Beranda / BERITA / Bagaimana Membedakan Kelompok Kanan dan Kiri dalam Agama dan Politik?

Bagaimana Membedakan Kelompok Kanan dan Kiri dalam Agama dan Politik?


Oleh: Zaki Mubarak

BAGI akademisi yang fokus pada bidang ilmu sosial-politik, istilah kelompok kanan dan kelompok kiri adalah sesuatu yang biasa. Penggunaan “kanan” dan “kiri” adalah identitas yang dikoneksikan pada berbagai gejolak sosial-politik pada masa tertentu. Kehadiran keduanya bisa membantu secara cepat untuk mendeteksi kepada keberpihakan sekelompok orang atas afiliasinya.

Ternyata dua istilah ini bukan hanya dipelajari dalam ilmu sosial-politik. Ilmu agama-pun, misalnya Islam mengidentifikasi kelompok orang dengan istilah yang sama. Walaupun memiliki kesamaan istilah, ilmu keduanya (sosial-politik dan agama) tidak bisa disamakan. Ada perbedaan signifikan untuk menejelaskannya, walaupun dalam beberapa perspektif keduanya bisa diterjemahkan sama. Maka, tulisan ini mencoba mengurai istilah dua kelompok ini dari sisi persamaan dan perbedaan. Namun, saya harus tegaskan saya bukan ahli ilmu sosial (kecuali hanya sedikit saja) yang otoritatif untuk membahas ini. Saya persilahkan para ahli mendebatnya melalui tulisan lain.

Kelompok Kiri-Kanan dalam Dimensi (Agama) Islam

Saya menemukan istilah kelomok kanan-kiri dalam Qur’an surat Al Waqiah ayat 8-10. Rangkaian surat ini bercerita bahwa di akhirat kelak ada tiga golongan manusia. Pertama kelompok kanan (ashab almaimanah, atau dalam istilah ayat lain ashabul yamin), kedua kelompok kiri (ashab al masamah, atau dalam istilah lain ashabul simal) dan ketiga kelompok orang beriman terdahulu (assabiqun al awwalun). Ketiga kelompok ini adalah identitas yang tegas antara dua kelompok besar: kelompok ummat Nabi Muhammad dan ummat beriman Nabi lain terdahulu.

Ummat nabi Muhammad terbagi menjadi dua yaitu golongan kanan yang diartikan oleh ahli tafsir dengan kelompok yang mendapatkan kitab (buku) amal di tangan kanannya. Artinya mereka mendapatkan keputusan catatan kebaikannya lebih berat ditimbang di yaumul mizan daripada amal keburukan. Sebaliknya, kelompok kiri disebut sebagai identitas kelompok yang merugi karena catatan amalnya diterima di tangan kiri dengan tanda bahwa amal keburukannya lebih berat ketimbang kebaikannya. Yang untung dapat surga dan yang rugi dapat neraka.

Kelompok terakhir di ayat 10 menunjukan bahwa ummat sebelum Nabi Muhammad yang beriman dikelompokan tersendiri. Di ayat lain, terutama di Surat Yaasin, kelompok terdahulu yang tidak beriman dikelompokan kepada kelompok yang mendapatkan siksaan, baik kubur maupun akhirat. Jadi, bila disimpulakan dengan disandingkan Nabi, maka kelompok manusia dibagi menjadi dua yakni sebelum dan setelah Nabi, jika kelompok disandingkan amal maka ada kelompok kanan ada kelompok kiri. Jadi pendeknya ada dua kelompok yang ada di akhirat; kelompok beruntung dan merugi (Al Asyr).

Sejalan dengan dikotomi kelompok ini, maka turunannya juga bersifat binomial (dua kutub). Kelompok kanan mendapatkan surga sedang kiri mendapatkan neraka. Walaupun dalam beberapa literature disebutkan ada tempat “bainal manjilatain” (di antara dua tempat), tetapi narasi yang kuat adalah surga-neraka. Di Islam konsep ini tidak kuat. Tempat bainal manjilatain hampir menyerupai teologi Kristen dimana orang yang tidak masuk neraka atau surga masuk ke dalam tempat bernama “Limbo”. Wallahu a’lam.

Ideologi ini pun berdampak kepada praktik kehidupan sehari-hari. Kebaikan selalu diasosiasikan menjadi “kanan” sedangkan bila kiri dikoneksikan menjadi kebalikannya. Contoh kecil kalau makan harus menggunakan tangan kanan, dengan kiri adalah sebuah keburukan. Masuk masjid harus mendahulukan kaki kanan sedang keluar masjid harus kiri. Hal ini berlaku bila masuk ke toilet harus sebaliknya, dimana toilet menjadi antitesa masjid. Masuknya harus pakai kaki kiri dan keluar kaki kanan. Cebok sebagai sesuatu yang dianggap “Nazis” harus menggunakan tangan kiri, jangan tangan kanan.

Dalam persepsi itu, sejak kecil kita dibiasakan untuk menggunakan kanan sebagai alat atau sumber utama, sehingga kanan terlatih dan memiliki kekuatan lebih dibanding kiri. Hal ini berbeda dengan manusia kidal. Mereka memiliki kebalikannya, yakni kiri dirasa lebih nyaman digunakan dan memiliki kekuatan lebih dibanding kanan. Kidal bisa dianggap “kelainan” atau abnormal (tidak umum) walaupun kekidalan bisa dihasilkan dari produk budaya atau geneologis. Namun, penggunaan kanan bisa dipastikan karena produk budaya dimana kanan adalah hal yang pertama dan utama dalam anggota badan.

Lalu bagaimana dengan otak? Otak kanan yang lebih condong kepada seni dan holistik tidak bisa diklaim dominan dibanding otak kiri, karena otak kiri banyak dimiliki oleh para akademisi yang berpikir sangat linier dan sistematis. Otak tidak bisa dibedakan secara parsial, karena keduanya hadir satu sama lain saling melengkapi walaupun ada yang lebih dominan. Sejatinya kanan-kiri yang lain pun saling melengkapi, tapi dominasinya jelas dimenangkan oleh kanan.

Jadi dalam konteks agama sebagai system of belief dan life guidance (cara hidup), maka mengutamakan kanan bisa jadi ajaran utama agama yang mengakumulasi menjadi sebuah budaya dan menguatkan persepsi setiap manusia. Tesis ini bisa dibantah dengan studi biologi atau studi antropologi, tapi saya meyakini bahwa agama memiliki peran besar dalam menjadikan kanan sebagai pihak yang harus dominan ketimbang kiri. Namun, hal ini berbeda dengan posisi stir mobil. Indonesia yang mengimpor cara bermobil Belanda memiliki stir kanan sedangkan Arab Saudi mengadopsi Francis dan Amerika. Mereka menggunakan kiri karena sejarah perang berkuda mereka. Kanan-kirinya sesuai dengan sejarah teknologi mereka yang terkoneksi langsung dengan cara perang saat mobil itu dibuat.

Kelompok Kanan-Kiri dalam Dimensi Sosial-Politik

Dalam literature yang saya ingat dalam konteks politik, pembagian kelompok kanan-kiri dikarenakan oleh pendukung dan oposisi dalam pemerintahan. Konon, di AS kelompok yang pro pemerintah dan selalu setuju dengan kebijakan pemerintah selalu duduk dan berdiri di sebelah kanan. Sebaliknya, mereka yang menolak dan bersebrangan dengan pemerintah duduk atau berdiri di sebelah kiri. Bahkan, saya menduga bahwa pemisahan ini berakumulasi kepada dua partai yang setiap periode bergiliran di AS; Democrat-Republic. Atau saya pun meyakini bahwa untuk menunjukan kekuatan pemerintah dan opisisi tidak usah dikomunikasikan dalam bentuk dukungan suara, tapi cukup dengan posisi duduk dan berdiri. Apakah banyak di kanan atau sebaliknya?

Dari kondisi inilah muncul kelompok ketiga. Kelompok ketiga adalah kelompok abu-abu yang dalam beberapa kebijakan setuju kepada pemerintah tapi dalam beberapa isu tidak. Maka mereka menyebutnya kelompok moderat. Moderat artinya menengah atau kelompok yang ada di tengah (ummatan aushatuha). Kelompok ini bermain di dua kaki sehingga dalam politik macam ini bisa melahirkan kelompok yang cair bahkan bisa memunculkan tidak ada kawan yang abadi, yang abadi adalah “kepentingan”.

Dalam politik binomial seperti di Amerika (democrat-republik, walau ada partai lain yang kecil tapi tak berpengaruh), kanan dan kiri menjadi hal lumrah, tapi para sosiolog dan ilmuwan melebarkan istilah ini menjadi lebih global. Ketika kanan adalah pro demokrasi, pro liberal yang diasosiasikan kepada ideologi yang common sense (keberpihakan secara umum), maka kelompok kiri adalah lawannya. Saat itu lawannya adalah sosialis-komunis. Maka lahirkah istilah kanan terkoneksi kepada liberalis-demokratis dan yang kiri disebut komunis-sosialis.

Dalam konteks Indonesia, identitas ini pun diqiyaskan dengan sempurna. Kelompok kanan adalah kelompok common sense yakni kelompok mayoritas yaitu Islam, sedangkan sebaliknya kelompok kiri adalah sosialis-komunis (lawan Islam). kelompok nasionalis memposisikan sebagai kelompok moderat yang satu sisi memiliki tingkat keagamaan sederhana dan memiliki corak komunis yang sederhana pula. Nasionalis lebih moderat karena kelompok ini ingin mengambil hati kelompok Islam di satu sisi dan kelompok sosialis di sisi lain. Jadi kelompok ini menjadi kelompok yang besar dan menjaga keseimbangan dua kelompok berseteru.

Ketika Indonesia memiliki kecenderungan pertarungan ideologi Islam dengan sosialis-komunis, maka kelompok moderat memiliki momentum sebagai “malaikat”. Kemenangan kaum nasionalis ini pun dibaca oleh kaum islamis dan komunis, sehingga setiap kekuatan partai ingin memenangkan hati rakyat yang kadung senang moderat. Jadilah semua partai tidak jelas ideologinya, apakah kanan atau kiri. Ideologinya cair dan kadang sulit memisahkan identitasnya. Tidak ada ideologi yang murni dan semua campur aduk jadi abu-abu. Tujuan mereka sudah jelas memenangkan suara dan berkuasa secara legitimate ala one man one vote.

Dampaknya, tidak ada kaum kanan dan kaum kiri dalam dimensi politik Indonesia. Karakter Indonesia yang sangat multi dan rumit untuk menyatukan keberagamannya, maka moderat adalah salah satu pilihat terbaik. Bangsa ini pernah ditarik kanan oleh Masyumi dan DI/TII, tapi tidak berhasil. Bangsa ini pun pernah ditarik kepada kiri melalui PKI, tapi tidak berhasil juga. Inilah fakta bahwa moderat adalah instrument penting di Indonesia. Jadi jangan heran, di Indonesia multi partai adalah keniscayaan dan kejelasan ideologi partai tidak mudah dideteksi.

Kelompok Kanan-Kiri yang Membuat Bingung

Sejatinya, kelompok kanan ataupun kiri dijadikan istilah untuk mengidentifikasi kelompok keberpihakan. Namun dalam praktiknya, ada kebingungan untuk mengelompokan kanan-kiri yang bisa digunakan dalam berbagai hal. (1) kebingungan kelompok kanan-kiri-moderat yang digunakan politisasi agama. Kelompok yang menggunakan agama sebagai alat politik akan menggunakan narasi kanan-kiri. Kanan yang dinarasikan agama sebagai kelompok “partai Allah” memisahkan secara tegas mana yang agamis atau islamis mana yang tidak. Maka dari pemisahan inilah muncul narasi takfiri (mengkafirkan), meliberalkan, mempluraliskan, mengkhwarijkan, memuktajilahkan.

Kelompok yang merasa kanan akan menuduh kiri seabagai lawan yang harus dikalahkan, bahkan kelompok moderat dipanggil sebabagai kelompok penjilat yang tidak jelas keagamaannya. Kelompok kiri juga menuduh kelompok kanan sebagai kelompok yang SARA dan menggunakan sentiment agama sebagai alat politisasi. Keduanya beradu mulut untuk memenangkan pasar ceruk suara mereka. Berbagai sentiment keagamaan baik yang positif maupun negatif dimunculkan sebagai alat politik.

Kaum moderat yang melihat pertempuran dahsyat ini melihat dan mencoba mendamaikan kedua kelompok ini (Kanan-kiri). Mereka bisa berasal dari akademisi, agamawan moderat, teknokrat atau kelompok yang sudah berdamai dengan kenyamanan yang sedang berjalan. Kenyamanan Indonesia dengan moderasinya diyakini sebagai alat utama dan lem penting untuk keutuhan negara.

(2) kebingungan kanan-kiri-moderat dalam memandang politik nasional. Ketika kanan adalah pemerintah dan kiri adalah opisisi, maka di Indonesia yang belum mengenal oposisi sebelumnya memiliki masalah. Ketika oposisi dinarasikan dalam konteks politik kita, maka definisi kanan tidak bisa serta merta tertuju kepada pemerintah. Kanan terdefinisikan sesuai dengan definisi agama yaitu yang baik, dan kiri yang buruk. Oposisi yang seharusnya kiri tidak mau didefinisikan sebagai kiri (menurut agama) yang buruk. Sehingga tidak ada narasi kanan dan kiri dalam sistem pemerintahan kita saat ini. oposisi tidak mau dirugikan dengan istilah kiri yang bagi agama sudah didefinisikan dengan jelas “buruk-neraka”.

Jadi, dalam praktiknya ada campur aduk istilah kanan dan kiri dalam dua dimensi penting yakni agama dan sosial-politik. Menggunakan definisi kanan-kiri menurut agama dalam konteks politik akan merugikan juga sebaliknya menggunakan pendekatan definisi politik untuk agama akan memusingkan. Menuduh kelompok kiri dalam politik dengan pendekatan agama akan memunculkan sentiment negatif. Begitupun menuduh agama dengan pendekatan politik, itu sangat merugikan.

Solusinya, simpan definisi sesuai konteksnya. Rakyat cerdas tidak akan terbodohi oleh pengacauan istilah. Rakyat pintar akan memutuskan pembahasan diawali dengan menyamakan suara tentang definisi objek yang akan dibahas, tidak langsung membahas apa yang tidak diketahuinya. Lantas memulai dengan pikiran netral dan melakukan uji dengan pendekatan penyesuaian dan kontradiktif. Memulai dengan konsensus definisi dan konteks yang melingkarinya serta berlaku netral akan membuat orang lebih bijaksana dan bijaksini. Sana-sini bijak, sono juga bijak. Kan, kita sepakat menjadi manusia bijak adalah sebijak-bijaknya bijaksana. Yuk.{}

Bumisyafikri, 4/8/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *