Beranda / BERITA / Agama dan Politik yang Membuat Galau

Agama dan Politik yang Membuat Galau


Oleh: Zaki Mubarak

INI adalah tentang kegalauan yang saya hadapi terkait relasi agama dan politik. Memang saya sedang mencari benang merah antara agama dan politik. Narasi-narasi dari mass media ataupun pendapat dari netizen yang bertebaran di medsos tidak cukup meyakinkan saya. Buku yang saya baca pun tetap memiliki ambiguitas yang lumayan memusingkan. Meski dikaji secara ilmiah, tetap mereka terpolarisasi kedalam dua kelompok. Kelompok yang pro tentang agamaisasi politik dan politisasi agama,, dan kelompok yang kontra.

Keduanya memiliki alasan yang logis walaupun dasar sentiment alasannya berbeda. Yang satu menggunakan instrument ideologis yang laten dan yang lainnya menggunakan instrument sosiologis yang permanen. Keduanya membuat saya galau dalam memutuskan mana yang baik dan yang buruk. Keduanya pula membuat saya harus abu-abu untuk tidak memihak. Memang solusi yang paling aman adalah tidak melakukan apa-apa, atau tidak berpihak kemanapun. Tapi, tetap benang merah harus tetap dicari dan dibentangkan. Kegalauan ini tetap harus disolusikan.

Agamaisasi Politik dan Politisasi Agama yang “Benar”

Agama sebagai system of belief tentu memiliki ajaran yang sifatnya ideologis. Pengajarannya pun bersifat dogmatis dan haram ditolak. Instrument penerimanya adalah hati, semakin hatinya terbuka maka semakin menyusup pula ideologi itu ke dalam ruang hati terdalam. Istilah positifnya bernama “iman” sedangkan istilah negatifnya bisa bernama “irrasional”. Memang ini sangat tidak rasional, karena yang rasional biasanya harus empiris dan dapat diamati, sedangkan ideologis masuk ke ruang hati yang ghaib dan memunculkan sebuah sikap, persepsi, keyakinan dan kepatuhan yang sangat laten. Tidak mudah digoyahkan, dipatahkan apalagi akan melawan apabila diganggu.

Agama telah dengan tegas memisahkan antara yang baik dan buruk, surga-neraka, pahala-dosa, basir-nadzir, kabar baik-buruk, beruntung-merugi, sholeh-jahat dan seterusnya. Tentu saja agama memilihkan poisis yang positif sebagai ajaran agama, sehingga apapun yang baik pasti berkelindan dengan ajaran agama. Sehingga, agama adalah ideologi yang suci dan menjadi life guidance. Agama tak bisa disaingi oleh apapun, sehingga sifatnya sangat berpengaruh, mengarahkan, dan berdampak kepada seluruh prilaku kehidupan.

Saya tak mempermasalahkan agama yang sangat suci itu, yang dipersoalkan adalah ketika agama digunakan sebagai “alat”. Alat yang dimaksud beragam, bisa alat politik, alat kebudayaan, alat kekuasaan, alat pembunuhan dan peperangan, alat ekonomi, alat pemaksaan, alat menakut-nakuti atau alat yang lainnya. Karena hidup merupakan sebuah sistem, dan itu dikonstruksi oleh berbagai komponen, maka semua aspek kehidupan saling terkait dan saling menjadi “alat”. Itu normal, karena hidup memang begitu adanya. Agama pun bisa menjadi alat komponen lain atau sebaliknya agama menggunakan komponen lain sebagai alat.

Ketika agama diperalat politik, maka saya galau. Saya meyakini bahwa agama bisa tegak berdiri kokoh kalau seandainya agama memperalat politik. Nabi Muhammad saw saja untuk menegakan agama di muka bumi menggunakan alat politik sebagai instrument utamanya. Beliau menjadi agamawan sekaligus “khalifah” atau raja politik teokrasi. Keduanya saling memperalat, walaupun saya melihat ada perbedaan yang mencolok antara prilaku memperalat kedua unsur yang dilakukan Nabi dan yang lainnya. Nabi memperalat politik untuk agama, sehingga agama adalah subjek dan aktor sedangkan “tuduhan” saya ke zaman kini adalah agama diperalat oleh politik. Politik jadi aktor dan subjek dan agama menjadi objek yang diperlakukan semaunya.

Namun, karena agama itu laten dan ideologis, saya tidak mampu menyingkirkan sentiment keagamaan di hati ini. Ketika para politisi menggunakan alat agama untuk “merayu” saya sebagai simpatisannya, maka hati ini langsung “klik”. Ada rasa sama, sama sebagai ideologi, sama sebagai rasa soleh, sama pemahaman dalam kebenaran. Hal ini membuat saya setuju dan bangga melihat pembahasan agama yang dibicarakan di ruang publik. Semakin banyak yang mendukung, semakin bangga bahwa agama yang saya yakini banyak pengikut. Saya pun merasa yakin bahwa mayoritas akan memiliki perasaan yang sama. Saya harus patuh terhadap narasi agama yang dipolitisasi itu.

Ada hal yang aneh dalam diri saya. Saya setuju membahas politik di ruang masjid, berkhutbah dengan muatan politik tertentu dan para agamawan menjadi politikus di tahun politik. Saya mencari alasan kenapa saya harus setuju. Beberapa alasan mungkin membuat saya tenang. Seandainya para ulama yang berkhutbah dengan muatan politik, kenapa harus disalahkan karena itulah satu-satunya waktu untuk menjejalkan isu politik keberpihakan agama pada kekuasaan. Toh agama tidak mengharamkan. Hal yang serupa pun terjadi di agama lain di dunia, dan itu normal. Ketika para agamawan menjadi politikus “dadakan” pun halal-halal saja, toh mereka memiliki pendapat politik yang semuanya didasari oleh agama. Politik adalah alat untuk diperalat agama dalam mencapai tujuannya. Saya kira itu normal dan logis.

Nah, yang paling saya tak bisa menolak manakala fenomena politik itu digiring kepada ajaran agama. Semisal kasus politik dicari ayatnya atau dicari kelindan sejarah terdahulu serta menggunakan sentiment dosa, kiamat, neraka dan narasi lainnya. Saya tidak bisa nolak, karena narasi itu telah tertanam dalam hati dan sifatnya ideologis. Saya dan mungkin kebanyakan orang akan berlaku sama tentang hal ini, walaupun tingkat keberterimaannya berbeda. Ada yang taqlid buta menelan mentah-mentah, ada yang bertanya-tanya dan berusaha mencari informasi pembanding, ada juga yang diam membeku kebingungan. Tapi yang jelas, semuanya berdampak kepada pengusikan ideologis di hatinya. Ada kecenderungan untuk “membenarkan” sentiment agama untuk politik itu. Inilah yang saya anggap membuat galau.

Agamaisasi Politik dan Politisasi Agama yang “Tidak Benar”

Kebalikan dari pembenaran politisasi agama adalah haramnya menggunakan agama sebagai sentimen berpolitik. Memang benar bahwa kemajuan agama tidak bisa lepas dari kekuasaan yang diproduksi oleh sistem politik. Bersedekah dengan kekayaan pribadi akan lebih kecil manfaatnya dibanding dengan tanda tangan untuk mengucurkan APBN/D untuk kepentingan ummat oleh penguasa. Namun, apakah itu jalan satu-satunya? Saya tak tahu.

Karena politik adalah dunia yang tidak menentu, maka cara dalam politik kadang bisa mencederai agama itu sendiri. Istilah saya, agama itu suci, politik itu kotor. Sesuatu yang suci diraih dengan cara yang kotor, maka hasilnya “cacat”. Benar bahwa dalam Islam misalnya ada fikih Siyasah, tapi apa betul praktik siyasah itu benar benar bisa dilaksanakan di medan pertempuran politik yang murni? Politik menganut pro-kontra, pemerintah-oposisi, kawan-lawan. Politik ala Machiavellians yang menghalalkan segala cara tentu tidak bisa sejalan dengan siyasah dalam Islam. Siyasah sebagai sebuah ide adalah benar, namun sebagai praktik, ia mengalami masalah yang tidak mudah dirumuskan solusinya. Inilah yang mungkin yang membuat beberapa ormas keagamaan kembali ke Khittah-nya sebagai ormas bukan organisasi politik.

Inilah alasan logis kenapa politisasi agama itu “haram”. Di samping dunia politik itu sendiri yang kadang tidak bersih, agama harus diposisikan sebagai sebuah ajaran yang diterima semua manusia. Ia harus meninggalkan permusuhan yang biasa dipertontonkan oleh dunia politik. Ia juga harus menemui seluruh tarikan nafas insani dalam menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat dimana politik tak bisa menjanjikannya. Agama tidak mengenal istilah menang-kalah seperti yang dialami oleh politik. Jika agama dipolitisir, akibatnya agama akan menjadi pemenang atau pecundang, ketika menang maka terlihat agama sebagai ajaran superior, namun ketika kalah maka ajaran agama perlu dipertanyakan superioritasnya. Apakah jika hal ini terjadi akan membaikan agama? Tentu Anda akan mengatakan “tidak”.

Dalam konteks Indonesia yang sangat multi kultur, multi etnis, multi lingual, multi ras, dan tinggal di gugusan nusantara yang koneksi satu sama lainnya membutuhkan transportasi yang tidak mudah, politisasi agama berdampak bahaya. Ancaman integrasi bangsa, ancaman pemisahan kelompok separatis, ancaman rasa tidak sama, rasa tak senasib, rasa tak sependapat dan rasa tak seagama akan subur dan menyebar. Tentu ini adalah tantangan bagi para politisi. Apakah kekuasaan yang mereka tuju boleh mengorbankan bangsa yang multi ini? perpecahan bangsa dari sebuah konsep nation-state adalah keniscayaan. Indonesia itu berbagai bangsa ditanggung satu negara, sedangkan China satu bangsa ditanggung beberapa negara, begitu pun bangsa Arab dan bangsa Eropa. Mereka ditanggung oleh berbagai negara dengan sistem yang beragam.

Sejarah telah menunjukan bahwa seorang agamawan di Indonesia tidak bisa terpisah menjadi seorang negarawan. Ya ia sebagai seorang faqih, ya ia juga seorang yang paham tentang nasionalisme. Pandangan politiknya tidak picik dan lebih mengutamakan kemasalahatan daripada kemafsadatan. Secara ideologis tentu saja mereka ingin menjadikan Islam sebagai agama formal (agama resmi negara), namun itu tidak membaikan. Indonesia pernah dibuat ke “kanan” melalui masyumi atau DI/TII, tapi tak berhasil, pun demikian pernah juga ditarik ke “kiri” melalui PKI. Semua tidak berhasil, karena Indonesia unik dan terlalu besar untuk dijadikan bangsa berideologis tunggal. Maka berdamai dengan serba multi dengan Pancasila menjadi satu-satunya solusi. Para founding father sudah memberikan contoh kepada kita.

Namun, pemikiran Indonesia yang harus moderat, toleran dan kepentingan bangsa adalah harga mati banyak dinarasikan oleh para nasionalis dan sedikit oleh nasionalis-agamis. Pernyataan ideal itu sangat diterima luas, namun prilaku-prilaku kaum nasionalis membuat kaum agamawan kecewa. Narasi yang ditawarkan tidak sedikit mengecewakan, karena antara ide dengan prilaku tidak seiring. Kaum agamawan melihat ada banyak ketidak adilan yang dipertontonkan, ada banyak kedholiman yang dilakukan termasuk ada banyak keberpihakan terhadap ajaran non agama. Hal ini memantik agamawan “melawan”. Dengan sentiment agama yang ideologis dan massa yang “dipaksa” melalui dimensi surgawi bisa menjadi perlawanan besar untuk kaum nasionalis. Pantikan-pantikan ini akan berdampak rumit manakala sudah berdimensi “ashobiyah” (kesukuan, geneologis tunggal) sehingga korbannya adalah negara. Praktik politik hari ini sudah mendekati fase itu.

Jadi kegalauan saya adalah satu sisi agama tidak baik dipolitisasi tapi di sisi lain politisi yang tidak menggunakan agama berlaku tidak adil, dholim dan tidak berpihak. Mereka tidak membaca sejaran founding father bangsa kita. Pertempuran ini pun dimanfaatkan oleh sebagian kelompok untuk memboncengi ideologi dirinya. Ia bisa ideologi agama yang tersirat muncul di permukaan, bisa juga ideologi negara atau budaya yang mengikis habis Indonesia sebagai sebuah bangsa dan budaya. Ingat Indonesia itu masih muda, 70 tahun bukan waktu yang lama untuk sebuah usia negara. Jadi kerentanan bubar adalah keniscayaan yang rasional, kecuali kalau semua bangsa sadar untuk tidak memantik pembubarannya. Kecuali para politikus tidak lagi menjadikan sentiment sensitif untuk mengkatalisatori bubarnya negara bernama Indonesia. Anda?{}

Bumisyafikri, 15/7/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *