Beranda / Uncategorized / Kemah Menulis, Pesantren dan Masa Depan Islam

Kemah Menulis, Pesantren dan Masa Depan Islam

kemah penulis
Oleh: Zaki Mubarak

Kita harus mengakui bahwa setelah masa keemasan Isam (golden age) sampai tahun limaratusan Hijriah, Islam memasuki era kegelapan (dark age). Hal ini mirip dengan Eropa sebelum lahirnya revolusi industri di Inggris dan Revolusi Prancis. Bila melihat indikatornya, Eropa (dan Amerika) saat ini berada di masa emas mereka, awalnya ditemukan mesin uap sebagai cara menemukan energi baru untuk mengeksplorasi kekayaan global melalui kolonialisasi yang kemudian memantik Eropa dan Amerika menjadi negara yang maju. Mesin uap inilah yang menjadi gerbang Eropa untuk menapaki kehidupan mereka lebih baik dan berupaya menghegemoni dunia dengan segala caranya.

Bagaimana dengan Islam? Kehebatan Islam pada masa keemasan antara masa dinasti Umayah dan Abasiyah adalah mampu menerjemahkan kehebatan tulisan-tulisan masa emas Yunani. Bangsa Arab Islam memiliki peran besar dalam mengeksplorasi kajian filsafat dengan segala turunannya yang ditulis dengan kata-kata yang sulit di pahami menjadi buku kajian yang mudah dipahami dan disebarkan ke seluruh dunia. Peran ini tidak kecil, peran ini diakui sebagai peran signifikan dunia Islam sebagai wasilah kemajuan ilmu pengetahuan modern saat ini. Walaupun, Barat masih malu-malu mengakuinya.

Tulisan ini mencoba mengeksplorasi pengalaman saya bersama anak muda yang progresif dalam komunitas menulis dengan balutan program kemah menulis. Bisa jadi pola kemah ini menjadi pola yang unik untuk kemajuan literasi anak muda. Karena mayoritas mereka adalah santri dari pesantren dan menejadi mahasiswa di perguruan tinggi berbasis pesantren, maka ada harapan saya untuk mengatakan bahwa Islam bisa mengambil lagi masa keemasannya melalui gerbang pesantren dengan progresifitas anak-anak mudanya dalam menulis.

Pesantren: Tradisimu Saat Ini

Dalam belasan tahun saya mengenal pesantren, saya bisa menyimpulkan bahwa adanya kelemahan di pesantren. Mungkin kelemahan ini agak ekstrim untuk di generalasasi dari kasus-kasus yang saya temukan. Tapi saya bisa menjamin, bahwa generalisasi ini bisa terjadi di hampir di kebanyakan pesantren. Bisa jadi dalam sudut pandang yang lain kekurangan ini adalah kelebihan pesantren, tapi bagi saya kekurangan ini adalah kelemahan yang harus segera diupayakan agar pesantren berubah menjadi lembaga yang semakin hebat. Kenapa? Karena begitu banyak kekuatan pesantren yang bisa menjadi modal untuk menjadi leading sector kemajuan bangsa. Menutupi kelemahannya akan membuat pesantren menjadi lebih kuat dan signifikan perannya.

Kekurangan yang saya maksud adalah santri kreatif, inovatif dan produktif (SKIP). SKIP menjadi hal yang tidak terlalu dominan di pesantren. Tradisi lama di pesantren masih berkutat pada pembelajaran kitab kuning yang ditulis pada tahun limaratusan hijriah tanpa ada upaya untuk memproduksi ulang. Hal ini bisa disadari bahwa tujuan pesantren adalah untuk “mewariskan” dan “menjaga” keilmuan Islam yang dalam konteks ini adalah khasanah keilmuan yang sudah didesain oleh para ulama sholeh masa itu. Tidak salah, namun sepertinya tradisi ini membuat SKIP tidak muncul sebagai bagian penting dari perkembangan pesantren selanjutnya.

Tradisi lain adalah pesantren masih dominan dalam belajar untuk hidup. Pemaknaan kemandirian santri diaktualisasikan dalam memasak sendiri, mencuci baju sendiri, disiplin waktu, mengikuti tata tertib, menguasai bahasa Arab, dan bisa hidup berdampingan dengan teman se-pondok. Tradisi ini sangat baik dan sangat memanusiakan walaupun saat ini, ada pergeseran definisi kemandirian para santri. Dapur umum dan laundry adalah dua contoh yang mengikis kemandirian santri. Dimensi akademik semisal menterjemahkan kitab dan menghafal ayat-ayat atau bait-bait kitab menjadi lebih dominan daripada dimensi kemandirian hidup. Ini mengakibatkan SKIP tidak hadir penuh dalam kehidupan di pesantren.

Kedua tradisi utama ini -tradisi akademik dengan mengkaji kitab kuning yang sudah lama dan dikaji dengan membutuhkan waktu lama pula dan tradisi kehidupan yang menekankan kepada etika, pola rutinitas hidup, kebersahajaan, peningkatan keterampilan verbal- tidak mampu menghadirkan SKIP di pesantren. Rutinitas mengkaji kitab kuning yang sangat variatif masih berkutat pada permasalahan-permasalahan gramatika bahasa yang menurut saya itu sebaiknya diselesaikan secara cepat oleh cara yang cepat pula. Pola hiduppun bisa dirubah menjadi pola hidup yang lebih progressif dengan penuh penemuan-penemuan keislaman yang lebih kekinian. Ingat 24 jam di pesantren bisa menjadi instrumen pokok untuk menggerakan santri menjadi peneliti hebat.

Ada banyak cara untuk mempercepat kemampuan akademik di pesantren. Semisal pemahaman gramatika sebagai instrumen pokok dalam memahami dalam kitab kuning (turats) bisa menggunakan cara yang cepat. Ada banyak metode yang bisa diadopsi semisal metode “Amstilati” atau metode lain yang lebih adaptif. Tradisi pesantren saat ini adalah menggunakan kitab kuning tentang gramatika yang berjilid-jilid dengan pola yang hampir sama. Kitab kuning ini bisa digunakan sebagai sumber, namun cara mengajarnya tidak monoton, namun lebih kepada praktik bahasa, bisa itu menyimak, berbicara, membaca atau menulis. Kata kuncinya adalah model pebelajaran bahasanya yang dirubah.

Pola kehidupan pesantren yang mandiri secara konservatif dapat dimanfaatkan atau dirubah menjadi lebih progresif. Saat ini ngaliweut, nalar, bercengkrama, dan mengasah keterampilan verbal (pidato) adalah yang paling dominan. Para santri belum memiliki tradisi meneliti, menemukan hal yang baru atau paling tidak menuliskan apa yang dipahaminya. Ini tidak semua santri, tapi kebanyakan santri memiliki pola kemandirian dan kehidupan seperti itu. Padahal kalau kita bisa jujur, 24 jam tinggal di pesantren dengan bimbingan para ustad dan memiliki tingkat kolaborasi yang tinggi dapat dimanfaatkan menjadi kegiatan yang hebat melampui kegiatan kampus yang waktunya sangat terbatas.

Kemah Menulis: Gerbang SKIP

Saya melihat, Kemah Menulis (KM) yang dilakukan oleh komunitas menulis di perguruan tinggi Islam berbasis pesantren dan diikuti hampir seratus persen oleh santri adalah gerbang untuk meracik SKIP. SKIP yang belum dominan di pesantren bisa diawali dengan KM. Kenapa?

SKIP dapat diterjemahkan dalam banyak dimensi, baik itu untuk menulis, dimensi penelitian, dimensi pelatihan ekonomi, dimensi teknik-teknik industri, kesehatan atau lainnya. SKIP dalam dimensi menulis berbalut KM adalah kreatif dalam menulis, inovatif dalam menuangkan gagasan dan produktif dalam menghasilkan karya. Bagaimana bisa?

Pertama KM bisa memantik para santri dalam meningkatkan kreatifitas menulisnya. Kreatif adalah derivasi dari “create” mencipta. Mencipta adalah membuat sesuatu yang baru. Mungkin tidak baru seratus persen tapi paling tidak menciptakan sesuatu yang dianggap baru bagi santri itu. Ini bisa melakukan model ATM. “A” pertama adalah Amati tulisan yang sudah ada. Lihat persamaan dan perbedaan antar tulisan. Temukan ide dan sudut pandang penulis dalam eksplorasinya. Dengan mengamati, penulis baru bisa dengan sadar akan memilih model tulisan yang lebih berkesesuaian dengan dirinya. Hal ini cocok bagi pesantren dimana kajian tekstual memiliki otoritas tersendiri di dalamnya.

“T” kedua adalah Tiru apa yang menjadi model yang disukai. Bila model yang disukai adalah fiksi, maka belajarlah meniru model fiksi dengan baik. Tulis cerpen, novel, fiksi ilmiah, atau puisi-puisi dengan memainkan imajinasi yang sama dengan modelnya. Perbedaannya mungkin ada di tema, latar, aktor, atau apapun. Bila penulis menyukai tulisan populer, maka cari tulisan populer yang sangat banyak dan tiru model serta ide-ide yang ada. Bila yang disukai adalah kajian akademik ala perguruan tinggi semisal jurnal, maka kita bisa meniru banyak model jurnal internasional dengan standar-standar tinggi. IMRAD adalah model yang paling banyak digunakan. Bila yang disukai adalah kajian-kajian kitab kuning, maka meniru karya-karya klasik bisa dijadikan rujukan model.

“M” ketiga modifikasi tulisan yang ditiru. Tidak hanya meniru dengan percis sama, tapi penulis bisa memodifikasi tulisan itu dengan sebaik-baiknya. Masukan unsur pemikiran kita di dalamnya. Penulis bisa memasukan unsur “rasa”, “imajinasai”, latar, plot dan lainnya ke dalam tulisan yang dibuat. Hal ini yang akan menjadi aspek kebaruan dari sebuah tulisan yang kita tulis.

Kedua KM bisa menjadi wahana dalam inovatif santri. Inovasi adalah kreativitas dengan nilai lebih, bisa nilai ekonomis, nilai pendidikan, dan nilai lainnya. Dalam konteks inovasi dalam menulis, para santri bisa meningkatkan daya intelektualnya untuk berinovasi dalam menuliskan gagasan. Gagasan yang sering ditunjukan dalam kitab kuning di pesantren atau di perkuliahan dapat dicurahkan dalam tulisannya. Semisal santri gundah dengan istilah syarat air wudhlu “dua qullah” dalam fiqih. Dalam realitasnya, kolam untuk berwudhlu dalam konteks hari ini sangat jarang ditemukan. Yang ada adalah kran. Maka, bagaimana tulisan inovatif menggambarkan fikih kontemporer tentang konsep lama dan baru dipadukan yang dibuat oleh para santri. Diskusi tulisan akan lebih komprehensif dibanding dengan diskusi verbal (kata-kata) yang usia bacanya tidak lama.

Ketiga KM bisa menjadi rumah produktif para santri. Produktif merupakan derivasi dari “product” “produce” membuat produk. Sebuah kreatifitas yang bernilai lebih harus diproduksi agar kebermanfaatannya lebih luas. Dalam konteks menulis, produk yang dihasilkan adalah tulisan. Media tulisnya bisa media massa, media elektronik, media tulis individu semisal jurnal pribadi, diari, atau apa saja. Produk yang dihasilkan dalam KM harus meng-endorse para penulis untuk terus berkarya. Produk yang berbentuk karya tulis harus saling didukung untuk senantiasa menjadi lebih baik.

Bila KM dilakukan oleh banyak pesantren, bukan tidak mungkin tradisi pesantren akan berubah. Yang asalnya pasif (dalam akademik dan non akademik) akan menjadi aktif, paling tidak aktif dalam menulis, tidak tergantung kepada kajian kitab kuning, namun diperkaya oleh kajian-kajian santrinya dalam memahami kitab kuning kekinian. Yang asalnya santri tidak berani berkreasi, dengan KM akan lebih berani untuk berkreasi. Pikiran-pikiran dalam kerangka etika pesantren akan menyebar luas, sehingga pesantren akan menjadi agent of change masyarakat muslim.

Masa Depan Islam: Sebuah Harapan.

Kondisi saat ini, Islam diasumsikan sebagai tertuduh oleh media-media konvensional terutama barat. Ketika Islam telah diputuskan oleh dunia Barat menjadi musuh kedua setelah runtuhnya komunisme, maka propaganda terhadap keburukan Islam mulai diproduksi. Media-media Barat memblow up prilaku oknum muslim yang teror, kejadian kasuistik tidak baik digeneralisasi menjadi imej Islam yang buruk di dunia. Seperti kata Nabi Muhammad saw suatu saat Islam akan seperti buih, banyak pengikutnya tapi tidak berdaya. Dibunuh dengan berbagai macam fitnah dan diserang dari berbagai sudut.

Dalam konteks itu, Islam Indonesia dilirik oleh semua mata di dunia. Islam yang berkelindan dengan demokrasi ala Barat, Islam yang bisa berdampingan dengan non muslim, Islam yang mampu meningkatkan kesejahteraan hidup, Islam yang tidak neko-neko terhadap dunia barat, Islam yang damai, Islam yang rahmatan lil alamin.

Tidak dipungkiri, Islam yang model ini dilahirkan dari lembaganya di Indonesia yaitu pesantren. “Islam Nusantara” sebagai entitas glokalisasi Islam di Indoneisa, atau pribumisasi Islam dalam konteks Indonesia mampu mengagumkan dunia Barat bahkan negara timur tengah sekalipun. Islam yang sejatinya lahir di timur tengah disinyalir telah rapuh dengan Arab Spring yang meluluh lantahkan Islam sebagai agama yang damai dan anti pembunuhan.

Pesantren sebagai lembaga yang mengantarkan Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam yang damai, berdemokrasi dan toleran memiliki tingkat adaptasi yang tinggi terhadap budaya Indonesia dan nilai-nilai modernisme kekinian. Inilah yang menjadi keunggulan pesantren di Indonesia yang membedakan dengan Maktab di Mesir atau lembaga pendidikan lainnya di dunia Timur Tengah. Pesantren telah teruji ketangguhannya dari sebelum merdeka, ketika memerdekakan dan ketika mengisi kemerdekaan.

Oleh karena itu, kelemahan pesantren dalam dimensi produktifitas, karya, inovasi dan kreatifitas dalam proses pendidikannya harus menemukan solusinya. Solusi itu bisa dimulai oleh KM. KM yang merupakan salah satu SKIP dimensi menulis harus menjadi cikal bakal untuk menumbuhkan pesantren sebagai lembaga yang lengkap. Tidak hanya mengkaji keilmuan yang sifatnya klasik, namun lebih produktif kekinian. KM bisa menjadi gerbang pesantren untuk menciptakan atau memantik SKIP dalam dimensi lainnya, yang pada akhirnya pesantren akan bermetamorfosis menjadi lembaga yang berkontribusi kepada kemajuan signifikan negara.

Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini akan melesat maju apabila SDM muslimnya juga maju. Ketersendatan sistem pendidikan dalam meningkatkan kreatifitas, inovasi dan produktifitas akan segera diminimalisir dengan SDM SKIP ala pesantren. Para alumni pesantren akan menjadi katalisator dalam memantik kemajuan negeri di berbagai bidang. Bangsa kita akan menjadi bangsa produktif bukan bangsa konsumtif, warga kita akan menjadi penemu bukan pengguna saja, negara kita akan jadi negara pengekspor bukan pengimpor, dan pada akhirnya Islam dengan cap anti kemapanan akan segera hilang dengan sendirinya.{}

Bumisyafikri, 15/10/17

17 Komentar

  1. Santika Pba.b iaic.17

    Hadiroh

  2. Selamat hari santri…

  3. Selamat hari santri… Smoga bisa mnhadi generasi penjawab tantangan masa depan.

  4. Hari Santri 🙂

  5. Jajang Abdulhamid

    Hidup santri castrologi

  6. Dina Marianaulpah

    Happy santri day

  7. Selamat hari santri..

  8. hidup santrii
    nisaafifah_bpa1b_iaic_17

  9. Husni Ilmanhamdani

    Hidup santri

  10. Hadir

  11. selamat hari santri . mari kembalikan kejayaan islam dengan tulisann 🙂

  12. Selamat Hari Santri..

  13. Miftahudin Dakwah

    Sip pesantren memang lembga terbaik untuk sebuah pendidikan namun hentah kenapa masih banyak orang diluarsana memandang sebelah mata akan sistem kepesantrenan.

  14. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidinaa Muhammad

  15. santri penulis

  16. Dengan santri menulis maka kita akan dicari saat tiada dan dikenang saat menghilang

    SelaMardianti_PBA1B_IAIC_2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *