Beranda / Uncategorized / Ibadah Armina dan Cerita Uniknya (Part II)

Ibadah Armina dan Cerita Uniknya (Part II)

Oleh: Zaki Mubarak

 

TULISAN terdahulu telah menceritakan prosesi Wukuf. Saya berjanji akan bercerita tentang kisah-kisah unik yang hadir di dalamnya. Namun agar komprehensif, tiga prosesi penting dalam ibadah Haji (wukuf, mabit dan jumroh) ini saya akan habiskan dulu. Selanjutnya saya akan menceritakan beberapa catatan unik secara pribadi atau sahabat selama di tanah suci.

 

Prosesi Ibadah Armina (2)

 

Kedua adalah ibadah mabit di Muzdalifah. Tempat ini mengingatkan saya kepada seorang pengusaha mantan isterinya pedangdut Nazar. “Mabit” adalah tinggal sementara untuk sekedar mengambil kerikil dalam kebutuhan jumroh. Jumlah batu yang diambil adalah sejumlah melontar jumroh yaitu; ula, wustho dan aqobah. Ditambah sejumlah hari yang dikaitkan dengan rencana, bisa nafar awal atau nafar tsani. Kalau nafar awal berarti dua hari tanggal 11 dan 12, sedangkan nafar tsani berarti tiga hari ditambah tanggal 13 dzulhijjah. Setiap lontaran terdiri  dari 7 batu. Jadi, jumlah kerikil yang harus dikumpulkan adalah 7 kerikil X 3 jumroh X 2/3 hari. Semuanya berjumlah 42 atau 63 kerikil.

 

Pada saat berangkat dari padang Arofah ke Muzdalifah adalah waktu yang sangat sibuk. Lebih dari empat juta orang secara bersama-sama berangkat ke muzdalifah. Maka di sinilah perlu adanya pengaturan waktu. Bagi haji reguler, maka ini bisa ditertibkan oleh negaranya masing-masing, walaupun pada pelaksanaannya tidak semudah dibayangkan. Mobil-mobil yang telah disewa pemerintah harus berkompetisi dengan mobil bis angkutan umum yang mengangkut jamaah haji non reguler. Untuk yang menggunakan jasa haji khusus, mobil bis itu sudah di parkir di tempat yang tidak terlalu jauh dari pada Arofah. Bila kita melihat ke tempat yang tinggi (semacam gunung), maka akan terlihat bis berjejer menunggu waktu ini.

 

Karena berdesakannya di jalanan, tidak sedikit jemaah yang tidak terangkut pada saat waktu yang tepat untuk mabit. Biasanya, jemaah diangkut mulai bakda dzuhur, tetapi sampai malam pun masih banyak menyisakan jemaah di padang Arofah. Dan juga, bila dipaksakan masuk muzdalifah untuk mabit, maka tidak terbayang seberapa banyaknya orang berkumpul di muzdalifah yang luasnya tidak seluas Arofah. Jadi di sinilah letak perjuangan jemaah.

 

Ketika sudah mendapatkan kendaraan untuk berangkat ke Muzdalifah, maka kita akan turun di lapangan luas, dimana orang harus mencari kerikil. Saat itulah ada banyak cerita-cerita unik dalam pencariannya. Allah menurunkan kemudahan kepada satu individu dan sekaligus menguji kesulitan kepada individu lainnya. Kerikil yang yang harus dikumpulkan harus diambil dari daerah sini dan jika kita telat untuk datang ke daerah ini, maka kerikilnya sudah habis. Coba bayangkan empat juta orang membutuhkan 63 kerikil dan didapatkan pada lapangan yang tidak terlalu luas itu.

 

Mabit di Muzdalifah tidak diwajibkan untuk menginap. Orang bisa berdiam lama kalau memiliki waktu yang cukup, atau bisa melewati saja dengan niat mabit bila waktunya tidak cukup untuk segera ke Mina. Waktu itu, saya tinggal sebentar dengan banyak jemaah yang (mungkin) terakhir. Walaupun terakhir, saya masih melihat bagaimana padatnya bis di parkiran yang satu sama lain tidak bisa bergerak. Jamaah yang telat dalam mengumpulkan kerikil akan berdampak kepada telatnya bis untuk segera berangkat dari parkiran.

 

Setelah datang ke Mina, maka jemaah sudah disediakan tenda-tenda. Di beberapa video yang tersebar di WA atau Youtube, tenda-tenda putih itu sangat banyak, ribuan atau mungkin sampai jutaan. Sebelum ibadah lontar jumroh tiba, saya dan jemaah lain pada haji plus berziarah pada tempat ini. Sungguh luar biasa, tempat yang sangat luas, jalanan yang sangat besar berbeton dan bangunan yang sangat tinggi menjulang. Bila melihat sejarah, tempat lontar di Mina itu biasa saja tanpa ada bangunan, nah sekarang tempat itu menjadi bangunan empat lantai yang super megah.

 

Di samping gedung lontar, ada jalan kereta Api yang menghubungkan Arofah dan Muzalifah. Jemaah haji yang tidak menggunakan bis, mereka menggunakan kereta ini.  Di atap gedung pun ada lapangan luas dimana helikopter berjaga-jaga. Pada tanggal 11, 12, 13 inilah di langit Mina akan seperti suasana perang dengan banyak pesawat helikopter di atas kepala kita. Untuk memudahkan setiap jamaah melontar, gedungpun dilengkapi eskalator dan lift. Pokoknya gedung ini lengkap dan menurut saya kokoh.

 

Ada tiga kelompok yang melakukan lontar jumroh dilihat dari tempat tinggalnya. (1) haji reguler yang diatur pemerintah dengan bertempat tinggal di tenda-tenda yang putih tadi. Perjuangan mereka dalam berpanas-panasan di tenda akan menjadi cerita tersendiri. (2) haji dengan haji khusus yaitu mereka tinggal di hotel yang berdekatan dengan Armina. Saat melontar jumroh tiba, maka mereka datang ke lokasi lontar sampai tengah malam tiba, dan setelahnya kembali ke hotel untuk istirahat dan menunggu melontar hari berikutnya.

 

(3) haji dengan tinggal di pinggir-pinggir jalan. Haji ini beranggotakan haji orang Saudi, TKW, Haji back packer, para pedagang dan lainnya. Di jalanan yang berdekatan dengan gedung lontar akan ditemukan ribuan bahkan jutaan orang tinggal di sana. Mereka ibarat lautan manusia. Jika para jemaah tidak ingin jauh melontar, maka tempat jalanan inilah yang dipakai untuk tiduran, berdzikir, atau bersenda gurau sesama jemaah untuk menghilangkan kepenatan.

 

Di pinggir jalanan Mina, tidak terlalu banyak WC. Bila kita ingin sekedar membuang air besar atau kecil, maka harus mengantri dan sesak sekali. Aroma WC yang tidak bersahabat dengan hidung pun akan mudah kita cium di ruangan ini. Bukan hanya itu, ada banyak kain Ihrom yang sudah digunakan pada saat wukuf di Arofah dan Mabit di Muzdalifah di buang di WC ini. Saya melihat ada banyak kendaraan berat jenis “beko” yang membersihkan WC dari banyaknya kain ihrom.

 

Ketiga Melontar jumroh. Saat tinggal di Mina dalam tanggal 11, 12 dan 13, kegiatan jemaah hanya menunggu untuk melakukan ibadah jumroh. Ada tiga tiang yang harus dilontar, yaitu Ula, Wustha dan Aqobah. Karena tempat melontar telah di rubah jadi gedung, maka desakan dan rebutan antar jemaah dapat dihindari. Tiang simbolik jumroh telah didesain dari mulai tingkat 1 sampai 4. Jalanan di gedungpun sangat luas dan rapih. Para jemaah harus menentukan akan di lantai berapa mereka melontar dan harus ingat jalan pulang, takut kesasar. Ada banyak petunjuk jalan yang dapat membantunya.

 

Melontar utamanya dilakukan pada saat terbitnya matahari. Namun untuk mencegah padat dan sesaknya gedung, maka melontar diatur oleh pemerintah sebagai antisipasi kepadatan. Ada banyak jemaah yang memaksa untuk melakukan lontar di saat utama ini. Bagi para jemaah haji plus, melontar seringkali di lakukan pada jam tengah malam. Di hari pertama setelah mereka jumroh, mereka menunggu hari berikutnya dengan tinggal di jalanan atau hotel yang dekat sampai tengah malam dan saat tengah malam tiba, mereka malakukan jumroh ula, wustha dan aqobah. Saat ini adalah saat yang paling kosong. Kita bisa dengan mudah melempar kerikil secara dekat dan tepat sasaran. Sestelahnya kita bisa pulang ke hotel untuk menunggu sore berikutnya.

 

Dalam melempar tiga jumroh, ada beberapa yang disunatkan. Setelah melempar jumroh ula, maka kita tinggal di tempat dan berdoa menghadap kiblat. Setiap lemparan kita mengucapkan takbir. Setelah melakukan jumroh wustho kita berdoa dengan situs  tiang di sebelah kiri kita. Namun, setelah jumroh Aqobah kita tidak disunatkan berdoa kembali.

 

Disela kita menunggu jumroh, tidak sedikit dari kita yang melakukan ibadah Qurban. Ibdah ini biasanya dilakukan di pemotongan hewan Jabar Qurban. Tempat ini mirif pasar dimana banyak pedagang kambing di luarnya. Tata cara menyembelih hewan sangat jauh dari cara yang diperagakan di tanah air. Kalau di negara kita sangat ritual dan apik, disana saking banyaknya terlihat seperti penyembelihan kilat dan mirip “pembantaian” massal. Ya mungkin karena banyak.

 

Bila kita sudah selesai, maka kita pulang ke Mesjidil Harom untuk melakukan Thowaf dan sa’i. Bila kita belum ke mesjid Nabawi untuk melaksanakan ibadah sholat Arbain, maka besoknya kita melakukan thowaf dan itu bisa jadi thawaf wada (perpisahan). Namun, bila masih ada waktu maka thawaf dilakukan sebagai ibadah umroh.

 

Cerita Unik Ibadah Haji

 

Ada banyak yang bisa saya ceritakan dalam konteks pengalaman pribadi dan sahabat jemaah. Namun cerita ini saya batasi dengan empat cerita saja. Cerita pertama adalah tentang kerikil. Seorang sahabat yang tiap tahun membimbing haji sebagai muthowif bercerita bahwa tidak boleh untuk mengambil kerikil dari muzdalifah untuk di bawa ke tanah air. Saat itu ada jemaah yang mencoba mengambil batu “aneh” yang mungkin karena mirif batu akik. Ia membawanya ke tanah air. Beberapa bulan setelahnya ia mengalami sakit aneh. Diagnosa dokter tidak menemukan analisa tepat untuk penyakitnya.

 

Beberapa dokter yang dikunjungi dihadapkan kepada diagnosa yang sama: tidak ada penyakit. Namun sebagai manusia normal, ia merasa sakit dan tidak bisa beraktifitas sehari hari dengan normal. Beberapa ustadz yang menjadi Thabib pun didatangi untuk dicarikan penyebabnya. Namun, setiap yang didatangi tidak sukses menemukan penyakit dan obatnya. Tiba saatnya ketika sahabat saya ini datang dan bertanya apakah pernah membawa sesuatu dari Mekah ketika ibadah Haji. Maka ia pun teringat akan batu itu. Batu itu ia simpan di aquarium dan terjaga dengan baik. Maka ustadz ini meminta kepada yang bersangkutan untuk mengembalikan batu itu ke Muzdalifah.

 

Ketika ada sahabat yang berangkat umroh, si Pulan menitipkan batu itu padanya. Ia berpesan agar memintakan maaf telah membawa batu itu tanpa izin. Dan sahabatnya pun menyetujuinya. Saat batu itu tiba di Muzdalifah, maka dengan kuasa Allah, penyakit yang dideritanya hilang tak membekas. Aneh, tapi memang itulah nyatanya.

 

Cerita kedua adalah cerita sahabat saya yang berprofesi sebagai teknisi Garuda. Saat sa’i di Mesjidil Harom, tiba-tiba datang orang yang tidak dikenal lalu menginjak kakinya hingga kakinya hampir patah dan tidak bisa berjalan. Dengan dibantu beberapa rekan untuk mengurut dan beristigfar, maka sembuhlah kaki itu walaupun sampai kamar hotel masih terasa sakitnya. Saat itu beliau bercerita  dan ingat peristiwa bahwa dulu ia pernah melakukan hal yang menyakitkan orang lain.

 

Saat macet dalam perjalanan ke Bandara untuk bekerja di Garuda, sahabat ini disenggol oleh seorang pemotor. Karena benturannya keras mengena kepada mobil Jazz yang ia tumpangi, maka jatuhlah pemotor ini. Karena ia tidak merasa bersalah maka ia mencak-mencak kepada pemotor ini. Namun, sebagai manusia berperikemanusiaan, ia harus menolong ke rumah sakit. Dengan sangat kesal, ia naikan pemotor yang jatuh ini ke mobilnya sambil menginjak kakinya sebagai rasa kesalnya. Raungan pemotor ini pun terdengar. Ternyata, kasus yang sudah lama ini dibalas Allah di baitulloh, masya Alloh.

 

Cerita ketiga adalah tentang sahabat pria yang di Mekkah Almukarromahnya senantiasa berkomunikasi dengan seorang  perempuan. Kita mengira itu adalah istrinya. Setelah beberapa lama, ternyata beliau mengaku bahwa perempuan itu bukan istrinya tapi wanita yang “dekat” saat di Jakarta. Karena ia pebisnis luar Jawa yang sering ke Jakarta, maka perempuan ini sering berkomunikasi dengan nya.

 

Saat pulang dari tanah suci, ia telah memisahkan belanjaan oleh-oleh yang dikhususkan untuk teman perempuannya di Jakarta. Apa yang terjadi, dengan izin Allah, dus yang besar itu hilang entah kemana. Yang saya ingat ia hilang pada saat mobil bandara mengantarkan kita dari pesawat ke terminal. Ia juga mengalami musibah hapenya yang rusak. Saya tidak tahu, apakah ini adalah peringatan Allah kepadanya, atau yang lainnya. Wallohu a’lam.

 

Cerita keempat adalah tentang mencium hajar aswad. Seorang wartawan senior Republika dan sekarang menjadi GM di salah satu media senior di Jakarta meminta saya untuk mengantar mencium hajar aswad. Saat itu pagi sekitar jam sembilanan kita berangkat ke Mesjidil Harom dari hotel. Saya selalu berpesan agar tidak ada ketakaburan dalam hati atau niat lain selain lillahi ta’ala. Alhamdulillah dengan begitu, saya bisa mencium hajar aswad dua hari yang lalu.

 

Mencium hajar aswad pada musim haji bukanlah hal yang gampang. Selain sesak dan jumlahnya satu, kita harus bersaing dengan para jemaah haji lain yang secara fisik memiliki kekuatan yang lebih besar ketimbang kita orang Asia. Sahabat saya ini sudah bertekad habis-habisan untuk menciumnya. Saat tiba di Mesjidil Haram, ia melihat baitulloh kosong dan tidak terlalu sesak. Dengan pernyataan dalam hati “alhamdulillah kosong, saya bisa menciumnya hari ini”, maka kejadiannya berbalik.

 

Walaupun terlihat kosong, ternyata beliau tidak bisa menciumnya. Saya yang mengantar dan mendorong-dorong beliau untuk mencium tidak sukses mengantarkan beliau ke batu suci itu. Keringat sampai bercucuran. Tidak ada lagi daya untuk bisa bersaing dengan orang lain dalam mencium hajar aswad. Bahkan anehnya, saat kelelahan itu muncul, saya (tidak dengan teman) dengan sendirinya terseret ke hajar aswad dan secara tidak menyangka saya bisa mencium hajar aswad ke dua kalinya. Aneh. Biidznillah. {}

 

Bumimertua Kuningan, 02/08/17

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *