya tidur di Makam Abah Sepuh di Suryalaya.

Jadi, dibawah komando Abah Anom Pesantren Suryalaya menjadi sebuah institusi yang mashur dengan mengintegrasikan pendidikan formal dengan pesantren dengan core Tasawuf di dalamnya. Tasawuf menjadi inti dari perjuangan pesantrennya, sehingga tasawuf menjadi brand imej yang tidak terlepaskan dari pesantren ini. Tasawuf yang dimaksud adalah TQN. Dengan begitu, Suryalaya menjadi panji dan corong TQN baik dari sisi kelembagaan maupun dari kesejarahan. TQN mau tidak mau melekat dengan Suryalaya dan masalah akan muncul manakala ada klaim mengklaim TQN suryalaya berdiri di tempat yang lain dengan mengatakan mursyid bukan wakil talqin. Hal inilah yang menjadi awal kekisruhan TQN Suryalaya.

TQN: Perselisihan dan Kontestasi

Tiba saatnya saya harus menganalisis adanya perselisihan di tubuh TQN bakda wafatnya Abah Anom. Ada beberapa versi yang saya temukan dari beberapa tabayun baik melalui media sosial maupun dari portal berita. Perselisihan ini diakibatkan oleh murid paling “dekat” Abah Anom bernama KH Abdul Ghaos Saefulloh Maslul yang dikenal sekarang Abah Aos (Ajengan Gaos) pimpinan Pesantren Sirnarasa Cisirri Panjalu Ciamis mendeklarasikan pelanjut mursyiid TQN ke 38.

Sesaat Abah Anom wafat tahun 2011, maka para pengikutnya kebingungan untuk mencari figur pengganti. Maka sebagian muridnya bersepakat untuk menemui Abah Aos dan tanpa Abah Aos menyebut dirinya pelanjut mursyid tapi murid-muridnya telah menginterpretasikan bahwa Abah Aos adalah mursyid selanjutnya. Maka setelah itulah muncul “perselisisihan. Perselisihan ini muncul diakibatkan oleh:

Pertama tradisi pelimpahan kemursyidan Tarekat adalah 100 tahun. Dengan belum genapnya mursyid Abah Anom sampai 100 tahun, maka pihak yang berseberangan dengan Abah Aos memiliki pandangan berbeda. Ketika Abah Aos oleh sebagian pengikut TQN Suryalaya dilimpahkan kemursyidan TQN, maka otomatis tertolak dengan sendirinya, karena ini tradisi kemursyidan yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat tarekat. Yang mempercayai kemursyidan Abah Anom, saat ini masih berpegang teguh bahwa Abah Anom adalah mursyid mereka. Sedang yang berlawanan sudah deklarasi mursyid baru.

Kedua proses pelimpahan mursyid. Pesantren Suryalaya sebagai institusi dimana Abah sepuh dan Anom tinggal adalah identitas tak terlepaskan dari TQN. Maka ketika Abah Anom wafat semua sepakat bahwa Abah Anom adalah mursyid kamil mukammil yang tak tergantikan. Semua sepakat untuk menunggu mursyid baru sampai waktu yang tidak ditentukan. Abah Aos yang merupakan murid Abah Anom dinilai terlalu dini untuk mendeklarasikan kemursyidannya, walaupunkeluarga pesantren mengakui kehebatan Abah Aos.

Namun dalam beberapa hal, Abah Aos memilki pandangan yang berbeda dengan Abah Anom, sehingga Pesantren Suryalaya sudah lama tidak mengakui eksistensi Abah Aos. Hal ini tertuang dalam beberapa wasiat Abah Anom yang dititipkan kepada sebagian muridnya. Ketika Abah Aos dan muridnya mendeklarasikan kemursidan TQN, maka sebagian dan terutaama keluarga Pesantren Suryalaya menolaknya. Mereka menganggap Abah Aos secara gegabah dan terlalu cepat mengambil keputusan dan tanpa membicarakan hal ini dengan pihak keluarga Suryalaya

Ketiga Penggunaan “Suryalaya” dalam pergerakan TQN mursyid Abah Aos. Mau tidak mau, Suryalaya telah menjadi brand imej TQN sehingga Suryalaya menjadi bagian penting dalam TQN itu sendiri. Abah Aos dengan segala pergerakannya selalu menggunakan Suryalaya sebagai alat “pemasaran” TQN di bawah kendalinya. Hal ini menjadi pemicu ketidak sukaan pihak keluarga dan pengikut Abah Anom di Pesantren. Mereka tidak mempermasalahkan Abah Aos yang mendeklarasikan mursyid TQN karena berhusnudzon, tetapi penggunaan Suryalaya sebagai pergerakan dianggap mencederai keluarga pesantren.

Kejanggalan Pengikut TQN Sirnarasa

Saya tidak menuduh TQN janggal. Ini bukan wilayah saya yang miskin data dan tidak paham tradisi TQN secara mendalam. Namun beberapa postingan pengikut Abah Aos membuat saya harus segera menelusurinya. Yang saya tahu, TQN di bawah Abah Anom (dan juga mungkin di bawah Abah Aos) senantiasa mendahulukan syariat. Beberapa murid Abah Anom bercerita kepada saya bahwa dengan berdekatan dengan Abah Anom, sinar karomahnya membuat ia ingin selalu ibadah dan tidak melupakan Allah. Ia tidak mengemukakan beberapa keajaiban-keajaiban yang tidak rasional. Abah Anom adalah pribadi yang membuatnya lebih beriman, dan tenang dalam beribadah.

Hal ini berbeda dengan postingan FB (saya tidak tahu ajaran aslinya) dan isi dari Akun bernama “Cep Idan” yang menyebut dirinya sebagai anak Abah Aos. Saya melihat ada beberapa “kejanggalan” yang mungkin saya terlalu melihatnya dengan kacamata Isam Mainstream bukan kacamata norma TQN. Beberapa kejanggalan itu menurut saya perlu diluruskan. Walaupun sekali lagi saya harus tekankan bahwa “kejanggalan” yang saya temukan dengan sudut pandang Islam Mainstream yang saya tahu.

Pertama pengkultusan Abah Aos yang berlebihan. Beberapa postingan ada yang menyebut bahwa Abah aos adalah adalah segala-galanya. Penyebutan Abah Aos menggunakan RA (Rhodiyallohu Anhu) menurut saya berlebihan. Yang saya tahu RA adalah untuk shohabt nabi yang agung.

Kedua postingan tentang karomah Abah Aos yang berlebihan. Bila Abah Anom tidak terlalu mempublikasikan karomah tetapi semua orang mengakui kesholihannya, pengikut Abah Aos lebih menekankan kekaromahan dan ketaajuban Abah Aos. “karomah” inilah yang menguatkan pengikut Abah Aos yakin seyakin yakinnya bahwa beliau adalah mursyid TQN selanjutnya. Bagi saya yang Islam mainstream, ini tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad. Nabi sangat menunjukan ajaran yang rasional, ilmiah dan sangat membumi.

Bagi saya yang awam, fenomena ini adalah sebuah dinamika sosial keagamaan yang wajar. Dalam konteks agama perlu adanya sebuah komodifikasi untuk mempertahankan eksistensi. TQN Sirnarasa yang dipimpin oleh Abah Gaos memiliki komponen komodifikasi Ajaran yang terdiri dari tiga hal; (1) aktor, (2) ajaran dan (3) kepentingan.

Aktor dalam komodifikasi TQN sirnarasa Panjalu adalah Abah Aos, sehingga para pengikutnya sedemikian rupa mengendorse beliau sehingga lebih terkenal dan dapat menyamai kehebatan pendahulunya (Abah Anom). Komodifikasi ini sangat normal mengingat dalam agama, tokoh adalah segalanya. Semakin tokoh ini dicitrakan ppopuler, maka semakin hebat pula “agama” yang disebarkannya.

Ajaran dalam komodifikasi TQN Sirnarasa memiliki kecenderungan sama dengan TQN Suryalaya, karena keduanya dalam akar yang sama. Namun dalam komodifikasi ajaran sepertinya ada beberapa hal yang berbeda sehingga memunculkan perselisihan internal. Ada pernyataan-pernyataan yang nyinyir mengenai ajaran Abah Aos bagi pengikut Abah Anom. Apa ajaran itu, mungkin harus digali sedemikian rupa.

Kepentingan komodifikasi TQN Sirnarasa tergantung dari sudup pandangnya. Secara organiasasi, wafatnya Abah Anom harus diselamatkan dengan mencari figur yang seimbang, maka dari sudut ini kepentingannya adalah menyelamatkan TQN sendiri. Dari sudut istitutional, TQN sirnarasa harus tumbuh dan berkembang dan kalau bisa mandiri terlepas dari Suryalaya. Untuk sementara, Suryalaya digunakan sebagai pasar dan dikemudian hari Sirnarasa akan besar mengikuti saudara tuanya (Suryalaya). Kepentingan lainnya adalah mungkin yang lebih ekstrim. Ada kepentingan politik dalam membesarkan komodifikasi TQN Sirnarasa. Saya melihat kecenderungan itu, walaupun saya tidak berani untuk menuliskannya.{}

Bumisyafikri, 9/11/17

* Sekali lagi, saya sampaikan tulisan ini hanya sebagai pendapat. Bila ada kesalahan, itu murni dari saya yang tidak paham mendalam tentang dunia TQN.

3 Komentar

  1. Abdul Rohman Muqoddas

    Terlalu menuhankan abah aos sampai melupakan alloh SWT.
    ada juga yang mengatakan “abah aos adalah dzohirnya alloh” itu kata2 yang tidak pantas untuk seagung alloh SWT.
    mungkin abah aos tidak setuju atas pernyataan mereka

  2. Mantaps..
    Saya Apresiasi sekali u/ analisanya..
    Lanjutkan.. pak.

  3. ilham ridwanulloh

    Perselisihan dan perbedaan pendapat mengenai polemik kemursyidan TQN ini memang masih menuai kontroversi, memang saya salah satu orang awam yg kurang setuju mngenai pendeklarasian penerus kemursyidn yg di lakukan abah gaos mengingat cara dan prilaku muridnya yg terlalu mengagungkan karomah ajengan gaos,, dan kalo cara pandng saya sendiri kalo gk salah abah anom dulu sangat memperlihatkan ketawaduannya,, dengan cara berpakaian yg biasa saja itu sangat memperlihatkan ketasawufan beliau dan tanpa mendeklarasikan kemursyidannya pun saya pribadi langsung meyakini beliau adalah seorang wali alloh yg sangat tawadu, makanya tidak ada sdikitpun orang yg berselisih pendapat mngenai kemursyidan ABAH ANOM, akan ttapi yg sya lihat dari ajengan gaos dilihat dari cara berpakaian nya pun sangat terbilang mewah dan berlebihan mnurut saya yg bodoh,, makanya tanpa menyalahkan org lain pun saya sudah merasakan sndiri kjanggalan di hati ini,, tapi semua ini hanya prasangka buruk saya saja yg tidak patut d yakini dan di pertanyakan karena memang atas dasar kebodohan saya, akhirnya saya berkhusbudzon saja kpda ajengan ghaos, mdah2n beliau di berikan kesabaran dan kemudahan untuk mnghadapi ujian seberat itu, dan di berikan hati yg tanpa ada ketakaburan utk sngat berkeinginan mnjadi seorang mursyid,, dan alloh yg amat maha mengetahui segala sesuatu dari benar dan salahnya, kita manusia hanya bisa berprasangka..

    Salam sejahtera dan kselamatanuntuk guru saya pk @zaki..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *