Beranda / BERITA / Islam dan Politik di Jawa Barat

Islam dan Politik di Jawa Barat


Oleh: Zaki Mubarak

TEMA tulisan ini sangat populer dan bila pergi ke perpustakaan, akan ditemukan banyak kajian yang berupaya mendialogkan Islam dan Politik. Ada yang berhasil mengkawinkannya, ada juga yang tetap tidak bisa mengkompromikannya. Itu semua tergantung dari sudut mana penulis memandang. Yang jelas, tema Islam dan politik adalah tema yang tidak pernah habis untuk dikupas dan dinikmati oleh pencari benang merah “kebenaran”.

Tentang hal ini, saya memiliki pengalaman unik pada tahun 2012. Saat itu saya diplot menjadi moderator untuk kajian Politisasi Islam. Panelisnya terdiri dari ulama senior, pengamat politik, LIPI dan Budayawan. Saat itu panelis sepakat, bahwa mempolitisasi Islam adalah hal yang “halal”. Tidak ada satupun yang mengharamkannya. Simpulnya dalam kajian itu, Islam bisa dijadikan “dagangan” politik tetapi harus menggunakan etika Islami dan tidak berlebihan. Jadi pantas berbagai partai bernuansa Islam masih tetap menggunakan sentiment keagamaan untuk meraih tujuannya: kekuasaan memerintah.

Tujuan tulisan ini adalah ingin mencoba mengkategorisasi Islam dan Politik di Jabar dan beberapa fenomena yang hadir sebagai sebuah dampak dari upaya mengawinkan agama dan politik di Jabar. Mungkin fenomenanya tidak lengkap karena keterbatasan pengetahuan, kepada mereka yang memiliki contoh dan penguatan lain, disilahkan untuk menambahkan. Kepada mereka pun yang tidak setuju dengan kajian ini disilahkan untuk menulis kajiannya agar informasi berimbang.

Kategorisasi Islam Jabar

Saya melihat Jabar bisa menjadi etalase Indonesia secara keseluruhan. Memetakan Islam di Jabar, sama saja dengan memetakan Islam secara nasional. Paling tidak ada empat golongan Islam; Islam Tradisionalis, Modernis, Revivalis dan Tarekat. Golongan ini lebih kepada pemikiran dan gerakan keislaman, bukan yang lain. Tapi pemikiran dan gerakan ini otomatis menjadi sandaran gerakan politik. Gerakan lain yang dilakukan oleh Islam di luarnya seperti gerakan Islam Liberal, Emansipatoris dan Transformatif tidak menjadi kategorisasi dalam tulisan ini.

Islam Liberal hadir karena adanya perseteruan Islam konservatif dengan Islam fundamentalis. Ia datang dengan niat menyegarkan kembali pemikiran islam dengan pendekatan liberal. Islam Emansipatoris lahir dalam upaya keluar dari dilema Islam liberal dan fundamentalis. Ia lebih fokus kepada kemanusian. Teks suci baik yang primer, sekunder, maupun tersier tidak menjadi titik sentral perdebatan sebagaimana aliran skriptualis, ideologis, modernis, fundamentalis dan liberalis, melainkan itu semua sebagai subordinat terhadap pesan moral, etika maupun spiritual. Kedua Islam liberal dan emansipatoris masih bersifat kultural. Kajiannya tentang demokrasi, pluralism, toleransi, civil society dipandang kurang untuk Islam transformatif. Islam yang satu ini memandang bahwa Islam harus lahir untiuk menggerakan masyarakat (empowerment) dalam perubahan-perubahan sosial di masyarakat. Transformatif tidak lagi kepada ideologis namun lebih bersifat praktis dan memberdayakan.

Empat kelompok Islam ini dikeluarkan dari kategori Islam dalam tulisan ini. Islam yang dalam kategori ini adalah Islam yang masih mempermasalahkan ideologis secara skriptualis (teks agama) dan juga derivasi keberagamaan yang beragam dan juga berdampak kepada organisasi yang menaunginya. (1) Islam tradisional adalah Islam yang berpikir konservatif (kolot) dan didesain untuk melestarikan agama dan keagamaan (religious and religiousity) yang didesain pada abad Islam Golden Age tahun 500an Hijirah. Teks-teks keagamaan yang lahir di masa ini dianggap telah final dan tinggal dilestarikan melalui sistem pendidikan agama. Salah satu yang berkembang lembaga pendidikannya adalah pesantren (atau terminology lain seperti dayah, kulliyatul banat, madrasah tholibin, dan seterusnya).

Karena kehadiran Islam tradisionalis tidak berangkat dari ruang kosong, di sana ada budaya (adat) sebelumnya, ada nilai masyarakat sebelumnya, maka Islam ini hadir melalui akulturasi budaya. Selama budaya itu tidak bertentangan dengan syariat, maka budaya itu diperbolehkan bahkan dianjurkan. Dalil-dalil agama tentang sistem budaya dicari dan diramu dengan menggunakan terminology khusus, baik adaptif maupun parsial. Di sinilah muncul inovasi “keberagamaan” yang bagi sebagian kaum salaf atau revivalis merupakan prilaku bid’ah dan tidak terkoneksi langsung ke Nabi. Islam ini pula yang menjadi ruh wassatiyat islam (moderasi Islam) dalam kajian Islam di Indonesia. NU menyebutnya Islam Nusantara. Ormas yang memiliki fashion seperti ini banyak dan tersebar di Indonesia, ada NU, PUI, Al Wasliyah, Nahdlatul Wathan, dan seterusnya.

(2) Islam modernis adalah Islam yang awalnya tidak mempermasalahkan teks-teks keagamaan. Ia lebih mengutamakan bagaimana Islam menjadi ruang transformasi pemberdayaan sosial kemasyarakatan. Organisasi harus modern dan ditopang dengan sumber daya yang mumpuni. Ini mirif dengan Islam transformative. Ia fokus pada kegiatan sosial-keagamaan. Medirikan sekolah yang modern, rumah sakit dan seabreg kegiatan lainnya. Namun dalam perkembangannya, Islam modernis mencoba masuk ke wilayah teks-teks yang bersifat ideologis. Karena kaum ini bersentuhan dengan para lulusan timur tengah yang menjadi acuan Islam “aseli”, maka terjadilah tarjih-tarjih hadits. Jika Islam tradisionalis masih mengamalkan tradisi (akulturasi agama dan budaya), maka berbagai kajian tarjih memutuskan mana yang boleh mana yang jangan. Maka, dengan sendirinya Islam ini menjadi Islam yang lebih modern dengan prinsip yang moderat (menengah). Ormas yang paling beririsan dengan model ini adalah Muhammadiyah dengan Islam kemajuan sebagai tag line-nya.

(3) Islam revivalis. Revivalis artinya bangkit, Islam revivalis adalah Islam yang berupaya untuk bangkit dari Dark Age. Ia mengutamakan ajaran-ajaran langsung yang terkoneksi kepada Nabi dengan menyingkirkan hal-hal yang berbau budaya lokal. Kaum ini berupaya untuk mengembalikan kejayaan Islam baik dari sisi politis, gerakan, pemikiran dan ideologis. Islam ini berupaya untuk mengembalikan kejayaan Islam dalam nostalgianya. Karena saat dahulu Islam jaya, maka semua instrument yang hadir saat itu harus di”paksa” hadir saat ini. Seperti konsep dinasti atau daulah, wajib adanya kepemimpinan Islam internasional. Seperti nabi tidak mengenal Muludan, Rajaban, Tahlil dan Talqin, maka itu semua dianggap bid’ah karena tidak ada dari sumber aselinya, Nabi.

Revivalis menggarap dua hal sekaligus, yakni ideologis dan pergerakan. Ideologisnya berkenaan langsung pada kelompok salafi. Salafi adalah sebuah kelompok pada sahabat di bawah tahun 500an Hijirah. Kaum ini adalah kaum yang dianggap berhasil dalam membangkitkan Islam sebagai kekuatan global. Kelompok ini diinspirasi oleh Ibn Taymiyah dan muridnya Hasan Al Banna. Tidak sedikit juga Revivalisme berkoneksi langsung dengan Saudi yang Wahabisme. Kelompok ini pula yang mencoba untuk melakukan gelombang puripikasi Islam (pemurnian) Indonesia yang dianggap banyak menyimpang. Aspek Ideologis ini dibarengi dengan pergerakan-pergerakan politik dan non politik yang sifatnya sebagai “antitesa” Islam tradisionalis. Tidak heran, kelompok ini yang selalu menyerang kelompok tradisionalis baik tersirat maupun tersurat. Medan penyerangannya pun beragam, baik di dunia real maupun virtual.

(4) kelompok Islam tarekat adalah komunitas tersendiri dari muslim secara keseluruhan. Mereka tidak berupaya masuk kepada pemikiran sekaligus pergerakan. Mereka adalah muslim yang mencari ketenangan hidup dan tujuan akhirat. Ideologi yang dianutnya adalah ideologi sesuai dengan pakem tarekat yang diikutinya. Kelompok ini lebih dekat irisannya kepada kelompok tradisional, tetapi lebih kepada menggunakan manhaj (metode) mandiri dalam tarekatnya. Ibadah fikihnya mirip dengan tradisionalis. Kelompok tarikat tidak tertarik tentang perdebatan ideologi Islam dan pergerakan apalagi politik. Kelompok ini hanya ingin memfokuskan diri pada kebutuhan nutrisi jiwa untuk mengenal Allah. Jadi kelompok ini termasuk kelompok yang mencoba menghindar dari hingar bingar politik, walaupun kadang dimanfaatkan oleh politisi dalam tahun politik.

Kategori Islam dan Dampak Politiknya di Jabar

Secara demografis, Islam di Jawa Barat dikategorikan menjadi tiga. Kategorisasi ini tidak mutlak dan membutuhkan penjelasan ilmiah tentang generalisasinya. Generasilisasi ini pun bisa dibantah dengan terminology Islam kasuistik yang tejadi di tiap daerah. Untuk mempermudah saja, Islam di Jabar secara demografi di bagi menjadi tiga; Islam metropolitan, Islam Priangan dan Islam Pantura.

(1) Islam metropolitan adalah Islam yang diyakini dan diamalkan oleh muslim yang hidup di perkotaan. Karena wilayah Barat Jabar adalah wilayah yang menjadi kota penyangga DKI Jakarta, maka wilayah ini mendapatkan bonus demografi metropolitan secara gratis. Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi adalah beberapa kota yang terdampak dari Jakarta sebagai Ibu kota pemerintahan sekaligus pusat Kegiatan Ekonomi. Tidak hanya itu, ibu kota Jabar, Bandung pun karena jaraknya tidak begitu jauh dari Jakarta menjadi kota yang berkembang dengan pesat. Lima daerah itu adalah daerah yang bisa dikategorikan metropolitan dengan perkembangan agama yang tidak homogen.

Karena pintu masuk ke daerah metropolitan sangat terbuka dan ragam manusia datang silih berganti, maka Islam yang dipahami di daerah ini bermacam-macam. Tidak ada “likuidasi” Islam yang homogen. Islamnya lahir dengan berbagai perspektif tergantung madzhab apa yang dipegang dan dari mana ia belajar Islam. Sebagai kota metropolitan tentu saja berawal dari kota yang biasa. Awalnya, Islam tradisionalis menjadi mayoritas penduduk pra-metropolitan. Namun seiring berjalannya waktu, pergeseran pemahaman agama berkelindan dengan tingkat ekonomi, pranata sosial, industrialisasi dan pendidikan. Pencampur adukan masyarakat di daerah ini berdampak kepada perubahan pemahaman agama serta keberagamaannya di masyarakat. Islam Tradisionalis yang diajarkan oleh jebolan pesantren mulai berhadapan dengan Islam Modernis dan Revivalis.

Bila saja Islam tradisionalis berhadapan dengan modernis (seperti NU dan Muhammadiyah di era 1990an), sepertinya dampaknya tidak terlalu besar. Keduanya bisa berdialog dengan lebih banyak menyatakan kesamaan ketimbang perbedaan. Namun hal ini berbeda ketika kaum tradisionalis dengan revivalis. Dengan ideologi yang “berbeda”, kaum tradisionalis diserang revivalis dengan teks-teks keagamaan yang valid. Tidak sedikit kaum tradisionalis kalah dalam “pertempuran” ini. Kualitas pribadi tradisionalis kadang tidak berbanding dengan lawannya.

Alasan utamanya adalah pendidikan. Kaum revivalis adalah kaum yang menyasar dan mendidik jebolan perguruan tinggi. Setiap mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi di daerah metropolitan bisa dipastikan tingkat pemahaman keagamaannya rendah. Hal ini berbeda dengan jebolan pesantren yang pemahaman agamanya sejak kecil diajarkan. Dengan mem”brain wash” mahasiswa perguruan tinggi, kaum revivalis sukses menciptakan komunitas baru di tengah tradisionalis. Jebolan pendidikan ala Liqo, Majlis Dakwah, dan Daurah-daurah sukses menjadi kader dakwah yang militan. Tidak jarang mereka merasa yang paling tahu tentang agama. “Keberagamaan” kaum tradisionalis dikritik dan tidak berkutik karena kaum tradisionalis tidak terdidik dengan pola perguruan tinggi yang sistematis. Mereka mengalah dan tidak jarang terjadi “perang dingin” antara tradisionalis dan revivalis di kota metropolitan.

Dampak dari “perseteruan” ini pun melahirkan gerakan politik Islam yang kompetitif. Kelompok besar Islam tradisionalis dan kelompok terpelajar revivalis memiliki kecenderungan berbeda dalam menyalurkan hak politiknya. Mereka mencoba menggunakan Islam sebagai “jualan” politik dengan cara masing-masing. Keduanya menjual aspek primordial (agama) untuk menjuarai perlombaan politik. Ada yang menggunakan sentiment geneologis Kyai yang disinyalir bagi kelompok tradisionalis adalah element penting untuk dipertimbangkan. Sentiment takdim guru-murid, alumni dan bahkan karena daerahnya adalah “otoritas” pesantren, maka pilihan politik harus ikut ke pola itu secara primordial. Sementara kelompok revivalis lebih menunjukan “kesolehan” dengan berbagai instrument seperti hafidz qur’an, prestasi akademik, simbol Islam, Bela Islam dan seterusnya. Kontestasi dengan sentiment keagamaan ini sebenarnya seimbang, walaupun kader revivalis sepertinya lebih kuat dan konsisten ketimbang tradisionalis.

Apa yang terjadi? Kelompok revivalis menjadi pemenang di daerah metropolitan bila disandingkan dengan kaum tradisionalis. Mereka mendominasi ruang publik keislaman dengan cara-cara yang lebih digital dan efektif. Namun, kelompok inipun memiliki kontestan lain yang lebih nasionalis. Prestasi yang dipublikasi kaum nasionalis berbenturan langsung dengan sentiment keagamaan yang diusung revivalis. Titik temunya adalah pada sekuat apa positive campaign yang dijual oleh politik Islam sekaligus politik lawannya. Juga, tidak bisa lepas, sekuat dan sebesar apa kampanye negatif dan kampanye hitam yang dilakukan untuk meng-counter attack laju kaum nasionalis.

(2) Islam Priangan termasuk kategori Islam yang kuat dan laten. Karena Priangan Barat adalah kota metropolitan, Priangan di sini adalah Priangan Timur. Daerah ini adalah daerah yang dalam konteks keagamaan dikuasai oleh Islam tradisional. Pesantren besar akan menjadi sentral dan indikator kemana arah politik di Priangan Timur. Tidak heran bila PPP dan PKB berebut pasar ummat di daerah ini dan paling tidak menempatkan wakil rakyatnya di Jakarta. Namun demikian, seperti kota kecil lainnya, Islam tradisionalis yang merupakan kaum mayoritas tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada Islam modernis dan revivalis, baik sebagai gerakan politik maupun sebagai ideologi agama. Tidak sedikit perebutan suara mempertemukan kontestasi Islam tradisional dengan modernis serta revivalis, tapi bisa dipastikan kaum tradisionalis lebih unggul.

(3) Islam Pantura termasuk kategori abangan. Dengan tidak melihat kasuistik Islam yang kuat di beberapa daerah di Pantura, Islam di daerah ini dinilai lebih lentur dan dinamis. Daerah ini termasuk daerah yang sentiment keagamaannya berbanding lurus dengan sentiment nasionalisme. Tidak heran bila daerah ini banyak memenangkan partai nasionalis. Kelompok Islam di daerah ini mau tidak mau bukan saja berkontestasi diantara sesama Islam, tetapi mereka berhadapan dengan kaum nasionalis. Dampak dari politik daerah ini adalah banyaknya kaum nasionalis memenangkan pilkada dan kaum Islam jarang menjadi juara. Namun demikian, kaum Islam di daerah ini tetap memiliki optimis yang tinggi, dimana secara umum kaum Islam tradisional adalah kelompok masyarakat terbesar di daerah ini.

Perbauran kelompok Islam tradisionalis, modernis dan revivalis dalam satu daerah menciptakan kelompok Islam baru. Kelompok ini belum terkategorisasikan, karena kriterianya sangat banyak. Sulit untuk mengkristalkan. Mereka adalah seperti kelompok yang tidak setuju dengan elit tradisionalis dan bergabung dengan revivalis dengan ibadah kulturnya tradisionalis. Contoh di tubuh NU ada NU Garis Lurus adalah contoh dimana Tradisionalis memiliki dinamika internal yang rumit untuk dirumuskan.

Jika melihat hasil pilkada Gubernur di tiga daerah Jawa; Jabar, Jateng dan Jatim, dapat dipastikan kaum Islam tradisional masih dominan secara kuantitas. Dengan kemenangan quick count yang dipublikasikan oleh televisi, sepertinya kaum Tradisionalis masih memegang tampuk politik. Artinya, Menjual sentiment agama dengan model agama Islam tradisionalis masih laku di dunia politik.{}

Bumisyafikri, 29/6/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *