Beranda / Uncategorized / Jasad Syeikh Imam Nawawi Albantani Masih Utuh, Kok Bisa?

Jasad Syeikh Imam Nawawi Albantani Masih Utuh, Kok Bisa?

klik https://journal.zakimu.com

Oleh: Zaki Mubarak

SIAPA yang tidak kenal dengan nama ini. Syeikh Imam Nawawi Albantani adalah ulama masyhur seantero negeri bahkan merupakan ulama paling kharismatik di Mekah Mukaromah. Ia adalah ulama asal Banten, Indonesia, menulis banyak kitab dan menetap di Arab Saudi sebagai imam besar Mesjidil Haram. Karya-karya monumental beliau telah banyak dikaji di banyak negara dan paling utamanya menjadi “kitab suci” fikih di pesantren Indonesia.

Kitab kuning atau turats karya beliau adalah menjadi rujukan pertama dan utama di pesantren. Sebut saja yang paling banyak dipakai sandaran adalah Bidang Tauhid, Nuru Al-Dzalam, Bidang Tashawwuf / Akhlak, Qothrul Ghaits, Bidang Fikih, Kasyifatul al-saja Fi Syarhi Safinati al-Naja, Bidang Fikih, Hasyiyah Tausyih ‘Ala Fathil Qarib al-Mujib, Bidang Akhlak/ Tashawwuf, Tanqihu al-Qaul al-Hatsits Fi Syarhi Lubabi al-Hadits, Bidang Fikih, Nihayatuzzain, Bidang Fikih, Bahjatu al-Wasail bi Syarhi al-Masail, Bidang Keharmonisan Suami Istri, ‘Uqudu al-Lujain fi bayani huquqi al-Zaujaini, Bidang Akhlak dan Tshawwuf; Nashaihul ‘Ibad, Bidang Akhlak, Muroqi al-Ubudiyah Syarah Bidayatul Hidayah, dan Bidang Tafsir, Tafsir Nawawi / Murahul labid.

Menjelaskan karyanya bukan tujuan tulisan ini. Ulama Indonesia terproduktif ini memiliki peristiwa yang unik bagi zaman kita, yaitu ratusan tahun dikubur tapi jasadnya masih utuh. Sejak pemerintah Raja Salman menginginkan pelebaran Mekkah Al Mukaromah, maka salah satu makam yang harus dipugar adalah makam Syeikh Nawawi. Pemindahan makam ini di anggap penting, sehingga sang Raja memerintahkan pemugaran makam mulia ini. Tapi, apa yang terjadi? Setelah dipugar, Jasad Syeikh Nawawi masih utuh, tidak membusuk, dan masih terlindungi oleh kain kafannya.

Dikarenakan peristiwa ini, Sang Raja dikabarkan mengurungkan niatnya. Kejadian ini sangat membuat kagum keluarga Raja sehingga mereka merasa takut bersalah bila memindahkan atau memugar makam ini. Entah seperti apa yang akan dilakukan oleh Raja, apakah akan membuat situs makam ini di dalam masjid, atau tidak jadi melanjutkan pelebaran Masjidil Haram. Saya tak tahu.

Interpretasi Utuhnya Jasad Syeikh Imam Nawawi

Utuhnya Jasad Jenazah Imam Nawawi akan dipahami oleh tiga kelompok orang yang berbeda. Kelompok pertama adalah mereka yang menerima kejadian ini sebagai sebuah hal ajaib-normal bagi orang “suci”. Mereka memandang bahwa Allah memuliakan orang suci melalui berbagai hal diantaranya menunjukan keutuhan jasad Syeikh Nawawi kepada orang masa kini. Ratusan tahun dikubur di padang pasir yang sangat panas, maka kejadian ini menjadi hal yang sungguh luar biasa. Ketika saya berziarah haji tahun 2014, saya melihat setiap makam di Ma’la sekitar limaratus meter dari Masjidil Haram, merupakan kumpulan pemakaman yang periodic. Setiap periode, makam ini dipindahkan dan diganti oleh jenazah baru. Jenazah lama sudah melepuh atas panasnya padang pasir dan telah bersatu seperti abu padang pasir. Nah, untuk kasus Syeikh Nawawi, hal ini tidak berlaku.

Kelompok kedua adalah orang yang menolak. Mereka menggunakan logikanya untuk menginterpretasikan kasus. Ini hal yang diluar nalar karena suhu padang pasir yang sangat panas, dan ratusan tahun terkubur. Dalam banyak kasus, setiap orang yang secara kimiawi disusun atas bahan yang sama, akan mengalami peristiwa yang sama. Setiap orang yang dikubur, pasti akan hancur dan paling tidak akan tersisa tulang belulangnya. Bila hal ini tidak terjadi, maka akan ada analisa yang logis semisal lokasi tempat makamnya. Prediksi mereka, mungkin ini dikarenakan tanah yang menjadi makamnya higienis dari hewan yang ganas, atau panasnya padang pasir membuat jenazah tidak melepuh dan tetap utuh, atau kain yang dipakainya terlalu kuat dan mahal. Mereka akan mencari berbagai analisis untuk menghindari pemikiran irrasional yang selalu digunakan oleh kelompok orang pertama.

Kelompok ketiga adalah mereka yang berada diantara percaya dan tidak. Tidak percaya karena tidak rasional secara hukum adat, tapi di sisi lain mereka secara empiris melihat secara ainul yaqin atas faktanya. Secara rasional hal ini tidak mungkin, tapi secara faktual hal ini bisa dibuktikan dengan benar. Berlaku howarikul adat (keluar dari kebiasaan) bagi kasus ini, maka mencari makna dari ketidak biasaan ini perlu digali. Kenapa bisa begitu dan bagaimana bisa begitu.

Masih Utuh, Kok Bisa?

Mari kita analisis, kenapa Jasad Syeikh Nawawi Albantani ini masih utuh padahal secara rasional-logis ini melawan kebiasaan yang diyakini oleh eksak. Memang, untuk urusan ini, belum ada ilmu eksak yang bisa mengembangkannya. Terlalu sulit untuk membuat indicator disiplin ilmunya. Tidak empiris, sangat devine (ilahiah), ghaib dan transcendental. Hal ini membuat para ilmuwan positivistic tidak berhasil menganalisis peristiwa ini, baik dari ilmu eksak, maupun ilmu sosial-humaniora. Ilmu ini hanya berkembang oleh agama yang kajiannya diawali oleh keyakinan hati yang sangat ghaib.

Ada beberapa alasan kenapa Jasad Imam Nawawi masih utuh dilihat dari pandangan agama. Instrument utama analisisnya menggunakan firasat (hati) bukan otak. Pertama, Syeikh Nawawi adalah orang mulia di sisi Allah karena amalnya. Seperti hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa ketika manusia meninggal, maka semua amalnya akan terputus kecuali tiga hal; sedekah jariah, anak sholeh yang mendoakan orang tuanya dan ilmu yang bermanfaat. Sedekah adalah dimensi ekonomi dan sangat individualistis. Anak sholeh adalah dampak dari mendidik dan sangat geneologis. Sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah dimensi ilmu pengetahuan yang merupakan hasil upaya berpikir dan menyebarkannya. Dimensi ilmu ini lebih luas dari kedua hal sebelumnya.

Imam Nawawi adalah seorang imam. Imam adalah orang yang diikuti dan bukan dilawan atau didebati. Alasan orang mengikuti adalah karena banyak factor, salah satunya adalah keluasan ilmu, kewaroan hidup, kedalaman kajian, ketawadhuan, produktivitas penyebaran ilmu dan pengabdian kepada murid-muridnya. Bila Anda setuju, madzhab Syafi’i yang berkembang baik di wilayah Asia (tenggara) dan sebagian Afrika adalah salah satu warisan Imam Nawawi. Di Indonesia, ajaran Syafi’iyah menyebar sangat cepat melalui lembaga pesantren. Entah ini karena sentiment ke-Indonesiaan atau karena ajaran pemikirannya yang lebih cocok untuk Indonesia. Yang jelas, ajaran beliau sangat membumi dan diterima secara luas.

Kedua, Imam Nawawi adalah orang mulia di sisi Allah karena do’a dari murid-muridnya. Hal ini bisa diteropong dari tradisi santri-kyai di pesantren Indonesia. Ketika mereka mau mengkaji kitab muktabaroh (salah satunya adalah karangan Syeikh Imam Nawawi) dapat dipastikan akan hadhoroh dulu. Hadhoroh adalah berdo’a atas nama nabi Muhammad dan berdo’a kepada para mushonif (pengarang kitab). Tujuan pokok dari berdo’a ini adalah untuk kemudahan memahami ilmu yang dituliskan oleh mushonif sehingga para santri segera cepat dan memiliki keberkahan hidup dalam memahami ilmunya. Keberkahan ini salah satunya diterjemahkan memiliki ilmu yang bermanfaat. Do’a kepada mushonif inilah yang menjadikan Syeikh Imam Nawawi selalu dimuliakan Allah, bagaimana tidak, setiap pesantren dan setiap santri berdo’a untuk kebaikan beliau. Maka, Aras Allah bergoyang untuk menerima kemuliaan Syeikh Imam Nawawi yang dipanjatkan oleh para santri yang “bersih” itu.

Ketiga, Syeikh Nawawi mulia karena investasi ilmu yang tak pernah mati. Maksud tak pernah mati ini adalah karena dituliskan serta didesiminasikan kepada murid-muridnya. Ada banyak ulama yang memiliki ilmu dan bermanfaat ilmunya, tapi mereka tak menuliskan ilmunya, sehingga usia kebermanfaatan ilmunya terbatas pada usia hidupnya. Usia ilmu yang dimilikinya berbanding lurus dengan usia hidupnya. Ketika wafat, maka habislah ilmunya. Sebagai contoh, Imam Ad Dawuli. Ilmunya sangat tinggi dan cocok menjadi ulama mujtahid dan bisa membuat sebuah madzhab ke lima setelah madzahibul Arba’ah. Tapi karena tradisi menulisnya rendah, dan juga murid-muridnya tidak menuliskannya, maka ijtihad ilmu fikihnya wafat seiring kewafatan sang mujtahidnya. Nah, Imam Nawawi tidak. Ia pengikut Imam Syafi’i dan memodifikasi ajaran Fikih Syafi’i secara local dan dapat diterima dengan mudah oleh ummat dengan tetap tidak keluar dari pakem sumber utama Islam; Qur’an dan Sunnah.

Apa Implikasi untuk Pendidikan Kita

Saya meyakini, setiap orang ingin semulia Syeikh Imam Nawawi. Bagi mereka yang menjadi panji ilmu bernama guru atau dosen, kesempatan ini sudah di depan mata. Seperti yang Imam Nawawi lakukan selama hidupnya, beliau menghabiskan hidupnya untuk ilmu dan ilmu. Beliau mengabdi kepada muridnya untuk menyebarkan risalah Islam. Beliau hidup dengan pena-nya untuk menambah literature khasanah Islam yang memuliakan. Beliau juga bergaul dengan ulama lain untuk memperkuat dakwah islamiah. Beliau adalah cermin cendikiawan Islam yang tinggi ilmunya, kuat imannya dan produktif menulis keterampilannya.

Nah, bila ingin mengikuti beliau, maka harus melakukan tiga hal penting ini. Pertama harus sungguh-sungguh mencari ilmu sampai batas paling maksimal. Jadilah manusia yang kepalanya penuh dengan pengetahuan (empirik-ghaib), hatinya penuh dengan keyakinan atas iman yang kuat, dan memiliki keterampilan untuk memajukan manusia lainnya. memajukan dalam arti mencoba mengikuti jejak para pendahulu atau mencari peluang untuk mengembangkan yang belum berkembang di dunia ilmu yang digeluti. ATM yang berarti amati, tiru dan modifikasi Syeikh Imam Nawawi di era sekarang adalah hal yang paling bisa kita lakukan. Amati apa yang telah menjadi karyanya, tiru gaya menyebarkannya dan modifikasi ajarannya sesuai dengan kondisi kontemporer saat ini. Dengan satu syarat utama berpegang teguh pada Qur’an dan Hadits.

Kedua, harus menginvestasikan ilmu kita dengan berbagai cara. Cara pertama adalah memanfaatkan ilmu dengan sebesar-besarnya kemanfaatan ummat. Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat. Cara kedua adalah memperpanjang usia kita dengan memperpanjangnya melalui tulisan. Buah pena tidak terbatas usianya. Jadi menuliskan ilmu yang kita punya serta menyebarkannya adalah cara paling baik untuk kita senantiasa berinvestasi amal-ilmu kita. Pantes saja, perguruan tinggi di dunia saat ini, menginginkan seluruh dosen untuk terbuka ilmunya dan menyebarkan kepada seluruh dunia. Kita masih mengenal Burner, Machieveli, Karl Marx, Al Ghazali, Ibnu Batutah dan sederet ilmuwan lainnya. Kenapa masih kenal? karena mereka menuliskan ilmu dan pandangannya.

Ketiga, harus adaptif untuk menerapkan ilmu. Sasaran dan tujuan yang dilakukan oleh ilmuwan semacam Imam Nawawi adalah mampu mengadopsi, adaptasi, duplikasi dan desiminasi sesuai dengan kebutuhan dan local wisdom. Tujuannya satu yaitu menyebarkan risalah kenabian Muhammad untuk menggapai kebahagiaan hakiki, namun sasaran yang dituju adalah berbeda, sehingga prinsip adatasi dan purifikasi dilakukan secara bertahap. Untuk meluaskan ajarannya, maka buah pena menjadi pilihan tepat. Ujungnya, ilmu yang hasil dari komodifikasi tanpa keluar dari jalur sumber utama diproduksi dengan baik dan sangat bermanfaat bagi ummat.

Itulah kehebatan Imam Nawawi. Atas kehebatan ini, tidak salah sepertinya kalau beliau dimuliakan oleh Allah. Dan, kemuliaan itu Allah tunjukan secara global dengan jasad jenazahnya yang masih utuh. Hal inipun saya setuju dengan kabar saat Makam Gusdur sempat longsor. Orang melihat bahwa kain kafan dan jasadnya masih utuh, padahal sudah tahunan Gusdur dimakamkan. Allah menunjukan kemuliaan itu pada manusia, bagi Imam Nawawi atau Gusdur itu tidak penting, karena tidak ada kepentingan mereka. Tapi ini mutlak untuk menjadi ibroh (pelajaran) bagi manusia yang masih hidup. Layaknya, Allah mengawetkan jasad Fir’aun untuk menunjukan bahwa sejarah kelam masa lalu atas kekufuran itu ada. Wallahu a’lam.

Bumisyafikri, 19/1/18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *