Beranda / BERITA / Islam dan Ancaman Keruntuhan Indonesia

Islam dan Ancaman Keruntuhan Indonesia


Oleh: Zaki Mubarak

MERUNUT hasil Pilkada dan statemen beberapa pengamat sosial politik disimpulkan bahwa Islam dan muslim memiliki peranan penting dalam perpolitikan Indonesia. Bahkan, primordialisme Islam bisa menjadi satu-satunya yang bisa mengalahkan konstruksi politik demokrasi bernama elektabilitas, populeritas, figur dan kinerja. Bagi Ummat Islam ini adalah kemenangan yang perlu dibanggakan, tapi bila kondisi ini dirayakan berlebihan, maka tentu akan mendapatkan masalah kebangsaan. Saya meyakini, hanya Islam-lah yang pandai memerankan toleransi, menghormati minoritas dan sangat menghargai perasaan orang lain. Sejarah telah mengujinya berulang-ulang, walau kadang dengan begitu umat Islam tersingkir dari arena politik, teknokrat, birokrat bahkan kalah dalam gurita ekonominya sendiri. Itulah fakta dan itulah masalah kita.

Saya tidak akan bercerita bagaimana ummat Islam tidak memiliki posisi signifikan di negeri ini kecuali dibutuhkan suaranya di tahun politik. Tapi saya akan mencoba mengungkap banyak hal tentang Islam di Indonesia yang semakin ke sini semakin memiliki polarisasi hebat. Indonesia yang dibangun oleh energi Islam, baik dari lapangan perang maupun dokumen yang disajikan “atas berkat rahmat Allah swt”, memiliki masalah serius jika Islamnya memiliki masalah. Bukan berarti faktor lain tidak penting, namun faktor ideologis-laten Islam bisa mampu membangun negara sekaligus memporakporandakannya. Melalui banyaknya instrument yang mengganggu Islam sebagai sebuah sistem kepercayaan, maka kegoyahan Islam terlihat kentara terutama alat politik yang merajalela.

Tulisan ini pun saya sengaja tulis agar menjadi alasan tersurat atas pemilihan saya terhadap sikap keberagamaan. Ada beberapa pihak yang mencap saya sebagai liberal, bahkan menuduh saya “si kerdil yang usil”. Selama pen-cap-an itu berdasar dan mampu mengalahkan logika dan analisis saya, saya terima sebagai sebuah resiko. Namun bila reason saya tak bisa menerima alasannya, saya kadang tidak mengerti pikiran-pikiran dan tuduhan itu. Emosi-emosi yang dikanalisasi dengan merk agama meluncur dengan begitu deras, ya liberal-lah, sekular-lah, pluralis-lah dan seterusnya. Saya yang santri dan mencintai kondisi Islam di Indonesia sedikit paham kenapa ini terjadi. Dengan begitu saya akan tuliskan kenapa saya bersikap demikian.

Indonesia dalam Kerangka Dunia

Indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar muslim dan memiliki berjuta kekayaan terbarukan sangat seksi untuk direbut. Tiga puluh tahun yang akan datang, ketika energi fosil yang kebanyakan hadir di Timur Tengah (Dunia Islam yang lainnya) habis, Indonesia akan menjadi primadona energi. Pencarian energi alternatif terbarukan dibahas di forum ilmiah, dan salah satu negara yang berpotensi besar adalah negeri khatulistiwa. Indonesia adalah salah satu negeri diantara negeri makmur lainnya seperti Brazil dan negara tropis lainnya. Inilah fakta yang tidak bisa dibantah.

Dengan demikian, beberapa model untuk mempengaruhi Indonesia sangat beragam. (1) Barat yang diwakili AS mencoba mengimpor budaya liberalnya. Budaya ini menjelma sebagai kekuatan tak tertandingi bahkan bisa mengalahkan budaya Indonesia terdahulu. Salah satu yang paling prestisius adalah budaya demokrasi liberal yang sedang berlaku di bumi pertiwi. Setiap politisi saat ini diam manakala Pancasila sila ke-empat “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” tidak dilaksanakan dan diganti oleh “one man one vote”. Pancasila tidak diamandemen, tapi hasil pemikiran pendiri bangsa ini telah diabaikan oleh para politisi dengan kebanggaan ketika disebut negeri demokrasi kedua di dunia. Narasi yang disampaikan oleh Barat atas kesuksesan demokrasi liberal ini begitu membanggakan, padahal itu semua adalah fatamorgana.

Dampak dari demokrasi ini ternyata sangat luar biasa mahalnya. Ongkos politik yang sangat mahal karena harga Profesor sama dengan (maaf) tukang becak adalah sama, begitupun harga ulama dengan dukun pun sama; satu. Orang yang berpendidikan mungkin paham akan bagaimana kepemimpinan yang baik, namun sebaliknya mereka yang acuh dan tidak memperhatikan dengan seksama, tidak peduli atas pilihannya. Yang penting ada kepentingan pragmatis yang didapatkan. Ujungnya, uang menjadi berkuasa dan korupsi adalah dampak dari ongkos yang mahal itu. “One man” harus dibiayai oleh politik demi “one vote”. Derivasi dari korupsi menjalar kemana-mana, bukan saja korupsi tingkat elit, sekarangpun korupsi menjalar di tingkat desa. Penjara penuh dengan koruptor, Isu yang digelorakan media massa pun adalah isu negatif tentang prilaku pemimpin yang korup, dan juga semua orang berpikir keras untuk menyelesaikannya. Tapi tidak ada dosis yang tepat untuk itu.

(2) China yang sedang menggurita kehebatan ekonominya sedang mencoba membangun kekuatan militernya melalu one ring silk road (ORSR, satu jalur cincin sutra). Mereka sedang mempersiapkan kekuatan utama militer untuk perang global. Jalur ini telah sukses berabad lamanya sejak dinasti China terdahulu. Diaspora bangsa China yang telah menyebar seluruh dunia telah membantu negaranya dalam projek ini, dan Indonesia menjadi bagian penting. Pinjaman demi pinjaman digelontorkan dengan skema yang menguntungkan mereka. Material dan pekerjanya pun harus dari mereka. Upaya membuat pelabuhan pun diproyeksikan sebagai rencana pangkalan militer gratis masa depan.

Tidak sampai menggelontorkan pinjaman dan berharap Indonesia terlilit utang semacam Zimbabwe, Turkistan dan negeri serupa lainnya, Indonesia pun digedor dengan perang candu. Pabrik narkoba yang sengaja dibuat di China diperuntukan negara-negara di luarnya. Jutaan narkoba dikirim sepaket dengan material China dan sengaja diselundupkan dengan gratis ke negeri ini. generasi muda dicoba di-candu-i agar lemah. Bahkan reklamasi DKI yang membuat rumah di pinggir laut diupayaan agar segala penyelundupan bisa langsung tanpa intervensi negara. Langsung ke halaman rumah. Tanah ini pun telah diiklankan di Hongkong dan kota-kota metropolitan di China.

(3) Iran yang memiliki kepentingan akan ideologi Syiah-nya ingin mencoba berkontestasi dengan Islam sunni di Indonesia. Demi menyebarkan ideologi Syiah ini, Iran mencoba mengaburkan berbagai ajarannya dan mencoba bergabung dengan banyak ormas keislaman. Dengan sejarah Persia yang sangat tangguh zaman dahulu dan hampir menguasai setengah bola dunia, Iran ingin mencobanya kembali dengan kunci syiah sebagai ideologi. Indonesia menjadi bagian penting dari komunitas Muslim, dan bila pensyiahan terjadi maka Syiah bisa mengalahkan Sunni dengan efektif dan efisien. Ujungnya Persia akan berkibar kembali di dunia.

Indonesia dalam Kerangka Dunia Islam

Sejarah Arab Spring dimulai pembakaran diri Muhammad Bouazizi di Tunisia Desember 2010. Seorang penjual buah di pinggir jalan yang menyesal menjadi warga Tunisia yang monarki dan negara tidak membantu kehidupann miskinnya membakar dirinya sebagai sebuah protes di Kota Bouazizi. Hal ini menyulut para pengangguran di sana untuk melakukan gelombang protes kepada pemerintah. Terinspirasi di Tunisia, seorang warga Al Jazair melakukan pembakaran diri sebagai protes kepada negaranya. Hal ini pun memantik pergerakan protes di Libanon dan Lybia. Presiden Ben Ali di Tunisi mengundurkan diri dan itu memantik gelombang protes di Yordania. Aksi membakar diri pun terjadi di Meuretania dan memantik gelombang protes di Yaman. Eskalasi protes menjadi kerusuhan besar di sini. Hal ini pun menginspirasi protes kepada kerajaan Saudi Arabia dan Mesir sampai melahirkan revolusi mesir.

Kelanjutan dari berbagai protes dan kerusuhan itupun terjadi di Suriah melalui aksi bunuh diri Januari 2011. Djibaouti sebagai negara tanduk Afrika pun mengalami hal yang sama, rakyat melakukan protes atas kinerja pemerintahannya. Tak sampai di sana, aksi bakar di Maroko terinspirasi oleh Bouazizi dan menyebabkan gelombang protes. Di Irak, protespun terjadi meluas. Seorang warga membakar diri atas protes kehidupan ekonomi yang mencekik. Bahrain mengalami hal yang sama. Gejolak ini sangat kental dengan syiah-nya yang menyebabkan Arab Saudi mengirimkan pasukan dengan dibantu AS. Keributan semakin menjadi ketika melibatkan militer atas nama agama. Kuwait mendapatkan giliran dengan kerusuhan kecil dan Suriah dengan rezim Basyar sampai kini mengalami kerusuhan. Perebutan Sunni-Syiah begitu kental. Kubu GCC yang dinahkodai Saudi berhadapan dengan Iran yang Syiah. Revolusi Islam Iran telah menjadikan negara Persia itu kuat dan menjadi penantang Sunni yang matang.

Kekacauan Tanah Arab pun kian menguat dengan dimunculkan konsep Khilafah. Gerakan khilafah di timur tengah adalah gerakan untuk mencoba mengikat ideologi Islam dalam konsep satu kepemimpinan. Walaupun secara literature Islam, konsep ini belum established secara history. Pencarian bentuk ini mengalami penentangan. Penentangan inilah yang membuat konseptornya untuk melakukan perlawanan sporadis melalui senjata perang. Maka muncul ISIS, yang gerakannya melawan arus utama perdamaian. Terlepas dari bagusnya konsep, praktiknya khilafah telah memantik perang dingin antara ormas Islam dan negara. Hal ini pun terjadi di Indonesia. Gerakan-gerakannya sangat impresif dan pemerintah yang pro “nation state” harus berhadapan dengan mereka yang inginnya “global-ideological-state”.

Lantas, bagaimana di Indonesia? Indonesia sebagai negeri muslim tentu saja seksi untuk ditarik kepada kepentingan “Islam” Timur tengah dengan segala derivasinya. Memberikan beasiswa oleh pihak Saudi dan Iran adalah beberapa pendekatan akademis-ideologis agar Indonesia memiliki SDM yang berpolapikir sama dengan negara asal dimana mereka belajar. Kepulangan mereka dari universitasnya membuat perbedaan pandangan keagamaan. Pola Islam Wahabi yang dipromosikan oleh Saudi berbenturan dengan Iran yang Syi’i. walaupun di Indonesia Syiah tidak diterima dengan luas, tapi gerakannya massif dan terstruktur. Kalangan Islam yang “sama” dengan Indonesia adalah Mesir dan negara Afrika lainnya, tapi dalam beberapa hal mereka beda dengan Indonesia. Mereka juga berkonstribusi dalam pemikiran gerakan yang diadopsi dari keberagamaan negara asalnya. Sebut saja gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan lainnya.

Kedatangan mereka dari tempat belajarnya menimbulkan “progress”. Ada dua makna progress yang dimaksud bisa positif bisa negatif. (1) positif, progress dinarasikan sebagai gelombang purifikasi (pemurnian) Islam lanjutan. Islam di Indonesia dalam konteks polapikir Islam “Puritan” dipandang memiliki masalah. Akar masalahnya ada pada sinkretisme Islam dengan budaya setempat. Hal ini bisa diakui, karena Islam di Indonesia menghadapi tingkat kebudayaan Majapahit yang sangat tinggi. Sehingga pendekatan budaya adalah salah satu yang paling memungkinkan, bukan pendekatan peperangan. Munculah walisongo sebagai aktor utamanya. Namun, dalam beberapa pandangan, keberagamaan Islam yang disebarkan dinilai tidak puritan (murni). Sehingga gelombang purifikasi adalah salah satu metode untuk “menyelamatkan” Islam.

(2) negatif, menimbulkan peperangan “ghazwatul fikr” pemikiran. Pemikiran ini mencoba mengambil Islam ajaran Timur tengah yang berbeda dengan Islam Indonesia sebelumnya. Bila itu Ahlussunah wal jamaah, maka yang menjadi perbedaan madhab menjadi perdebatan. Indonesia yang mayoritas Fikih Syafi’iyah Tauhid As’ariyah-Maturidiyah dibentrokan dengan Wahabi yang Hambaliyah atau Maroko yang Malikiah. Khilafiyah ini semakin menajam manakala ada narasi “bid’ah” di dalam prosesnya. Tidak cukup bid’ah, takfiri (pengkafiran) terhadap sesama muslim pun menjadi kian meluas terutama di dunia digital. Dampaknya, ada tiga kelompok Islam yang terpolarisasi.

(a) Kelompok pro purifikasi dengan mencari titik lemah Islam Indonesia terdahulu. Segala hal yang “keluar” dari Islam tekstual dianggap sebagai senjata serang. Penyerangan ini sangat sporadis bahkan menimpa kaum intelektual yang baru mengenal Islam. Dengan sangat bersemangat mereka belajar Islam dari mentornya dan dunia digital, sehingga “ketidak benaran” Islam menjadi semangat baru untuk menyerang kelompok Islam lainnya. Kelompok ini ingin diperhatikan sangat oleh masyarakat, maka strateginya adalah meletakan pola pikirnya di hadapan Islam terdahulu yang sudah besar.

Analoginya, jika kita ingin bertarung tinju agar supaya naik daun, populer dan dikenal orang, janganlah mengambil lawan yang ecek-ecek. Tantanglah Mike Tyson di ring, walaupun kita tahu akan kalah tapi keterkenalan dan status kita akan seimbang dengan Tyson sang Leher Beton. Kelompok Islam ini telah mengambil posisi “lawan” terhadap Islam tradisional yang jumlah dan kekuatannya sudah besar. Alasannya adalah agar mereka memiliki status besar. Kesalahan Kelompok Islam tradisional adalah melayani mereka.

(b) kelompok anti-purifikasi. Sejatinya bukan anti purifikasi dalam definisi hitam putih. Karena, definisi purifikasi juga mengalami masalah besar. Pemurnian Islam yang dimaksud tidak dalam konteks purifikasi Prinsip islam yang “qot’i tsubut”. Tidak ada perdebatan Islam tentang prinsip itu, purifikasi di sini lebih didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak sama dengan Dunia Islam di Arab. Jadi, anti-purifikasi lebih diterjemahkan kepada kelompok yang tidak ingin adanya perubahan tradisi Islam yang sudah menjadi definisi Islam di Indonesia. PBNU menyebutnya Islam Nusantara walau kelompok pertama menuduhnya sebagai perwujudan baru dari liberalism dan Syiah. Wallahu a’lam. Ketika Arab Spring terjadi, maka kelompok ini merasa bahwa Islam di Indonesia lebih bisa jadi solusi ketimbang pemikiran Timur Tengah yang bergolak hebat. Destinasi Pendidikan Islam pun ditawarkan di Indonesia daripada Timur Tengah.

Ada tujuan besar yang hadir dalam kelompok Islam ini. Kelompok Islam yang berjuang mendirikan negara dan diletakan sebagai sejarah panjang bangsa dan NKRI merasa NKRI adalah final. Melestarikannya adalah harga mati, sehingga hal yang menjadikan bangsa terpecah belah baik dalam isu SARA atau Isu internal Islam sekalipun akan dihindari. Kelompok pertama yang pro-“purifikasi” dinilai telah mencederai nilai kebangsaan dan keIslaman. Perlawanan itu pun digempur kembali oleh kelompok pertama dengan tuduhan syiah, liberalism, pluralism, sekularisme dan isme negatif lainnya. Bagi ulama kelompok kedua, hal ini sudah biasa, tapi bagi kaum muda ini menjadi kebingungan, sehingga tidak jarang serangan kelompok pertama menjadi “pemenang” untuk diikuti oleh generasi muda, sekalipun mereka harus beda dengan orang tuanya.

(c) kelompok tengah yang tidak mempermasalahkan pergerakan tadi. Mereka fokus kepada kemajuan bangsa dan ummat. Ghazwatul fikr yang terjadi dianggap fenomena biasa dan kontra produktif untuk kemajuan. Mereka membiarkan saudaranya “bertempur” dan ia fokus untuk mengembangkan keislaman, atau saya menyebut mereka sebagai Islam developmentalis. Kelompok ini diisi oleh Muslim yang melek agama dan ilmu pengetahuan umum. Para intelektual ini lebih melihat Islam ke depan daripada rusuh dengan tek-tek bengek yang bagi kelompok kesatu dan kedua adalah hal penting. Saya melihat kelompok inilah yang bisa menjadi masa depan kemajuan bangsa, walaupun dalam beberapa isu kelompok ini pun larut dalam pertempuran kontra produktif tersebut.

Akankah Indonesia hancur karena Islam? Kita setuju bahwa Islam mendirikan dan membangun negeri ini. Namun, saya pun yakin Islam pula yang bisa meruntuhkan negeri ini. Jika pola pikir yang diimpor dan tidak berkelindan dengan masyarakat Indonesia ini terus digelorakan, maka tidak mustahil Indonesia bisa bubar. Semisal gelora khilafah yang anti negara, hal ini akan menjadi pemantik formal ketatanegaraan. Juga pemikiran-pemikiran yang dibentrokan juga akan menajam dan meluas. Polarisasi massa akan berdampak kepada kelemahan kita sebagai sebuah bangsa. Bentrokan ini pula bisa jadi menjadi pintu pembubaran Indonesia secara menyeluruh.

Dalam konteks pilpres, saya kira ini tidak masalah. Keberpihakan kepada politik tertentu adalah hal wajar dalam kontestasi politik. Narasi “cebong” versus “kampret” adalah narasi normal dalam sebuah politik. Namun, saya melihat hal ini bukan hanya di pilpres. Ada grand desain besar di atas segalanya. Entah itu Barat yang ingin meluluh lantahkan bangsa ini, atau China yang ingin mencaplok atau mengendalikan negara ini. Atau bisa jadi Syiah berperan untuk meruntuhkan dominasi sunni di sini. Semua perlu dikaji secara serius dan jujur. Bagi saya, hal ini menarik. Di samping kajian parsial tentang “pertempuran” internal Islam, sangat layak dikaji untuk menarik benang merah desain besar di belakangnya.{}

Bumisyafikri, 27/7/201

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *