Beranda / Uncategorized / Jenis Kelamin Perguruan Tinggi Islam

Jenis Kelamin Perguruan Tinggi Islam

mesjid

Oleh: Zaki Mubarak

 

Tak bisa dipungkiri, perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) memiliki kecenderungan ilmu dalam implementasi kurikulumnya. Kecenderungan itu sangat dipengaruhi oleh “jenis kelamin” PTKI yang menjadi “ideologi” di belakangnya. Ia semacam jantung atau ruh dari sebuah PTKI dalam mengimplementasikan kurikulum dan kajiannya. Hal inilah yang menjadikan PTKI sebagai corong sebuah ideologi guna melestarikan ajarannya.

Tulisan ini berupaya mengurai kecenderungan “jenis kelamin” PTKI. Jenis kelamin adalah istilah sederhana sebagai analogi atas ideologi atau ajaran yang berkembang di Indonesia. Islam sebagai ajaran yang universal dapat diturunkan menjadi aliran-aliran (denomination). Aliran ini bisa dilihat dari tradisinya, pemikirannya, atau simbolnya. Pertarungan aliran ini dapat dilembagakan menjadi institusi pendidikan, mulai dari pendidikan dini, dasar menengah sampai tinggi.

Ideologi Islam: Universalitas Kehidupan yang Sarat Penafsiran                             

Islam sebagai sebuah ajaran tidak ujug-ujug melembaga bernama “Islam”. Jika sepakat bahwa Islam adalah sebuah ajaran, maka Nilai-nilai kebaikan yang ada di agama sebelumnya telah terlebih dahulu hadir dan diajarkan dalam agama terdahulu. Ini berarti bahwa kelembagaan Islam adalah kompilasi atau komodifikasi ajaran agama terdahulu. Islam adalah sebagai ajaran yang menyempurnakan agama sebelumnya dimana sifatnya adaptif dan konsolidatif.

Pembatasan dalam akomodatif dan konsolidatif dari ajaran sebelumnya menggunakan firman baru yang dikomodifikasi dalam Al Qur’an. Islam (taslim, millah, muslim) tidak lahir saat Nabi besar Muhammad saw saja, tapi ada sejak manusia itu lahir. Al Qur’an telah mewartakan hal ini. Karena al Qur’an dipersiapkan oleh Allah sebagai perjanjian terakhir setelah perjanjian lama dan baru milik Yahudi dan Kristen, maka Isi Qur’an memiliki penyembunyian makna sesungguhnya. Ada banyak makna Qur’an yang susah didefinisikan atau dimaknai oleh bahasa manapun, sehingga penafsirannya membutuhkan firman yang lain.

Pemilihan bahasa Arab untuk menjadi media penyampaian firman Allah sangat tepat. Disamping bahasa Arab yang sangat kaya akan kosa kata (mufrodat), bahasa Arab memiliki dimensi sastra yang sangat tinggi. Al Qur’an sebagai sumber dasar Islam telah lulus dalam tiga test. (1) test kemukzijatan Al Quran telah dibuktikan, baik dalam dimensi ke”aneh”an, lamanya usia, ataupun dimensi lain seperti mudahnya dihapal walaupun oleh anak kecil. (2) test kesasteraan telah dibuktikan oleh kehebatan Al Qur’an melalui bahasa Arab yang dalam sekali maknanya. (3) test ilmiah yang telah dibuktikan oleh para ilmuwan dimana banyak produk pemikiran ilmiah yang ditemukan baru-baru ini dan sudah dituliskan dalam Qur’an berabad-abad lamanya.

Qur’an dengan tiga test tadi telah membuktikan bahwa Qur’an bisa bertahan sampai saat ini. Relevansi Qur’an senantiasa bisa beradaptasi dalam segala kondisi zaman. Ini diakibatkan oleh desain Qur’an yang tidak mirif Undang-undang. Kalau undang-undang setiap pasal menjelaskan secara jelas dan rinci tentang segala sesuatunya. Qur’an dalam menjelaskan sesuatu tidak menjelaskan sejelas-jelasnya dan disimpan ditempat yang berbeda satu sama lain. Satu di surat A satunya lagi di surat B dan C. Dampaknya, untuk menafsirkan Qur’an tidak bisa satu kesepakatan tafsir. Butuh tafsir maudhu’i untuk memahami secara komprehensif. Hal inipun menjadikan al Qur’an sebagai sumber multiple reality dalam memandang sebuah komponen kehidupan.

Sama halnya dengan Qur’an, Hadits pun memiliki kondisi yang sama dengan Qur’an. Bila untuk memahami Qur’an kita mesti mengetahui asbabunnujul, maka hadits membutuhkan asbabul wurud.  Dengan mengetahui dasar lahirnya firman dan sabda tadi, maka Qur’an dan Hadits akan diketahui maknanya, walaupun itu tidak mutlak. Ada nilai universal yang tidak membutuhkan asbab, tapi lebih kepada nilai yang secara universal dapat diterima tanpa cedera.

Karena konten Qur’an dan Hadits sebagai sumber ajaran pokok yang memiliki multitafsir, maka hasil dari memahaminya menjadikan aliran keagamaan. Kedinamisan ajaran ini menjadikan Islam dapat diklaim oleh siapapun dan tidak ada standar mutlak dalam menentukan keislaman. Ada ketercapaian ajaran yang qot’i (statis) yang secara konsensus telah disepakati oleh semua aliran dan menjadi core Islam,tapi di sisi lain ada banyak perbedaan (khilafiyah) satu aliran dengan yang lainnya. Sehingga, ini memunculkan bahwa Islam memiliki dua dimensi ajaran; (1) statis yang sifatnya tetap dan dogmatis, (2) dinamis yang sifatnya adaptif dan terbuka.

Jadi, aliran yang berbeda dalam Islam adalah sangat logis dan normal dalam sebuah ajaran. Hal ini pula yang terjadi di semua ajaran di dunia. Berapa ratus aliran di Kristen, Yahudi, Hindu, Sunni, Syiah. Ini normal dan logis bila dilihat dari sisi perkembangan pemikiran manusia. Semakin manusia berpikir, maka semakin berbeda pula aliran keagamaannya.

Ideologi PTKI: Rebutan Mindset Mahasiswa

Tidak bisa dipungkiri bahwa pendirian PTKI tidak bisa lepas dari “ideologi” yang dibawanya. Semisal Universitas Muhammadiyah, Universitas NU (dengan berbagai derivasinya), Universitas Paramadina, UIN dan lain sebagainya. Ideologi yang dibawanya akan disusupkan kepada mindset mahasiswa agar menjadi “pengikut setia” ideologinya. Hal ini merupakan sebuah proses regenerasi organisasi. Hal ini juga adalah upaya membesarkan atau mempertahankan warisan ideologi yang didesain oleh pendahulunya.

Dampak yang kental dalam persaingan PTKI berbasis ideologi ini adalah perebutan massa dalam memengaruhi mindset. Ideologi ini harus ditanamkan secara “paksa” dalam berbagai mata kuliah kepada mahasiswa. Mata kuliah kemuhammadiyahan untuk UM, aswaja untuk UNU, Ajaran Pluralisme untuk UIN atau PTKI yang tidak berbasis ormas. Banyak ormas-ormas keislaman baru yang berupaya mendirikan PTKI sebagai basis penguatan ideologi. Perlombaan membuat PTKI berbasis ideologi, baik karena pendekatan Assobiyah (kefanatikan atau penisbahan) terhadap pendiri ideologi atau karena organisasi berdampak menjamurnya PTKI di berbagai daerah. Tujuannya sama, ingin melestarikan ideologi yang diyakininya.

Ini tidak salah, namun dalam konteks kualitas, PTKI sepertinya menomor duakan hakikat PT dibangun. Banyak PTKI yang tidak memiliki kualitas baik dan menjadi nomor dua dari sisi kelas kualitas. Karena kekurang konsistenan dalam kualitas dan dianggap oleh masyarakat menjadi nomor dua setelah PT umum, maka pendekatan perekrutan mahasiswa adalah dengan cara sentimen ormas, keluarga, pesantren, alumni, atau lainnya. Para mahasiswa masuk ke PTKI model ini bukan karena alasan kualitas dengan indikator ala perguruan tinggi World class university, namun karena alasan-alasan “kesamaan”.

Karena sama, maka mahasiswa dan PTKI menjadi sebuah komunitas yang bersepakat untuk melanggengkan pemikiran “ideologi” yang sudah dirumuskan. Komunitas ini menjadi corong organisasi untuk terus bergerak atau memantafkan jenis kelamin ideologinya untuk terus berkembang dan diturunkan secara turun temurun. Bahu membahu kelanggengan ideologi ini akan sangat membantu “eksistensi” jenis kelamin ideologi sebuah organisasi.

Persaingan Jenis Kelamin PTKI

Persaingan antar ideologi di PTKI memiliki dua dampak; positif dan negatif. Pertama dampak positif. Setiap PTKI yang memiliki ideologi tertentu akan berupaya lebih baik dari ideologi PTKI yang lain. Cara-cara yang ditempuh beragam, apakah meningkatkan kualitas pembelajaran, kuantitas mahasiswa atau peningkatan sarana prasarana.

Kualitas pembelajaran yang menjadi kegiatan akademik PTKI dikembangkan dengan berbagai cara terutama dihubungkan dengan profil lulusan prodi yang ada. Di samping sesuai dengan prodi, lembaga yang diikutsertakan dalam pembelajaran lebih luas (dalam penelitian dan pengabdian) tidak terlepas dari lembaga yang memiliki keterkaitan dengan kesamaan jenis kelamin ideologi dengan PTKInya.

Kuantitas mahasiswa menjadi pandangan pokok masyarakat kita dalam memandang kemajuan PTKI. Semakin banyak jumlah mahasiswa akan diasumsikan semakin maju sebuah PTKI. Kesederhanaan pandangan ini menjadi pemahaman yang kuat dalam membangun citra PTKI. Sebuah PTKI akan berlomba mencari mahasiswa dengan berbagai cara agar supaya citra “PTKI maju” ini dapat tergapai. Persaingann jumlah mahasiswa PTKI berdampak baik terhadap upaya-upaya memperbesar pasat PTKI, yang secara tidak langsung mempromosikan Islam secara masif.

Persaingan jenis kelamin ideologi ini juga berakibat pada peningkatan sarana dan prasarana. Mahasiswa akan diuntungkan dengan persaingan antar ideologi PTKI untuk melengkapi sarana prasarana, karena PTKI akan merasa tertinggal apabila kelengkapan fisik semisal gedung dan prasarana semisal projektor dan laboratorium tidak dilengkapi di PTKI.

Kedua dampak negatif. Dampak ini bersifat makro dimana persaingannya lebih kepada sentimen-sentimen “ideologi” di masyarakat. Pemikiran-pemikiran tak berdasar yang berkembang dalam memandang sebuah khilafiyah dalam ideologi yang menjadi dasar PTKI disalah artikan oleh masyarakat. Anggapan negatif terhadap aliran ini menjadi pemicu ketidak harmonisan masyarakat pengikut ideologi itu.{}

Bumisyafikri, 13/10/17

13 Komentar

  1. ade muhamadridwan

    Pmikiran yang sangat relepan pa

  2. mohamad Riza Nur Asyipa PAI1C

    sangat progsesif pa ..mnsadarkan kita akan saling menghrmati antar ssama Muslim..

  3. Fahmi Muhammad Fauzi

    Lightner sir..

  4. Bagus pa…bisa memberi pelajaran untuk saling menghormati

  5. ihtiromu bainal muslim.. good…

  6. SilpiRaihani PAI 1c. Ini menjadikan kita saling menghormati akan sesama Muslim.

  7. encep ihsanul aripin

    subhanalloh 🙂

  8. Nisaafifah_pba1b_iaic_17
    .terimakasih pak

  9. terimakasih pa sangat bermanfaat

  10. Allahu akbar

  11. saling menghormati dan toleran ya pak 🙂

  12. Pagus pak… Harus saling menghormati sesama muslim…..

  13. wulan rahmandanti

    bagus pak jadi saling menghormati itu harus dilaksanakan ,,terimakasih atas motivasi nya ya bpakk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *