Beranda / BERITA / Agama, Bencana dan Era Post-truth

Agama, Bencana dan Era Post-truth


Oleh: Zaki Mubarak

MENCARI benang merah antara agama, bencana dan era post-truth dalam satu garis tidaklah mudah. Seolah, ketiganya adalah sesuatu yang berada di dimensi yang berbeda. Namun, saya memiliki alasan kuat kenapa ketiganya memiliki kelindan satu sama lain. Alasannya tidak diada-ada, melainkan merupakan hasil kontemplasi mendalam dalam menelaahi kejadian demi kejadian di negeri ini. mungkin Anda memiliki pikiran yang berbeda, tapi tidak ada salahnya setuju dengan saya.

Sebuah Definisi

Saya mencoba merangkai tiga bahan pokok ini dalam inter-korelasi dua hal, agama dan bencana, agama dan post-truth dan bencana dengan post truth. Untuk menghubungkan ketiganya, perlu didefinisikan makna mereka. Tentu saja definisi itu ditujukan untuk mencari peluang untuk bisa disatukan dalam satu garis bernama “benang merah”.

Agama adalah system of belief, sistem kepercayaan. Agama derivasi dari “a” yang berarti “tidak” dan “gama” yang bermakna “kacau”. Artinya, agama sejatinya adalah instrumen kehidupan dengan tujuan untuk tidak mengacaukan kehidupan. Dari sini muncul bahwa agama adalah kumpulan aturan yang mengatur hidup. Negara yang memiliki undang-undang sekalipun, dalam soal aturan kalah telak dengan agama. Kalau undang-undang mengurus urusan publik dan sangat umum-terbatas, maka agama mengatur segalanya, sampai masuk ke WC pun diatur sedemikian rupa. Jadi, agama adalah sekumpulan aturan yang dipercaya menjadi sebuah way of life. Dengan agama itu pula kehidupan dunia mendapat penjelasan “prediktif” tentang masa depan bernama hari kiamat.

Bencana adalah kumpulan kecelakaan. Seandainya kejadian menyedihkan itu tunggal, maka itu disebut kecelakaan. Kumpulan kecelakaan yang dirasakan sekelompok orang, maka itu disebut bencana. Bencana memiliki lokus dan tempus, karena bencana membutuhkan ruang dan waktu untuk terjadinya. Setiap bencana, pasti memiliki alasan ruang dan alasan waktu.

Bencana gempa semisalnya, memiliki alasan ilmiah kenapa terjadi di Lombok dan Palu, Sigi dan Donngala. Ilmu pengetahuan menyebutnya karena cincin api yang melingkar Indonesia mulai bergerak. Bahkan, bencana diprediksi akan datang bernama Megathrust atas gempa lembaran Lembang, suatu saat, dalam waktu dekat. Saya pun terpengaruh dengan itu sehingga segala surat penting sudah dikumpulkan bila suatu saat perlu untuk diselamatkan. Pendek kata, bencana memiliki ujung yang menyakitkan, sehingga hal ini sangat tidak diinginkan, walaupun tidak ada pihak yang mampu melawan Taqdir-Nya.

Post-truth adalah prase dari dua kata post dan truth. “post” artinya “setelah” dan “truth” artinya “kebenaran”. Post-truth secara sederhana didefinisikan sebagai sebuah istilah baru dimana kebenaran tidak bisa didefinisikan sebagai “single reality” satu sudut pandang, namun bersifat “multiple reality” kebenaran jamak. Sejatinya era ini adalah kelanjutan positivisme. Sejak “kebenaran” diklaim sebagai milik dunia empirik yang mengesampingkan dunia ide (ghaib, invisible) oleh positivisme, maka segala kebenaran harus memiliki indikator untuk menjadikan pembenaran secara visible (terlihat). Alat utama untuk membenarkan sesuatu adalah “sense” indera. Namun, patut dicatat, indera adalah instrument kebenaran yang sangat relative. Kekuatan dan kualifikasinya terbatas sepanjang tingkat kesehatan, tingkat kontrol dan tingkat fit-nya masih bisa diandalkan. Sejak ada cedera dalam indera itu, dapat dipastikan “kebenaran” akan menemukan momentum “relativitas”. Nah, setiap orang tidakmemiliki kadar sense yang sama sehingga relativitas adalah sebuah keniscayaan.

Hal ini pun linier dengan ilmu pengetahuan alam (sains), dimana Newtonian (pengikut newton) yang percaya hukum gravitasi yang pasti (exact) kalah dengan Einsteinian yang menemukan hukum baru bernama relativitas. Itulah ilmu pengetahuan yang menjadikan indera sebagai bagian penting alatnya. Tidak akan ada satu kebenaran yang pasti, ilmu pasti sejatinya adalah ilmu yang tidak pasti. Hellenialism berganti dengan geosentris, dan sekarang sedang dipromosikan flat-earth. Intinya post-truth adalah era dimana kebenaran ilmu pengetahuan tidak bisa dipastikan atas satu perspektif saja.

Hubungan Agama dan Bencana

Sejak antropologi sebagai “mbah”nya penelitian ilmu sosial, maka upaya untuk mengaitkan bencana dan agama telah banyak dilakukan. Semisal meletus Gunung Merapi Jogja atau gempa Jogja dihubungkan oleh banyak peneliti dengan alasan agama yang irrasional secara empirik. Saya pun melihat gempa yang menimpa Lombok dan Palu/Donngala dihubungkan dengan agama. Semisal dibangun narasi yang saya temukan di medsos bahwa Lombok sejak dijadikan destinasi wisata halal dunia dengan kecantikan alam yang melebihi Bali, di sana terjadi interaksi pariwisata dengan dampak domino di dalamnya. Wisata yang identik dengan glamour dan hiburan, disinyalir menjadikan Lombok bukan lagi wilayah yang steril dari “kemaksiatan” namun menjadi lumbung “dosa”. Uang yang menjadi tujuan wisata menjadi pemantik kemaksiatan di Lombok yang bagi agamawan dipercaya sebagai katalisator Tuhan untuk menurunkan bencana.

Tidak salah. Agamawan sangat berdasar memiliki persepsi demikian. Qur’an, sebagai contoh suber agama Islam, memiliki sejumlah sejarah kelam manusia terdahulu yang menjelaskan adanya bencana karena moral manusia yang menurun. Semisal kaum Iram yang telah memiliki teknologi arsitektur batu ditenggelamkan oleh Allah karena moralitas yang keterlaluan. Ini juga dalam beberapa perspektif dikatikan dengan kejadian tiga bencana Palu. Beberapa narasi dibangun bahwa Palu memiliki tiga bencana sekaligus, (1) gempa, (2) tsunami, dan (3) ditenggelamkan.

Walaupun ketiganya saling berhubungan, namun ketiganya memiliki hubungan agama yang berbeda. Semisal tsunami yang datang ini diakibatkan oleh menghidupkan kembali tradisi “nomoni” yang di dalamnya ada kesyirikan. Palu adalah wilayah yang di”murnikan” islamnya sejak kedatangan Tuan Guru Habib Al Jufri. Sejak itu pula, Palu adalah wilayah yang meninggalkan tradisi nomini yang disinyalir penuh dengan kemusyrikan. Hal ini sama dengan tanah yang ditenggelamkan. Perumahan yang ditenggelamkan dalam beberapa menit itu diyakini sebagai perumahan yang banyak non-muslimya. Bahkan ada gereja di sana. Beberapa narasi menyalahkan realitas ini sebagai alasan adanya lumpur yang menenggelamkan perum tersebut.

Lalu, benarkah begitu? Bagi agamawan hal itu benar adanya. Mereka melihat realitas dengan perspektif kitab suci yang tingkat kebenarannya dianggap suci. Dengan tidak mempercayainya, maka ada sesuatu yang hilang dari keimanannya. Instrument untuk mempercayainya adalah hati. Iman lahir dari hati yang paling dalam, bernama nurani. Nurani dikendalikan oleh dua energi, positif dan negatif. Jika energi itu positif, maka melahirkan keimanan yang positif. Sebaliknya, jika energi negatif (sifat syaitaniyah) itu yang dominan, maka lahirlah keimanan yang negatif atau disebut nafsu. Nah disinilah agama berperan. Agama yang pasti positif diyakini sebagai instrument yang paling benar untuk meyakini hubungan antar realitas. Namun, keimanan ini tidaklah memiliki indikator kebenaran seperti positivisme. Hal ini berbeda dengan empirisme yang merumuskan kebenaran dengan sesuatu yang terlihat dan terukur (observable dan measurable).

Hubungan Agama dan Post-truth

Agama dan post-truth adalah antitesa. Yang satu memiliki tingkat kebenaran yang hakiki karena diyakini dari Sang Maha Benar, yang satunya adalah kebenaran yang relative dimana tidak ada kebenaran tunggal. Hubungan keduanya hubungan kebalikan (contrast) yang mana memiliki instrument cara pandang yang berbeda. Yang satu menggunakan hati yang invisible dan divine (ilahiah) dan satu sisanya menggunakan sense indera yang alat utamanya adalah common sense.

Lalu dimana hubungannya? Sebenarnya panca indera adalah hilir atau dampak. Hati sebagai hulu memiliki peran utama untuk menggerakan panca indera. Semakin sehat dan berenergi positif hati, maka akan semakin sehat pula panca indera. Jadi sense yang menjadi “rasa” dari semua indera sebenarnya dikehendaki dan dimanipulasi oleh hati. Jadi hati adalah ketua dari semua sense yang ada. Pendek kata, agama akan menjadi instrument utama dalam menentukan post-truth. Masalahnya adalah apakah energi yang dominan di hati apakah positif atau negatif? Jika negatif, maka agama adalah inti dari masalah negatif sense yang ditimbulkan. Jika sebaliknya, maka agama akan menjadi bungkus nafsu yang mengkerdilkan.

Ketika hati yang menjadi pusat agama memiliki energi negatif, maka semua peran sense indera dapat dimanipulasi menjadi negatif. Akibat ini, lahirlah hoax dan hate speech. Untuk menjustifikasinya, perlu ada “kebenaran” yang ditimbulkan dari energi negatif hati. Lalu muncullah “pembenaran”. Alat yang digunakan bisa berbalut agama bisa juga meminjam dimensi lain. Bila agama yang diambil, maka semua dikaitkan dengan agama seolah agama adalah bungkus untuk menjustifikasi energi negatif. Sesuai dengan hukum”the law of repeatation” bahwa pengulangan akan menjadi kebenaran, maka mengulang energi negatif akan dipersepsikan positif. Nafsu dibungkus agama akan lahir persepsi energi positif. Nah di sinilah agama melahirkan post-truth sebagai era kebenaran yang tidak pasti.

Post-truth diakibatkan oleh derasnya informasi yang satu sama lain dibandingkan dan dikonstraskan sehingga antara haq dan bathil sulit dibedakan. Post-truth memang sengaja digaungkan agar manusia memiliki pilihan sendiri atas dua kutub yang bertentangan. Akhirnya, manusia bimbang untuk memandang kebenaran. Kebenaran yang satu di sandingkan dengan kebenaran yang lain, dimana secara norma keduanya berbeda. Akhirnya, kebenaran itu tergantung kepada pilihan penerima informasi. Nah, di sinilah muncul “framing”.

Framing adalah upaya membungkus kebenaran. Bisa jadi isi dari framing adalah energi negatif, tapi framing menggambarkan sebaliknya. Framing adalah upaya bagaimana persepsi, keyakinan, prasangka dan perspektif penerima framing bisa memiliki energi positif walau kontennya negatif. Hal ini sudah tidak lagi mempermasalahkan substansi isi, namun lebih kepada mempermainkan “frame”. Sebuah foto yang jelek akan terlihat baik dan indah dengan frame (pigura) yang menarik. Maka pengunjung foto akan terpengaruh frame-nya yang indah daripada isinya, kecuali mereka yang mengerti secara mendalam foto yang menjadi pusat perhatiannya. Masalahnya, tidak semua mengerti akan arti sebuah foto yang sudah di frame. Di sinilah daya kritis dan daya intelektual seseorang diuji.

Jadi, post-truth sebetulnya bukan “truth” sesungguhnya. Ia adalah pembenaran yang dimainkan untuk sebuah kepentingan. Kasus Saracen, muslim cyber army, cyebr Indonesia, Jasmev, bahkan buzzer adalah contoh baik bagaimana framing mempengaruhi publik, yang mana antara benar dan tidak bukan lagi masalah penting. Yang paling penting adalah sentiment emosional, baik dengan instrument agama, ras, golongan atau lainnya. Inilah kekacauan post-truth tentang kebenaran yang dipegang oleh agama.

Hubungan Bencana dengan Post-truth

Ketika bencana di”agamisasi”, post-truth bisa mengambil framing positif atau negatif. Di sinilah muncul agama dan bencana bisa digunakan sebagai kepentingan post-truth yang notabene memainkan peran untuk mempengaruhi benak publik. Keberpihakan publik akan dipengaruhi sejauh mana framing ini disukai oleh penerima informasi. Untuk mengkanalisasi rasa “like dan dislike” ini, maka harus menggunakan katalisator lain, yang salah satunya sentiment agama atau ras.

Bencana jika dilihat dari post-truth maka akan melahirkan perpektif lain dari bencana itu sendiri. Tentu saja perspektif ini akan di-drive kepada kepentingan tertentu. Semisal bencana Palu yang oleh kelompok “kampret” akan dituduh sebagai pencitraan (politisasi bencana) di satu sisi, padahal di sisi lain kelompok cebong akan mengirim informasi “lebih baik mengurus bencana (kerjanyata) ketimbang membela Ratna Sarumpaet”. Perang ini terjadi di era post-truth dimana masyarakat tetap akan terpolarisasi kepada dua kutub yang berlawanan.

Narasi-narasi bencana akan lahir dengan dua “truth” yang berbeda. Memang aneh. Namun itulah post-truth yang tidak menghendaki adanya satu saja kebenaran. Bencana saja yang memiliki dimensi kesedihan sangat diinterpretasikan dengan dua hal yang berlawanan. “Kemanusiaan” saja yang secara universal memiliki nilai tunggal, tetap dalam prosesnya mengalami polarisasi dalam framing masing-masing.

Itulah fakta kita hari ini. Suka tidak suka, kita sudah masuk ke era dimana semua bisa dianggap benar melalui pembenaran. Agama saja yang kebenarannya tunggal dari Tuhan dapat dibagi truth-nya. Bencana saja yang bisa menyatukan rasa kemanusiaan bisa dibelah truth-nya. Dalam kondisi seperti ini, kebingungan masyarakat akan semakin nyata, terutama isu-isu yang berkeliaran dipantik dengan emosional ketimbang rasional. Maka jika ini sudah terjadi, para akademisi dan kyai yang bisa berpikir dengan akal sehat harus segara meluruskan isu-isu yang ada.

Masyarakat non-cendikia pun harus tahu diri atas kualitas pengetahuannya. Jangan asal bunyi untuk menyikapi persoalan yang belum begitu dipahaminya. Bila masyarakat semakin percaya diri untuk mengemukakan pendapat atau mengshare pendapat, maka akan semakin relative juga kebenaran itu. Bila ini terus berlanjut, saya memprediksi kebenaran agama yang dibawa pun akan menjadi relative, tidak tunggal dan bisa jadi manusia lebih memilih rasionalitas-emosional ketimbang intuisi keagamaan yang kebenarannya “suci”.

Bumisyafikri, 6/10/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *