Beranda / Uncategorized / Antara Amarah Puisi dan Penyakit Hati

Antara Amarah Puisi dan Penyakit Hati


Oleh: Zaki Mubarak

 

PERDEBATAN itu tak juga reda. Asep, si santri kumal berkaos oblong tetap pada pendiriannya untuk tidak mengikuti ajakan Deni. Deni si pemuda hijrah yang sangat menggebu keislamannya keukeuh tidak mau berhenti untuk terus mengajak Asep untuk berdemo “puisi anti syariat”.

“Gue heran sama lu, Sep. katanya enam tahun di pesantren, matokin alfiah Ibnu Malik, hafalin Qur’an dan Hadits, tapi ketika agama lu dihina, gak ada kesadaran lu untuk memihak.” Cerocos Deni makin bikin Asep tersudut.

“Itu prinsip gue, Den. Justru karena gue pernah di pesantren, gue harus tenang, tidak reaktif dan ngabisin energy untuk perkara yang tidak penting.” Jawab asep sambil tetap menatap buku filsafat kontemporer berwarna biru itu.

“What? Ga penting lu bilang? Keterlaluan kau, Sep. Seorang ibu tua yang ayahnya adalah tokoh negeri ini membaca puisi tentang anti syari’at, tentang jeleknya adzan, tentang buruknya cadar, apa itu tak penting bagimu? Muslim macam kau ini, Sep?” Serang Deni pada Asep makin menggebu. Gaya Asep yang tak menggubris makin buat Deni pingin menempelkan bugemnya pada pipi kurus kerontang Asep yang kecoklat-coklatan.

“Aku paham atas pemahamanmu atas kasus ini. Tapi mestinya kau juga paham atas sikapku ini Den. Butuh komtempelasi yang lama untuk memahami relasi hidup dan agama. Butuh bacaan yang dalam atas kelindan fungsi agama dalam kehidupan yang universal. Kau akan tahu nanti bila usiamu empat puluh, Den. Aku tak melarang kau berdemo, tapi aku ingin berdemo dengan caraku sendiri, maaf Den.” Jawab datar Asep makin membuat Deni ga karuan. Satu sisi kesal dengan sikap tak responsifnya tapi di sisi lain sepertinya Asep memukulnya dengan Bahasa filosofi tinggi.

*****

Maklum, Deni adalah mahasiswa yang baru setahun ini mengikuti pengajian gerakan dakwah kampus. Sebelumnya, ia sangat tidak peduli dengan agamanya. Cerocosan orang tua untuk sholat pun kadang tak digubrisnya. Ustadz yang ada di kampungnya kadang dibikin kesal dan marah-marah atas prilakunya. Ngumpetin sandal ustdzlah, bikin anak-anak perempuan mengaji mengangislah di masjid, bakar petasan depan madrasahlah, de el el. Ia sangat nakal untuk seorang anak kecil yang ditinggal bekerja ayahnya ke kota besar.

Namun, ia sekarang beda. Ke kampus menggunakan baju koko, yang katanya baju yang sangat Islami. Kadang, ditenteng Al Qur’an dengan bangga ditunjukan pada teman-temannya “aku lebih islami lho” celetuknya. Bila ada yang berkata menghina Islam, ia sangat responsive dan bahkan menyerang. Ia berubah sejak bergabung dengan pemuda hijrah itu.

Asep sebenarnya bangga. Deni jauh lebih baik hari ini, bahkan melebihi amalan agamanya. Deni yang menjadi teman masa kecil satu kampung halaman itu jelas menjadi teman yang sama sekali sangat islami. Ajakan-ajakan untuk berhijrah, untuk sholat tepat waktu, dan untuk tidak jatuh cinta selama kuliah dalam bentuk pacara non-syariah adalah beberapa yang aku banggakan akan Deni, si pemuda beda itu.

Asep yang anak ustadz dan telah berpisah sejak SMP dengan Deni karena ke pesantren dan bertemu kembali di kampus ini memang sedikit berbeda. Sebenarnya, yang mengajak hijrah ke jalan yang lebih “Islami” itu adalah dirinya. Ia terus terusan mengajak Deni untuk berubah. Tidak main perempuan, tidak meninggalkan sholat dan meninggalkan dugem ala mahasiswa baru. Dengan sabar, ia mengajak dengan lemah lembut sehingga akhirnya di awal semester enam ia benar-benar berubah. Pengajian yang biasa Asep kaji bersama teman-temannya diikuti dan mulai berubah. Ia mulai tekun mempelajari ajaran agamanya dengan bertahap.

Saat pertemuannya dengan pemuda hijrah lain, Ahmad yang mengikuti pengajian setiap malam rabu, Deni pun agak berubah. Perangai keras pun tampak lagi, namun untuk membela Islam. daya tuntut yang dahulu selalu ada, kini muncul lagi, tapi untuk menuntut kebaikan ala Islam. Ia sangat bersemangat untuk reaktif pada demo-demo bela Islam. Ia bak ingin menjadi pahlawan atas terpinggirnya Islam di negeri ini.

Dalam hati Asep yang paling dalam, ia ingin sekali mengajarkan bagaimana cara dakwah yang lebih lembut. Ia juga ingin Deni lebih rasional dalam menjalankan dakwahnya tidak emosional. Namun, Asep juga tahu, bahwa perangai Deni, Sikap dakwah Deni, Cara berdakwah Deni dibutuhkan dalam dakwah Islam. Mungkin istilah lainnya adalah “Nahyi Munkar”. Ya dakwah yang berfungsi untuk mencerabut kemaksiatan atau “musuh-musuh” kebenaran dengan cara yang keras. Bila dengan lembut tak bisa, maka cara keras adalah solusinya.

*****
“Jadi bagaimana nih, Sep? Lu mau ikut apa kagak nih. Kalau endak, kita putus saja persahabatan ini. Aku tak butuh usia empatpuluh tahun untuk memahaminya, Sep. cam-kan itu.” Respon Deni dengan setengah mengancam setelah beberapa menit kami berdiam diri.

“Baiklah Den, gue tahu emosimu udah memuncak. Persahabatan kita gak usah kau rusak karena puisi tak bermakna itu. Bila kau terus memikirkan puisi itu, mungkin lu tidak akan bisa tidur. Lu harus berpikir, apa dampak dari puisi itu, apakah Islam kita luntur? Apakah ketauhidan kita lepas, atau apakah sholatmu makin tak khusu’? lu jangan mikirin isi puisinya, itu gak penting. Siapa sih dia, sudah berbuat apa sih dia? Kenapa kita harus menjadikan ia sebagai penyakit baru kita bernama kedengkian. Ingat Den, hati kita makin dengki, padahal itu bisa jadi karena ketidak tahuan mereka. Kalaupun mereka mendesain ini sebagai test of market dalam politik, kenapa kita reaktif seperti anak kecil. Apa Muslim harus kalah dengan jumlah mereka yang kecil.” Jawab Asep panjang lebar. Suaranya meninggi karena ancaman Deni yang mengganggu persahabatannya. Tatapan marah Asep terlihat dalam bola mata Deni. Denipun merasa ada yang salah dalam ucapannya.

“Maafkan aku, Sep. Aku hanya ingin menjadi muslim yang Kaffah. Aku hanya ingin menunaikan janji Islamku pada Allah. Aku ingin membela Islam walau ilmuku belum sedalam yang kau punya. Itu saja, Sep.” peluh Deni dengan suara yang menurun. Suara emosi yang meninggi yang sebelumnya dipraktikannya menurun seiring hati yang merasa bersalah. Ia mengaitkan puisi anti syariat yang ia dapatkan dari viral facebook dengan persahabatan yang keduanya semai sejak kecil.

“Aku paham akan ini semua, Den. Aku juga paham bagaimana perasaan sakitmu atas puisi itu. Aku sendiri juga bahagia, begitu hebatnya imanmu, begitu kuatnya islammu, dan begitu membahananya ishsanmu. Aku bangga pada sahabatku yang sudah tinggi akhlaknya dan kuat dakwahnya. Namun, dalam beberapa hal, kita perlu memikirkan ulang apa yang mesti kita lakukan dalam dakwah kita. Berpikir mikro akan mengerdilkan dakwah kita. Berpikir makro, akan membuat dakwah kita lebih global dan memikirkan islam masa depan. Islam yang mau tak mau hari ini dicitrakan buruk, keras, reaktif dan egois. Aku hanya ingin mengajakmu untuk memikirkan lebih luas tentang citra agama kita, Den.” Ceramah Asep makin membuat Deni tertunduk. Ada rasa malu yang dipancarkan dalam aura wajahnya.

“Sekarang aku paham, Sep. Kau memang benar, tak salah ayahmu mengirim ke pesantren bertahun-tahun. Walau bajumu kaos oblong, tapi hatimu diselimuti jubah suci yang membanggakan. Walaupun kau tak memperlihatkan membaca qur’an di depan teman-temanmu, tapi dalam heningnya malam aku dengar kau selalu membacanya dalam tangismu dengan Rab. Maafkan aku yang menuduhmu, Sep.” Guman Deni dengan wajah yang tertunduk. Hanya lantai kos-an yang menjadi pandangan kosongnya.

“Tidaklah, Den. Lu adalah teman terbaik gue. Sudahlah jangan serius begini. Mari kita berdakwah dengan menandingi puisi dengan lebih hebat lagi. Mari kita diskusikan isi puisi itu dengan kajian sastra. Mari kita analisis dampak yang diakibatkannya. Mari kita memenuhi dunia virtual itu dengan dakwah rasional kita, dakwah logis kita, dakwah ilmiah kita. Agar suatu saat kaum islamophobia akan tahu bahwa kita adalah masyarakat logis dan ilmiah. Mereka akan tahu seberapa hebat pengetahuan dan daya analisis kita. Mereka akan berpikir dua kali, untuk tidak menggugat Islam vis a vis dengan kebhinekaan. Agar mereka tahu, bahwa Al Islam Ya’lu wala Yu’la alaih. Agar mereka juga sadar bahwa Islam adalah ruh negeri ini. Dengan Rahmat Allah-lah narasinya.” Cerocos Asep semakin bersemangat.

Dihampiri wajah Deni yang menunduk. Tatapan keduanya menandakan ada aura persahabatan yang kian mengental. Rangkulan dua insan ini penuh dengan kasih sayang (maaf bukan kasih sayang ala LGBT). Deni berguman dalam hatinya “Kalau saja Allah memaafkan kesalahan ummatnya, kenapa aku tak bisa memaafkan Sukmawati yang telah menangis meminta maaf di hadapan khalayak.”{}

Bumisyafikri, 5/4/18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *