Beranda / Uncategorized / Hebatnya Al Qur’an dari Sudut Struktur Kalimat

Hebatnya Al Qur’an dari Sudut Struktur Kalimat


Oleh: Zaki Mubarak

Diakui oleh banyak para ahli Bahasa, bahwa Bahasa Arab (BA) adalah bahasa yang memiliki kehebatan. Kehebatan ini bisa dalam struktur gramatik (prescriptive), semantic, pragmatic, semiotic dan memiliki kosakata yang kaya. Pemilihan BA sebagai bahasa Al Qur’an sekaligus menetapkan BA sebagai bahasa Agama Islam. BA dan Islam memiliki hubungan seperti dua sisi mata uang. Berbicara Islam harus berbicara BA. Islam dan BA tidak dipisahkan satu sama lain.

Dalam kehebatannya, BA dalam Al Qur’an diakui sebagai mukjizat. Paling tidak ada dua alasan pokok: (1) Bahasa Al Qur’an memiliki nilai sastra yang tinggi baik dari sudut pemilihan kata maupun dari makna kata. Lihat surat-surat pendek Al Qur’an yang begitu indah dibaca, (2) Bahasa Al Qur’an dapat dengan mudah dihapal dan menggunakan irama yang berbeda. Bila kita melihat bahasa kitab suci lain (semisal bibble atau taurat), maka menghafal Qur’an lebih mudah. Anak kecil yang baru berusia lima tahun bahkan di bawahnya dapat menghafal Qur’an dengan mudah. Mungkin semua bahasa bisa dihapal, tapi kemudahan Qur’an lebih kental.

Nah, tulisan ini berupaya melihat salah satu contoh potongan ayat Al Qur’an yang memiliki kehebatan sintaktik (struktur kalimat) yang berdampak kepada semantic (makna). Kajian ini disebut ilmu balaghoh (pragmatic) udhul sederhana. Banyak sekali ayat Al Qur’an yang bisa dijadikan contoh begitu hebatnya struktur dan makna Qur’an dalam memandang sesuatu. Hal ini tidak bisa dipahami oleh orang yang tidak ahli dalam bahasa Arab dan hanya menggunakan instrument terjemahan saja, baik terjemahan literal (perkata) maupun tafsiriah namun perlu memahami BA dan ilmu balaghoh.

Contoh dalam tulisan ini adalah tentang keutamaan ilmu dalam Al Qur’an. Sebenarnya ada banyak ayat yang menunjukan keutamaan ilmu, seperti QS 3:7, QSQS 3:18, QS 4:38, QS 11: 24, QS 13:16, QS 29:43, QS 35:19, QS 35:28, QS 39:9, dan QS 58:11. Nah kita akan mengambil kehebatan potongan ayat QS Al Mujaadilah (58) ayat 11, sebagai berikut:
…يرفع الله الدين امنوامنكم والدين اوتواالعلم درجت
Artinya: … niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Mari kita analisis. Analasisnya menggunakan sintaksis (nahwu). Ada tiga perbedaan fi’il (kata kerja) dalam potongan ayat itu, yaitu : .يرفع …. امنوا…. اوتواالعلمAda tiga fi’il yang berbeda yang digunakan dalam potongan ayat ini, yaitu fi’il mudhori (يرفع) fi’il madi mabni fa’il (امنوا) fi’il madi mabni maf’ul (اوتوا). Tentu saja penentuan fi’il ini tidak berarti tidak memiliki tujuan.

Fi’il mudhori memiliki makna hal (present) dan istiqbal (future) sedangkan fi’il madi memiliki makna madi (past). Dalam fiil mabni fa’il (active voice, kalimat aktif) subjek memiliki dampak langsung kepada pekerjaan, sedangkan fi’il mabni maf’ul (passive voice, kalimat pasif) subjek digantikan oleh objek dengan tidak secara langsung bertindak pada kata kerja (fi’il).

يرفع dengan menggunakan fiil mudhore artinya bahwa bisa present (kini) bisa future (masa depan). Bila ditela’ahi, Allah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu dalam dua episode yaitu kini dan nanti. Kini berarti saat orang itu memiliki iman dan ilmu dan berdampak kepada masa depan nanti di akhirat. Artinya orang beriman dan berilmu akan ditinggikan derajatnya saat ini dan nanti di akhirat. Kata يرفع ini dapat diganti dengan fi’il madi رفع yang berarti sudah meninggikan, tapi maknanya akan lain yakni makna “sudah”.

يرفع juga menunjukan bahwa Allah meninggikan bermakna proses, bukan instan. Penggunaan mudore bisa bermakna proses seperti dalam kalimat كن فيكون. Sehingga Allah meninggikan derajat membutuhkan proses yang panjang tidak “ujug-ujug”.

امنوا Adalah fi’il madi bina fa’il yang berarti kata kerja transitive aktif. Pertanyaan pertama kenapa tidak menggunakan fiil mudhore, pertanyan kedua kenapa tidak menggunakan passive voice. Jawabannya adalah karena fi’il madi bermakna “pasti”, datangnya pasti dan tidak dapat disangkal keberadaannya. Iman datang kepada seseorang dengan menggunakan instrument kepastian, dimana hukumnya telah ditetapkan oleh Allah. Tidak menggunakan passive voice karena iman datang harus diupayakan oleh yang memilikinya. Iman tidak bisa diberikan atau diturunkan tapi iman dicari (aktif). Bila saja seorang muslim keimanannya masih dalam koridor diturunkan karena turunannya (genetic), maka imannya belum sempurna. Maka mencari iman dengan upaya dan usaha akan lebih dihargai oleh Allah.

Iman juga menggunakan fi’il madi karena senantiasa bisa berubah-rubah sesuai kondisi hati (qolb). Seperti adagium الايمان يزيد باالطعة وينقص باالمعصية yang berarti iman bisa bertambah (dipupuk) karena taat dan berkurang karena maksiat dapat menunjukan bahwa iman bisa berubah. Perubahan ini sesuai dengan hukum Allah yang memiliki hubungan sebab-akibat.

Berbeda dengan امنوا, اوتواالعلم menggunakan fi’il madi bina majhul (maf’ul). Kata yang dituju اوتواالعلم sebetulnya العلم yang berarti berilmu, tetapi Allah menyimpan kata instransitif-passif اوتوا yang bermkna diberi. Kenapa Allah tidak langsung mengatakan علم yang berarti mendapatkan ilmu atau mencari ilmu?

Ini artinya ilmu pengetahuan itu diberi oleh Allah. Manusia tidak memiliki kekuasaan dalam menciptakan ilmu. Hal ini selaras dengan istilah research yang menjadi instrument utama dalam mencari ilmu baru. “Re” artinya ulang, “search” artinya mencari. Jadi research adalah mencari kembali (ilmu yang ada tapi belum diketahui). Ilmu itu adalah anugerah yang diberikan oleh Allah sehingga tidak ada kuasa sedikit pun manusia untuk menciptakannya. Bukankah ilmu manusia sangat sedikit sekali?

Penggunakan اوتواالعلم menunjukan bahwa manusia itu harus tawadhu dalam keadaan memiliki ilmu. Karena ilmu itu diberi oleh Allah (sebagai Subjek) maka manusia (sebagai objek) harus tawadhlu atas pemberian ilmu oleh Allah. Tidak sulit bagi Allah untuk mencabut ilmu yang ada di setiap manusia, seperti dengan “pikun”, “gila” atau ujug-ujug lupa terhadap pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga tidaklah salah bila kaum ilmuwan mengatakan bahwa “buah dari ilmu adalah ketawadhuan”.

Tambahan, kenapa درجت diposisikan di akhir kalimat? Ini menunjukan bahwa درجت adalah akhir dari tujuan orang beriman dan yang diberi ilmu. Derajat adalah pahala kemuliaan yang akan bersifat dampak dari proses yang panjang dari pemupukan iman dan pengharapan pemberian ilmu dari Allah. درجت Adalah output dari input yang bernama iman dan ilmu dengan proses يرفع. {}

Belajar nulis Arab di computer.
Bumisyafikri, 15/12/17

7 Komentar

  1. subhanallah

    irpan_rahmat_ pba1a_iaic

  2. سبحان الله
    ممتاز

  3. Nurlatifah Fauziyah

    Subhanallah

  4. Luthfah Tsamrotul mufidah

    ممتز

  5. Subhanalloh….
    Mumtaaz Ustadz.

  6. Fitri Sri wahyuni

    Subhanallah

  7. Subhanallah mantap!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *