Beranda / Uncategorized / Desakralisasi “Ustadz” di Zaman Now

Desakralisasi “Ustadz” di Zaman Now

Oleh: Zaki Mubarak

Dalam dua hari ini kita disuguhi dua acara tivi yang mengandung unsur keagamaan serta membuat riuh rendah para penontonnya. Unsur keagamaan yang dimaksud adalah dikarenakan menggunakan nomenklatur “ustadz sebagai pemanis acaranya. Kasus pertama tentang “ustadzah” N*** yang menulis Ayat Suci dengan menggunakan alat elektronik dengan penulisan yang salah. Bukan hanya sekali, kesalahan ini dilakukan berkali-kali sehingga pihak manajemen tivi menuduh alat elektronik yang memiliki kesalahan. Kasus kedua adalah acara ILC tentang penggunaan nama ustadz baik di pihak yang setuju dengan reuni 212 maupun ustadz yang menolaknya.

Dua kasus ini mengerucut pada sebuah kekacauan istilah ustadz yang seharusnya diletakan pada tempat yang tinggi menjadi sebuah dagelan yang menurunkan marwah istilah ustad itu sendiri. Dalam persepsi publik, di kedua acara itu ada upaya mengguyonkan istilah “ustadz” untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Dalam Bahasa saya, ini adalah kasus desakralisasi Ustadz, dimana setiap orang dengan mudah mengaku dirinya sebagai ustadz, walaupun jauh panggang dari api. Ustadz yang harusnya sakral dijadikan bahan olok-olok sehingga bisa jadi ini menjatuhkan Islam itu sendiri. Salah? Tidak sih, karena tidak ada standar nomenklatur ustadz yang baku, sehingga orang bisa menafsirkan masing-masing atas ustadz yang disandangnya.

Nah, tulisan ini akan mencoba menggali benang merah desakralisasi nomenklatu ustadz. “Ustadz” yang hari ini sangat mudah disebut dan lebih banyak dipromosikan lewat dunia maya menjadi sebuah barang murah dan nilainya tak sehebat Kyai, Syeikh, Habib atau lainnya. Penyebutan ustadz yang diakibatkan pengakuan dirinya sebagai ustadz di dunia maya, mau tidak mau berkonstribusi besar terhadap desakralisasi istilah ustadz yang dimaksud.

Ustadz: Nomenklatur dan Padanannya

Bila kita telusuri istilah ustadz, maka kita akan mendapatkan sejarah penggunaan ustadz di Indonesia yang panjang. Ustadz yang berarti “guru” atau pengajar di dalam pendidikan Islam tidak serta merta hadir saat Islam itu datang ke Indonesia. Saat islamisasi nusantara oleh para wali (songo), penggunaan istilah “guru” lebih diterima daripada kata “ustad”. Untuk membuat diferensiasi pendidikan umum yang menggunakan “guru” maka pesantren yang dikembangkan oleh pendidikan Islam mengambil istilah Kyai sebagai pembeda. Walau demikian, penggunaan santri untuk siswa (pembelajar) tetap diambil sebagai akulturasi pendidikan Islam dan Hindu.

Pertimbangan tidak menggunakan ustad untuk pendidikan Islam saat itu adalah proses islamisasi senyap dengan menggunakan instrument kultural. Saat itu, kyai adalah istilah yang sangat memiliki posisi tinggi dalam terminology jawa, ia sangat “sakti”, dihormati, memiliki status sosial tinggi dan symbol dari keagungan. Apabila saat itu menggunakan “ustadz, maka bisa jadi ada sebuah penolakan dari kaum Hindu (yang sedang proses islamisasi), karena terminologi “ustadz” adalah sesuatu yang baru dan asing.

Setelah Islam diterima secara kultural, maka ada gelombang purifikasi (pemurnian) akidah Islam selanjutnya. Islam yang pada awalnya diajarkan dan dilembagakan secara kultur, pada gelombang purifikasi ini dialihkan menjadi structural. Penggantian istilah yang mengandung Hindu diupayakan diganti walaupun ini membutuhkan evolusi yang lama. Salah satu yang mengalami perubahan itu adalah istilah guru dalam Islam menjadi ‘Ustadz”. Karena evolusi ini masih dalam on progress, istilah Kyai, Habib, Syeikh, Ajeungan, Buya (Abuya) masih belum tergoyahkan. Bahkan, istilah ini memiliki definisi yang khas dari sekedar guru. Sebut saja Kyai. Ia disebut kyai kalau menjadi guru Islam yang memiliki kedalaman ilmu dan memiliki pesantren dengan empat komponen utama; santri, madrasah, masjid dan kitab kuning.

Dalam konteks ini, ustadz pun memiliki definisi khusus diantara padanan kata yang sama. Ustadz adalah penceramah atau muballigh (pemateri) dalam ceramah yang diselenggarakan secara umum. Ada beberapa sekolah Islam yang menggunakan istilah ustadz untuk penyebutan gurunya, namun ini tidak umum, karena di persekolahan, ustadz masih dipanggil guru begitupun di madrasah. Untuk perguruan tinggi (Islam) tidak menggunakan ustadz, tapi lebih menggunakan “dosen”. Untuk konteks pesantren, banyak istilah yang berkembang; kyiai, ajeungan, Akang, Ceng, Gus, Cak, Mudaris, Ustadz, dan lainnya.

Ustadz dan Media Sosial

Di dunia milenial yang penuh dengan ragam format media membuat ruang public tidak dikuasai oleh satu saja format informasi. Sekarang, semua orang bisa memproduksi apapun terkait dengan pemikirannya sehingga memenuhi ruang public. Perang pemikiran yang dahulu hanya muncul di tingkat elit, sekarang “pertempuran” itu dilakukan di tingkat individu. Hal inilah yang membuat munculnya istilah baru atau muncul definisi baru dari sebuah istilah lama.

Ustadz yang dahulu didefinisikan sakral sebagai sebutan untuk kelembagaan pendidik Islam, pada zaman Now ini setiap orang bisa mengklaim sebagai ustadz. Ketika ada semangat keislaman yang tinggi maka banyak yang mengklaim dirinya sebagai ustadz. Sebutan ini bisa diakibatkan oleh klaim dirinya atau sebutan orang lain yang tidak paham atas nomenklatur ustadz dan hanya melihat ia bisa bicara di depan publik, mampu memoles perkataannya dengan sedikit Qur’an dan Hadits.

Kalau dulu Ustadz harus mampu menjadi pembicara diruang public secara konvensional walaupun keilmuan agamanya kurang semacam “Ustadz Kiwil, Ustadz Ibing (Alm), maka hari ini bisa didesain dengan media sosial. Para penggiat sosial dengan konten-konten keagamaan dalam campaignnya bisa mengklaim dirinya sebagai ustadz atau disebut ustadz karena tulisan-tulisannya oleh para pengikutnya. Mungkin di awal ia begitu risih dan tidak enak disebut ustadz, namun secara bertahap panggilan itu melekat pada dirinya, sehingga dengan percaya diri ia pun mendeklarasikan sebagai ustadz di dunia maya bahkan di dunia nyata.

Ustadz Asli vs. Ustadz KW

Dalam literature Islam, ustadz tentu saja memiliki definisi yang tidak mudah untuk disandangkan kepada seseorang. Ustadz harus memiliki keilmuan keagamaan yang mumpuni. Paling tidak, dalam konteks Indonesia Ustadz hanya bisa disandang oleh lulusan pesantren karena hanya lembaga inilah yang memilki visi untuk mencetak ulama. Lembaga lain semacam perguruan tinggi Islam tidak secara implisit mengatakan mencetak ulama (ustadz) tetapi mereka lebih kepada mengkader sarjana.

Untuk belajar di pesantren, ada banyak hal yang harus dipelajari. (1) belajar mutlak Bahasa Arab, sehingga Bahasa Arab merupakan makanan sehari-hari, bahkan untuk menuliskan Bahasa lokalpun harus menggunakan khot Bahasa Arab (Arab Pegon). (2) belajar ilmu fiqih, karena fikih inilah sebagai way of live dalam beragama. (3) belajar tasawuf, dimana ilmu inilah yang akan memandu santri menjadi soleh di mata Tuhan dan soleh di mata sesama (kesolehan sosial).

Untuk belajar di pesantren, tidaklah semudah belajar di sekolah. Ia membutuhkan waktu 24 jam untuk belajar, dari mulai belajar ilmu keagamaan, ilmu kemandirian sampai kepada ilmu kemasyarakatan. Dunia pesantren adalah sub kultur kehidupan, sehingga muatan belajarnya adalah tentang kehidupan. Di sanalah budaya lokal di lestarikan. Bahasa lokal, seperti Sunda atau Jawa diwajibkan sebagai Bahasa pengantar baik dalam mengaji ataupun dakwah kepada masyarakat. Model pendidikan kultural lebih melekat kepada lulusan pesantren daripada structural yang ditunjukan oleh lembaga persekolahan atau perguruan tinggi.

Nah, kebalikan dari ustadz lulusan pesantren yang asli adalah Ustadz KW. KW adalah istilah pengganti “mirip”, yang dipinjam dari istilah barang aspal (asli tapi palsu). Ustadz KW adalah orang yang semangat agamanya tinggi namun tidak memiliki pengalaman panjang tentang belajar Agama. Ketika melihat agama kultural yang “dituduh” banyak penyimpangan dan ketidak samaan persepsi dalam praktik kehidupan, maka ustad KW ini merasa paling pintar. Dengan beberapa kali mengaji di majelis, Ia merasa paling jago dan paling mengerti pada agama. Maqom agama yang paling tinggi yaitu Makrifat atau paling tidak tawadhlu, belum dicapainya. Dengan demikian, ciri dari ajarannya lebih mudah tersulut, tidak tenang, dangkal dalam berpikir agama, berpikir tunggal terhadap Qur’an dan Hadits dan mudah mengkafirkan orang lain.

Ada banyak contoh ustadz KW di republik ini. Bahkan standar menjadi ustadz di tivi biasanya lebih nyeleneh dari sekedar ustadz KW karena diakibatkan kepentingan rating. Biasanya, ustadz tivi harus marketable, harus bisa melucu, harus ganteng, harus unik walaupun ilmu keagamaannya tidak layak. Syarat-syarat itu mungkin akan mendegradasi kelembagaan ustad di ruang public, sehingga banyak orang mengklaim bisa menjadi ustadz. Mereka akan melihat standar tivi yang menyebar di ruang public. Bahkan parahnya, ustadz lulusan pesantren yang benar-benar ustadz dengan keilmuannya memiliki posisi lebih rendah dari ustadz kw ini.

Perlukah Merevisi Nomenklatur Ustadz?

Bagi saya, merevisi istilah ustadz yang sudah kadung terdesakralisasi menghabiskan energi. Untungnya, kita masih memiliki istilah lain yang lebih tinggi derajatnya semacam Kyai atau ulama. Ustadz dalam konteks lexico grammar kita memiliki definisi yang tidak lebih tinggi dari Ajeungan, Buya, Kyai, Syeikh atau istilah lainnya, sehingga untuk merevisinya tidak terlalu penting.

Namun demikian, ketika “Ustadz” sudah dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab maka akan menjatuhkan marwah Islam itu sendiri. Ujungnya, Islam akan dituduh tidak memiliki konsistensi istilah dan dapat dengan sendirinya memiliki masalah nomenklatur di ruang publik. Kemungkinan yang bisa kita lakukan adalah, bagaimana kita sebagai manusia yang tak pantas disebut ustadz lebih menghormati lembaga ke-ustadz-an dan tidak menggunakannya secara seporadis. Ustad Abu Janda al Boliwudi adalah contoh yang mendegradasi ustadz. Sudah menempelkan “janda” setelahnya juga menggunakan “boliwudi” dibelakangnya adalah salah satu upaya sadar untuk merendahkan Ustadz sebagai sebuah institusi yang terhormat.{}

Bumisyafikri, 6/12/17

 

Satu Komentar

  1. ustaz jaman now…
    ustaz akhir jaman

    irpan_rahmar_ sapàat_pba1a_cipasung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *