Beranda / Uncategorized / Dauroh Media Online Masjid

Dauroh Media Online Masjid

 

Lokakarya Media Masjid Dalam Jaringan (Daring)

Tema : Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) Berbasis DKM

Disajikan oleh D. Farhan Kamil

 

Sejarah menunjukkan bahwa hal pertama yang dilakukan Rasulullah SAW ketika sampai di Madinah pada peristiwa hijrah dari Kota Makkah, adalah membangun masjid. Kita juga membaca di dalam sejarah bahwa  masjid pada zaman Rasulullah SAW dijadikan sebagai the center of activities (pusat dari segala aktivitas) baik kemasyarakatan maupun pemerintahan.Rasullulah  pun  menjadikan  masjid  sebagai  sentrum kegiatan,  mulai  dari  dakwah,  pendidikan,  pemberdayaan  masyarakat, pengembangan ekonomi, serta pelayanan sosial. Sehingga di masa Rasulullah SAW, masjid menjadi sentral kegiatan dakwah  dan  pusat kebudayaan  Islam dan  kota Madinah menjadi pusat peradaban. Dengan demikian masjid memiliki pengaruh yang sangat besar pada saat itu.

 

Menapaki  sepak terjang  Rasulullah SAW dengan segala uswah-hasanahnya, di beberapa kota besar di berbagai belahan dunia termasuk di negara-negara dengan populasi umat Islam minoritas, seperti di antaranya di London, Inggris, Jepang termasuk di Rusia, saat ini kehidupan masjid terus menunjukkan geliatnya sebagai sentral peradaban umat Islam. Masjid yang selama ini hanya dijadikan tempat ibadah berupa solat, membaca Al Quran dan kajian ilmu agama/pengajian, secara perlahan tetapi pasti menunjukkan perkembangan membanggakan dalam ruang lingkup pemberdayaan umat.

 

Beragam kegiatan yang berkaitan dengan keumatan, baik bidang, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat terus menjukkan loncatan loncatan signifikan. Akan tetapi persoalannya, di tengah pesatnya kemajuan dan perkembangan teknolgi informasi salah satunya dengah kehadiran internet, umat Islam belum memiliki sosial media (sosmed) atau istilah lain jejaring sosial berbasis masjid yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh umat islam di dunia sebagai wadah berbagi pemikiran. Bertukar pendapat dan pemberdayaan umat.

 

Populasi umat Islam yang besar di Indonesia dan di belahan dunia lainnya, sudah selayaknya memiliki jalur komunikasi tersendiri untuk berkoordinasi dan berkolaborasi, secara efektif dan efisien. Masjid sudah seharusnya menjadi basis gerakan dan tulang punggung peradaban secara masif, dengan bantuan teknologi informasi, gerakan ini bisa mendunia. Maka dari itu, DMI Kabupaten Tasikmalaya berupaya untuk mendekatkan setiap muslim kembali ke masjid dan melakukan gerakan bersama dari masjid, mewujudkan pemberdayaan umat  dalam berbagai sektor melalui alat bantu pemersatu umat Islam yakni media daring.

 

Berbicara media daring, tentu saja erat kaitannya dengan jurnalisme. Era demokrasi di Indonesia memberikan pengaruh dalam setiap aspek kehidupan masyarakat termasuk dalam bidang jurnalisme (shohafah/shihafah). Pertumbuhan demokrasi sejalan dengan pertumbuhan jurnalisme di Indonesia termasuk perkembangan mayarakat yang mulai berperan aktif sebagai jurnalis atau yang dikenal dengan citizen journalism (jurnalisme warga).

 

Saatnya kita ta’aruf dengan CITIZEN JOURNALISM

Sebagaimana dikemukan Mark Glaser di Mediashift, ada 9 alternatif nama untuk JW yakni: Grassroot Journalism (jurnalis akar rumput), Networked Journalism (jurnalis berjejaring), Open Source Journalism (jurnalisme sumber terbuka), Citizen Media (media warga), Participatory Journalism (jurnalisme partisipasi), Hiperlocal Journalism (jurnalisme sangat lokal), Bootm-up Journalism (jurnalisme bersifat dari bawah ke atas), Stand Alone Journalism (jurnalisme mandiri) dan Advocacy Journalism (advokasi jurnalisme).

 

Jurnalis Warga (JW) dapat diartikan sebagai peroses pengumpulan, penulisan, editing, produksi dan distribusi berita dan infromasi oleh orang-orang tidak terlatih sebagai wartawan profesinal. JW dapat diartikan sebagai siapapun yang dengan cara apapun berpartispasi dalam pengumpulan dan penyebaran berita (Mazcharasvili, 2012).

 

JW adalah kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat atau aktivitas jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa (bukan wartawan) dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita. (WIKIPEDIA).

 

Sementara citizen journalism menurut Duffy, Thorson, dan Jahng (2010) merupakan seorang individu yang bukan ahli di bidang jurnalistik, namun dapat mencari dan mengolah berita yang kemudian dapat dipublikasikan. Shayne Bowman dan Chris Willis mendefinisikan citizen journalism sebagai, the act of citizens playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing, and disseminating news and information.

 

Perkembangan teknologi, salah satunya dengan kehadiran internet yang memudahkan masyarkat awam untuk mengakses dan menyampaikan informasi. Kehadiran media online membuat masyarakat mempunyai pilihan lain untuk mengakses berita yang diinginkannya tetapi tidak disediakan oleh surat kabar, radio, dan televisi. Teknologi menjadikan sarana produksi komunikasi yang sebelumnya hanya dikuasai pengelola media massa, bertransformasi menjadi milik masyarakat banyak. Selain pergeseran kepemilikan dan pengelolaan media massa, terjadi pula pergeseran pelaku kegiatan jurnalistik. Dahulu aktivitas reportase hanya menjadi monopoli wartawan, tetapi sekarang semua orang dapat menjadi “wartawan dadakan”.

 

Dalam JW, warga tidak hanya menjadi konsumen media tetapi juga bisa terlibat dalam proses pengelolan informasi itu sendiri mulai membuat, mengawasi, mengoreksi, menanggapi atau sekedar memilih informasi yang ingin dibaca. Berita atau informasi yang diproduksi JW, biasanya disebarluaskan melalui berbagi media, baik media mainstream yang menyediakan ruang JW maupun media milik warga sendiri seperti blog, majalah, buletin, radio komunitas dan sebagainya. Fenomena ini tampaknya akan selalu tumbuh, dimana warga dapat bekerja layaknya wartawan dengan cara yang disengaja. Dengan adanya internet, khalayak mampu menyebarkan informasi dalam bentuk teks, audio, komentar dan analisis.

 

JW dibagi dalam beberapa bentuk yaitu, Pemberdayaan masyarakat. Yang termasuk dalam kategori ini ialah komentar yang dicantumkan dalam sebuah berita,  blog pribadi, foto atau video yang direkam dari kamera telepon genggam, ataupun berita yang ditulis oleh suatu komunitas. Kemudian berita independen atau web seperti, Partisipasi pada berita situs (web partisipatoris) seperti DMITASIK.ORG,  Situs media kolaboratif seperti Slashdot dan Kuroshin. Tulisan dalam milis atau e-mail dan situs pemancar pribadi seperti KenRadio.

 

Etika

Kegiatan JW dilakukan secara bebas oleh setiap individu, maka etika sebagai seorang individu dan JW harus selalu dijunjung. Artinya segala hal yang ditulis atau diunggah di platform media apapun, itu akan menjadi bersifat publik. Maka sebagai seorang JW harus dapat membedakan mana tulisan pribadi atau hanya menyangkut kepentingan penulis, dengan tulisan yang dapat dibaca atau dikonsumsi oleh khalayak atau masyarakat umum.

 

Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) merupakan salah satu batasan atau aturan bagi jurnalis termasuk JW, karena memang belum ada satu undang-undang yang mengatur JW ini. Undang-undang ini berisi tentang aturan akan perbuatan yang dilarang dalam internet, yaitu tentang pencemaran nama baik, pornografi, konten SARA, dan lainnya. Jadi, sebenarnya dasar utama para JW dalam berkegiatan adalah hati nurani.

 

Kendala

Kehadiran JW kerap diwarnai munculnya hoax, kualitas yang rendah, dan kesulitan verifikasi. Adanya kebebasan dan ketiadaan aturan membuat berita yang dipublikasi terkadang memiliki kualitas rendah selain itu juga kebenaran berita yang tidak pasti menjadi sesuatu yang patut untuk diantisipasi.

 

Kelemahan profesionalitas. JW bukanlah profesional, sehingga banyak menggunakan prasangka dan kurang objektif, cara pelaporan berita juga menjadi terpengaruh. Kemudian tidak representatif. Banyak masyarakat yang tidak mau berpendapat dikarenakan ketakutan akan perbedaan pendapat sehingga berbagai perspektif yang ada juga juga belum representatif.

 

Perbedaan

Kemunculan JW menjadi bukti bahwa akses media semakin terbuka bagi khalayak. Setiap orang bisa terlibat dalam kegiatan mencari, menulis, dan melaporkan informasi dalam bentuk berita, artikel, foto, video, dll. Meskipun terlihat mudah dilakukan.

 

Profesionalisme. Jurnalis merupakan suatu profesi seseorang yang bertugas mencari, mengolah, dan menyebarkan informasi. Melalui profesi tersebut, mereka mendapatkan gaji. Berbeda dengan JW. Menjadi seorang jurnalis profesional membutuhkan keahlian tertentu dan jurnalis adalah orang yang sudah terlatih. Artinya, tak semua orang dapat membuat suatu berita seperti menginvestigasi fakta, menulis straight news, feature, dan sebagainya tanpa melalui proses pelatihan. Jurnalis terikat oleh sistem yang ada di media massa, seperti aturan atau undang-undang tertentu. Pers diatur oleh sistem pers, kemudian sistem pers diatur oleh sistem politik. Ketika narasumber mengatakan “off the record”, maka wartawan tidak boleh merekamnya dan menuliskannya di media.

 

Kemunculan JW seolah menjadi lawan kata dari nation state. Dalam nation state, warga negara merupakan individu yang memiliki bukti legal sebagai warga negara dalam suatu negara. Bukti tersebut merupakan salah satu syarat menjadi JW selain memiliki akses internet dan bisa menulis, karena menjadi jurnalis tidak diperkenankan anonim. Seorang jurnalis juga harus memperhatikan kualitas tulisan, karena kualitas isi tulisan dapat mempengaruhi khalayak. Tulisan harus dapat dipertanggungjawabkan, apabila melanggar maka akan ada hukum yang mengaturnya.

Bagaimana dengan JW?

 

DMITASIK.ORG wadah untuk kita berekspresi. Menyuguhkan tulisan atau gambar yang informatif, edukatif dan menghibur serta menjembatani umat lebih bedaya dan berenergi berangkat dari masjid sebagai pusat pergerakan yang sebenarnya.

 

Semoga bermanfaat!

Mohon maaf atas kehilapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *