Beranda / Uncategorized / Bid’ah: Sebuah Akar Masalah

Bid’ah: Sebuah Akar Masalah


Oleh: Zaki Mubarak

NARASI “Bid’ah” dengan segala derivasinya memiliki efek domino dalam relasi keberagamaan kita. Bid’ah bagi saya menjadi sebuah instrument yang sangat kuat untuk menjadi pemecah belah umat bahkan pertentangan di dalam umat. Bid’ah pun bisa jadi, menjadi pelecut permusuhan antar ummat yang tidak habis energinya untuk terus digaungkan. Segala tuduhan sinkretisme ajaran “keberagamaan” Islam dengan tradisi dijembatani oleh kalimat “bid’ah” ini. Menggunakan bid’ah untuk mempromosikan ajaran yang dimilikinya menjadi masalah yang rumit, baik dari sisi ideologis maupun sosiologis. Dampaknya mengakibatkan kecurigaan, tuduhan bahkan kafir-mengkafirkan. Apakah ini membaikan?

Tulisan ini sengaja saya tulis untuk mencoba mencari benang merah definisi bid’ah di tengah literature atau khasanah keilmuan Islam. Tujuannya agar bisa meletakan bid’ah dalam posisi yang tepat di tengah ilmu Islam yang sangat komprehensif. Jangan sampai, keilmuan yang sangat luas itu, segala hal yang berhubungan dengan Islam dikerdilkan hanya dengan satu narasi “bid’ah”. Dalam kajian yang saya alami di berbagai kota, buku dan organisasi, ilmu Islam itu sangat luas, multi tafsir dan memiliki praktik keagamaan yang sangat variatif. Secara prinsip, Islam itu satu syariat, tetapi praktik yang berkelindan dalam kehidupan ternyata memiliki sinkretis dengan konteks, tradisi, adat, keyakinan dan sejarah yang melingkarinya. Bahkan, kelompok yang menyuarakan bid’ah pun sejatinya adalah satu kelompok yang memiliki variasi keberagamaan itu.

Bid’ah di Tengah Literatur Islam

Bid’ah selalu dikoneksikan kepada segala sesuatu yang tidak bersumber dari Nabi Muhammad saw. Bid’ah berkonotasi negatif yang menjadi antitesa “Sunnah”. Katanya, bid’ah harus ditinggalkan karena tidak terkoneksi langsung dengan Nabi dengan dalil “Kullu bid’ah ad dholalah, wa kullu dholalah fi an nar” (semua yang bid’ah itu sesat, dan semua yang sesat itu masuk neraka).

Ketika bid’ah ditarik kepada praktik kehidupan zaman yang berubah dan variatif, konsepsi bid’ah memiliki masalah. Tidak semua hal yang berhubungan dengan Nabi selalu ada dan relevan dengan zaman. Maka konsepsi bid’ah ini berubah dengan pembagian menjadi dua; “bid’ah dholalah” dan “bid’ah hasanah”. Maka narasi “kullu” terdistorsi oleh konsep “hasanah” bid’ah yang baik. Ketika baik pun sangat umum dan ada kebaikan yang tidak sesuai dengan definisi bid’ah tadi, maka konsepsi ini dipersemmpit lagi bahwa yang bid’ah itu adalah tentang “ibadah”. Jadi tentang hubungan sosial, kemanusiaan, kenegaraan dan seterusnya selama tidak berbenturan dengan ajaran Islam itu tidak bid’ah. Maka bid’ah pun mengalami spesifikasi makna hanya untuk ibadah.

Jadi sesungguhnya bid’ah itu tidak komprehensif. Maknanya selalu berubah dan konsepsinya pun tidak ajeg (reliabel) dan multi tafsir. Seandainya kita patuh terhadap bid’ah dalam definisi awal yang menyatakan semua ahli bid’ah masuk neraka, maka saya meyakini Islam tidak akan move on. Islam hanya akan bangga terhadap zaman dahulu. Islam akan terus dihantui oleh nostalgia yang mengasik-kan tapi mundur di belakang zaman yang terus inovatif dan berubah (al alam mutaghoyyar). Apakah itu yang dimaui Islam selama ini? saya harus berkata, “tidak”. Islam adalah agama yang relevan sepanjang zaman, Islam tidak anti kemajuan, Islam pun bisa menjadi ruh dari pemikiran, gerakan, amaliah dan bahkan menjadi pijakan oleh kaum non-muslim sekalipun.

Mari kita coba analisis, dimana bid’ah sesungguhnya dalam konteks literature Islam. Bid’ah sejatinya lawan kata dari Sunnah (t). Ia tidak masuk dalam kategori hukum dalam Islam. Ketika narasi bid’ah yang dikoneksikan dengan “masuk neraka”, maka ini wilayahnya Allah. Allah yang memiliki kebijakan mutlak masuk neraka atau tidaknya. Tidak ada yang melarang atau memaksa Allah untuk memasukan atau mengeluarkan orang dari neraka. Itu hak mutlak Allah yang manusia tidak bisa mengintervensinya apalagi menginterupsinya.

Dengan itu, manusia hanya diberi ayat, tanda atau indikator siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka. Golongan yang masuk neraka adalah ini, dan yang ahli surga yang ini. Narasinya lengkap di Qur’an dan Hadits (QH). Namun, QH merupakan indikator (ayat) yang memiliki variasi macam-macam. Keduanya memiliki ketersebaran yang beragam, sehingga orang berusaha keras untuk mentemakan dari sumber yang berserakan tadi. Upaya ini disebut mujahadah. Produk mujahadah (sungguh-sungguh) ini bernama “ijtihad”. Dalam kelemahan ijtihad, semua mujtahid memiliki kesamaan persepsi bahwa produknya tidak mutlak benar tetapi bersandar kepada sumber hukum dengan metodologi dan illat yang benar dan jelas. Jadi mereka sangat berhati-hati dan sangat tawadhu untuk memberikan ruang kepada ummat dalam mencari pembanding apabila produk ijtihadnya kurang disetujui.

Jadi, begitu rumitnya mengkomodifikasi ayat QH untuk menjadi sebuah kesimpulan hukum. Siapa yang masuk surga, siapa yang masuk neraka, di samping hanya Allah yang memiliki hak perogratif untuk itu, membutuhkan kompetensi yang mumpuni. Dari sini, muncullah kegiatan ilmu dengan bidang spesialisasi. Ada yang mengkomodifikasi hukum islam bernama fikih. Fikih pun tak selesai, karena produk fikih harus memiliki metodologi yang ketat bernama ushul fikih. Adapun untuk mencari makna Islam secara spiritual-transendental, Ilmu tasawuf adalah bidangnya. Kajiannya mampu untuk merumuskan bagaimana akhlak dan jalan (tarikat) untuk menuju Allah (makrifatullah). Semuanya terkoneksi untuk “mencari pintu surga” walaupun narasinya tidak sama. Begitupula dengan sebareg ilmu yang lainnya baik berupa rumpun maupun studi spesifik.

Lalu, jika berhubungan dengan baik-benar, betul-salah, indah-tidak indah, syah-batal maka harus meletakan dalam ilmu yang mengkajinya. Tidak asal-asalan mengatakan itu benar menurut Islam tanpa merujuk kepada ilmu itu. Memang setiap ilmu boleh dimasuki oleh siapapun, namun otoritas untuk menyimpulkan tujuan ilmu adalah meraka yang ahli dibidangnya. Tidak bisa asal comot dan tanpa verifikasi yang jelas dari mereka yang sangat otoritatif. Itulah gunanya ilmu dan ‘alim.

Lantas, bid’ah ada dimana? Saya merasa bingung bid’ah itu diletakan dimana. Jika itu termasuk hukum yang bisa memutuskan benar-salah atau syah-batal, maka bid’ah harus dikaji fikih, namun bid’ah tidak memiliki posisi inti. Hukum dalam ilmu fikih ada lima; wajib, sunnah, mubah, makruh, haram. Ada beberapa hukum di antara kelimanya atau persenyawaan dua hukum yang sangat berdekatan semacam “makruh tahrim”, tapi tidak ada nomenklatur bid’ah. Jika bid’ah menjadi antitesa Sunnah, maka kita harus menjelaskan Sunnah itu secara hukum.

Sunnah adalah hukum yang disandarkan kepada nabi (ma udhifa ‘ala nabi). Dalam ushul fikih disebutkan “aqwaluhu wa af’aluhu, watiqroruhu” (perkataan nabi, perbuatan dan ketetapannya). Perkataan (lisan) biasa disebut hadits (derivasi dari “hadatsa”) dan perbuatan disebut Sunnah (Sunnah dimaknai jalan atau tradisi). Jadi Sunnah yang dimaksud adalah sesuatu yang terkoneksi langsung ke Nabi. Masalahnya, secara hukum apakah semua yang terkoneksi ke Nabi diberi hukum wajib atau sunat? Jika Nabi sholat fardhu, maka hukumnya wajib, jika Nabi melakukan tahajud, maka hukumnya sunnat, jika nabi makan korma dan minum susu unta maka hukumnya mubah, jika nabi menolak makan dobt (kadal gurun) tapi tidak melarangnya, maka hukumya mubah, jika nabi menikah dengan lebih dari empat istri (Sembilan), tapi hukumnya haram untuk ummatnya.

Hukum yang berasal dari Nabi memiliki dampak yang beragam tidak tunggal. Artinya, segala sesuatu yang disunnahkan Nabi tidak lantas menjadi hukunya wajib dan yang dilarang Nabi tidak lantas memiliki ketetapan haram. Itu tergantug dari konteks dan harus dikoneksikan dengan peristiwa nabi yang lain sehingga kesimpulannya komprehensif dan menyeluruh. Kajian tafsir maudhu’i adalah salah satu upaya untuk mengkomodifikasi hukum menjadi lebih holistic. Kajiannya tidak sederhana dan tidak menggunakan ayat tunggal yang dipilah-pilih.

Artinya, bid’ah bukanlah salah satu hukum. Bid’ah hanya sebuah narasi yang sangat dinamis dan tidak bisa menjadi instrument hukum tunggal. Ia bisa menjadi illat walaupun tidak bisa berdiri tunggal untuk menentukan hukum. Bid’ah harus diletakan bukan untuk digunakan menghukumi tapi sebagai bagian dari illat (alasan) untuk istidhlal (mengambil hukum)

Jika bid’ah ditarik kepada surga-neraka yang sangat divine (ilahiah-spiritual) maka ilmu tasawuf harus menjadi pijakan. Neraka yang menjadi pusat terdampak dari bid’ah, tidak bisa diformulasikan tunggal kepada satu unsur saja bernama bid’ah. Ada banyak hal yang mengkonstruksi ayat-tanda golongan neraka yang valid baik dalam quran maupun hadits. Ilmu tasawuf mengajarkan kepada kita bahwa ahli surga adalah mereka yang mencari ridha Allah dengan segala cara yang dibenarkan. Cara ini diformulasikan melalui metode khas yang satu sama lainnya berbeda. Metode Tarikat Qodiriah berbeda dengan Sanusiah, begitu pula beda dengan Naqsabandiyah. Semua metode ini bertujuan sama yakni mendapatkan cinta Allah. Cinta ini berdampak kepada surga-neraka.

Lantas, kalau bid’ah itu masalah ibadah saja? Ibadah sangat umum, bahkan semua hal bisa dianggap memiliki nilai ibadah. Saya pun menyebarkan tulisan ini bisa bernilai ibadah, bukan? Baiklah kalau yang dimaksud ibadah itu adalah ibadah syariat yang mahdhoh. Bid’ah harus diletakan pada kaidah Qur’an yang mengkomodifikasi kaidah “ambillah segala sesuatu yang fardhu dan jangan kau sia-siakan. Tidak boleh menambah yang telah dibatasi, dan jangan kau melakukan perbuatan yang telah dilarang.”

Jadi ada dua hal yang perlu dibedakan, ada masalah ibadah ada masalah non-ibadah. (1) Untuk urusan ibadah jangan meninggalkan yang sudah difardhukan dan jangan ditambah kepada hal (syariat) yang telah dibatasi. Ketika sholat subuh dua roka’at dan syariat telah membatasinya, maka jangan ditambah. Tetapi ketika berdo’a iftitah dalam dengan narasi “allohumma ba’id baini ….” Atau “inni wajjahtu wajhiya…” maka Nabi telah mentaqrir-nya. Padahal do’a kedua tidak Nabi contohkan. Atau sholat wudhu yang dilakukan Bilal tidak dipermasalahkan Nabi, bahkan Nabi mendengar suara sandal Bilal di surga karena melakukan sholat itu yang tidak diperintahkan Nabi.

(2) Urusan non-ibadah yang difokuskan adalah larangan, bukan perintah. Selama itu tidak dilarang, maka diperbolehkan. Maka inilah yang menjadi dalil kenapa kita makan nasi tidak korma, kenapa kita naik mobil tidak naik onta dan kenapa kita belajar Ilmu dari Barat untuk melengkapi keislaman kita. Jika segala sesuatu tentang non-ibadah diperintah, maka Nabi membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk menunjukan mana yang halal mana yang haram. Tapi itu tidak mungkin, Nabi cukup bilang urusan duniamu harus ditinggalkan bila itu dilarang bahkan beliau mengucapkan antum a’lamu biumuri duniakum (kalian lebih tahu urusan duniamu). Nah, masalah yang timbul adalah ketika masalah kehidupan itu digiring kepada nilai agama. Di sinilah muncul pembid’ahan yang sifatnya mengikat.

Semisal kasus kendurian atau Muludan. Tidak ada narasi yang menunjukan bahwa itu ada dalam peristiwa nabi. Itu semua bid’ah. Dalam konteks bid’ah yang tidak ada dari nabinya, maka itu benar. Tetapi apa hukumnya jadi haram? Lantas karena haram, mereka yang melakukan menjadi kafir? Jika menilik hukum, maka harus dikomodifikasi dengan konstruksi illat (alasan dalil) yang jelas. Apakah kendurian (tahlil dan makan-makan bersama) merupakan kegiatan tak berdasar? Secara parsial, berdzikir dalam tahlilan ada QH-nya, membaca tahlil (la ilaha illallah) pun ada di QH-nya, berdoa bersama pun ada dalam QH-nya, begitu pun sholawat. Semuaya berdasar dan tidak ada yang menolak. Itu semua tentang ibadah. QH tidak membatasi waktu dan ruang yang harus terintegrasi dari ibadah itu. Jadi inovasi untuk melakukannya terbuka, toh tidak dibatasi. Makan-makan adalah bukan urusan ibadah, ini adalah urusan momentum, masalah tradisi dan sosiologi agama.

Tidak ada yang salah dalam kasus itu. Jika Rajaban-Muludan dan sejenisnya dibid’ahkan lantas jika kelompok yang membid’ahkan melakukan hal yang sama dengan istilah yang beda Semisal menggunakan kata “dauroh” tidak bid’ah. Alasan apa yang kemudian menjadi tidak bid’ah? Apakah ini masalah ashobiyah saja? Ini tidak dibenarkan dalam hukum Islam. Masalah non Ibadah tentu saja harus mengalami akulturasi dengan hal di sekitarnya. Islam tidak bisa berangkat dari ruang kosong. Ruang itu sudah dipenuhi dengan nilai-nilai yang lain yang tidak bisa dibunuh begitu saja. Berdamai dengan penghuni lain di ruang itu adalah keniscayaan. Islamisasi ruang dengan tidak membuat peperangan dan permusuhan adalah cara terbaik bagi Islam saya, Islam Anda dan Islam kita bersama. Bukankah begitu?{}

Bumisyafikri, 17/8/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *