Beranda / Uncategorized / Khutbah Jum’at ala Positivistik

Khutbah Jum’at ala Positivistik

quran zakimu.com

Oleh: Zaki Mubarak

BAGI kaum akademisi yang pola pikirnya sudah dilatih untuk kritis dan tidak menerima apa saja yang didengarnya, maka segala sesuatu harus didasarkan pada data empiris dan rasional. Mereka dapat menerima “kebenaran” dengan cara observable (dapat teramati) dan measurable (dapat terukur). Kebenaran ini adalah kebenaran kaum positivistik pengikut John Locke dan kawan-kawannya. Pendekatan ini melahirkan sebuah pendekatan baru bernama scientific method (ilmiah). Hampir semua produk penelitian universitas Barat menggunakan metode ini sebagai dasar penelitiannya.

Lalu Bagaimana dengan agama? Agama memiliki dua kecenderungan, pertama taken for granted (diterima apa adanya, dari sono-nya) yang disebut ilmu statis atau qot’i dan yang kedua ilmu yang dinamic atau dhonni atau istilah kita dinamis, bisa berubah sesuai dengan relevansi zaman. Bukan berarti agama tidak sesuai dengan zaman, namun ada kalanya setiap zaman memiliki terminologi khusus dalam memandang suatu masalah sehingga membutuhkan ijtihad.

Kasus fiqih tentang syarat air wudhu dua qullah dalam kitab fikih klasik harus direvisi karena tidak sesuai dengan kondisi di perkotaan saat ini. Air wudhu dalam takaran “keran” hari ini lebih relevan dengan istilah qullah dalam kitab klasik. Dalam konteks ini, maka lahirlah istilah religious (agama) dan religiousity (keberagamaan). “Agama” ditujukan kepada sesuatu yang lebih dogmatis sedangkan “keberagamaan” adalah hasil ijtihad sesuai lokus dan tempus. Jadi kasus qunut, tahlil, kendurian, rajaban dan istilah lain adalah bentuk dari religiousity.

Istilah lain untuk memandang perbedaan ini adalah tekstualis dan kontekstualis. Tekstualis ditujukan kepada ajaran yang tertulis dan biasanya mengacu kepada sumber hukum utama Islam; Qur’an, Hadits, Atsar dan Qoul ulama salafussholih. Kontekstualis mengacu kepada integrasi agama yang tekstual terhadap zaman dan manusia yang mengisinya yang bersifat situasional. Memadukan ajaran agama dengan budaya setempat adalah salah satu bagian dari kontektualisasi ajaran.

Nah, tulisan ini mencoba mengajukan beberapa pandangan bagaimana Khutbah Jumat yang mayoritas dilakukan secara tekstualis-konseptual menjadi lebih menarik bagi kaum akademisi dengan berisi kontektualis-faktual. Analisisnya tidak membentur kepada aturan fikih khutbah karena dalam konteks ini khutbah boleh memiliki dua kategori. Kategori pertama adalah bertujuan litta’abudiyah (tujuan ibadah) dan yang kedua litta’aquliyah (tujuan akliyah, rasional).

Banyak daerah terutama di pedalaman, khutbah jum’at menggunakan bahasa Arab yang mayoritas mustami’innya tidak paham atas khutbahnya. Mereka mengikutinya karena tujuan khutbah jum’at sebagai ibadah. Ini layaknya bacaan sholat yang berbahasa Arab yang mayoritas muslim tidak paham akan artinya. Jadi mereka pasrah karena itu taken for granted. Tapi di perkotaan yang lebih rasional memilih khutbah Jum’at sebagai bagian pembelajaran yang isi materinya harus dipahami menggunakan bahasa yang dimengerti.

Maka di sinilah litta’aquliah dijadikan sandaran. Jadi tidak ada yang salah, bila khutbah Jum’at disajikan secara kontekstual dan dinamis dan bisa jadi lebih menarik dari kajian yang normatif-konseptual. Masalahnya, bagaimanakah cara khutbah Jumat dengan menggunakan pendekatan positifistik yang selalu menjadi rujukan kaum akademisi?  Apakah khutbah model ini akan lebih mencerdaskan dan mengembangkan pemahaman lebih dalam dari sebuah ilmu agama?

Materi Khutbah Jum’at: dari Konseptual, Faktual, Prosedural sampai Metakognitif

Ini adalah pengalaman saya ketika khutbah Jum’at di tahun 2008, tepatnya di ITB Bandung. Khutbah yang saya dengarkan sangat menarik dan penuh dengan data. Khutbahnya mirif dengan penyajian journal ilmiah yang mengintegrasikan ilmu Islam yang konseptual dengan data empiris yang saling melengkapi. Di tahun 2015 pun saya sempat terrcengang ketika mendengar khutbah di UPI Bandung yang menjelaskan data-data mahasiswa UPI yang bisa membaca Al Qur’an dan yang belum bisa sehingga diperlukan adanya treatment universitas dalam penyelesaiannya.

Khutbah itu sangat menarik dan memberitahukan kondisi real tentang Islam yang konseptual dan muslim yang faktual. Khutbah juga dijadikan sebuah ajang mencerdaskan mustami’in dalam memahami permasalahan dan upaya penyelesaiannya. Namun, saya memperhatikan setiap khutbah yang saya ikuti tahun-tahun belakangan tidak begitu menarik karena tidak penuh dengan data. Isinya hanya normatif yang bagi orang biasa membaca akan mudah menemukan di buku-buku agama. Jadi menurut saya, khutbah yang menarik adalah khutbah positivistik yang lebih rasional dan kaya data empiris.

Untuk menjadikan khutbah sebagai transfer ilmu atau diskusi satu arah informasi, maka perlu mengetahui jenis ilmunya. Paling tidak ada empat kategori ilmu. (1) ilmu konseptual. Ilmu ini adalah ilmu konsep yang dalam Islam sangat dominan. Allah sebagai Tuhan ummat Islam adalah sebuah konsep, begitupun malaikat, zakat, puasa, surga dan neraka. Banyak sekali Islam dijelaskan secara konseptual yang dalam penjelasannya perlu penjelasan konseptual yang menjelimet. Menjelaskan tentang Allah adalah hal yang susah sehingga perlu ilmu khusus tentang “Akidah/Tawhid”. Nabi diutus oleh Allah adalah untuk menjadi model konseptual yang rumit, sehingga tugas nabi adalah mengoperasionalkan ilmu konseptual yang rumit itu.

(2) ilmu faktual. Ilmu ini adalah ilmu kontekstual dalam Islam. Islam sebagai agama yang konseptual didefinisikan ulang menjadi yang faktual di lapangan. Islam yang qot’i dan dhonni akan mengalami perubahan-perubahan persepsi dalam implementasi. Perubahan itu bisa sangat universal disetujui oleh semua pihak (ijma’) ada juga perubahan itu kasuistik dan opsional sehingga satu sama lain saling menyalahkan fakta agama di lapangan. Inilah yang disebut khilafiyah. Fakta-fakta inilah yang sering menjadi alasan munculnya firqoh (sekte) dalam agama.

(3) ilmu prosedural. Ilmu ini adalah pengetahuan tentang tahapan implementasi dari ilmu konseptual Islam. Zakat sebagai sebuah konsep harus diimplementasikan menjadi sebuah tahapan yakni bagaimana zakat itu dilakukan. Sholat sebagai ibadah konseptual harus diamalkan menjadi sebuah tahapan prosedural. Nah, ilmu prosedural inilah yang menjadi ilmu amaliyah yang selalu diistilahkan dalam ilmu fikih. Ilmu prosedural dalam implementasi konsep Islam akan tergantung dari siapa yang mengembangkan.

Ada dua pihak yang mengembangkannya, yaitu pertama pihak yang memiliki otoritas tertinggi dari Islam yaitu Nabi Muhammad saw. Ia adalah pihak yang taken for granted, tidak bisa dibantah dan benar. Kebenaran yang dimaksud bisa berupa ujaran, sabdaan, atau ungkapan yang disebut Hadits dan juga prilaku atau tiqrar (Ketetapan dan pengabaian, tidak menyetuji dan juga tidak melarang) yang biasa disebut Sunnah.  Ketika nabi muhammad sholat shubuh dua rokaat, maka definisi sholat shubuh harus mengikuti prosedur yang ditunjukan Nabi. Tidak peluang untuk berinovasi dalam jumlah sholat shubuh, misalnya jadi sepuluh rokaat.

Pihak kedua adalah yang memiliki otoritas tinggi tapi tidak setinggi Nabi Muhammad. Ia bisa sohabat nabi, bisa tabi’in, bisa atba’ attabi’in, bisa juga para ulama. Ketika Qur’an menjelaskan sebuah ilmu keisalmana yang sangat konseptual, dan Nabi memberikan contoh implementasi prosedural sesuai dengan zaman dan asbab al wurud-nya, maka ketika relevenasinya tidak sesuai mereka membutuhkan Ijtihad. Nah, pihak kedua inilah yang paling berhak menerjemahkan Qur’an dan Hadits melalu beberapa metode baik itu Qiyas maupun Ijma (konsensus). Keduanya memiliki kekuatan hukum untuk menentukan “kebenaran” Islam.

(4) ilmu metakognitif. Ilmu ini adalah ilmu yang lebih tinggi. “meta” artinya “belakang, di belakang, makna di belakang” jadi metakognitif adalah “ilmu atau pemahaman dibelakang pengetahuan Islam”. Metakognitif adalah ilmu paling tinggi dalam kognisi seseorang. Ia melakukan ilmu konseptual dan prosedural islam dan mengetahui makna dibelakangnya. Semisal ia mengetahui tentang apa fadhilah dari sholat, ia mengetahui rahasia sedekah, ia mengetahui keunggulan dalam melakukan tahajud dan lain sebagainya. Ilmu mengetahui asbab al wurud dan asbab an Nujul dari Qur’an dan Hadits pun sehingga mampu merumuskan qiyas dan Ijma bisa jadi termasuk dalam ilmu ini.

Khutbah Jum’at: dari idealistik ke Positivistik

Karena khutbah Jum’at boleh dilakukan dengan pendekatan ta’aquliyah, maka pelaksanaan khutbah Jum’at sangatlah dinamis dan bisa menggunakan pendekatan positivistik. Biasanya, setiap khotib (orang yang berkhutbah) menggunakan pendekatan idealistik sebagai materi jum’at. Materi ini adalah normatif yang kebanyakan adalah menyampaikan ide-ide pokok dari ajaran. Ini bersifat statis dan memiliki dimensi kebenaran absolut. Penyampaiannya mirip doktrinasi dan tidak bisa disanggah.

Materi idealistik adalah materi yang paling aman dan disinyalir jauh dari perdebatan karena ajarannya langsung ke inti ajaran, biasanya bersumber kepada Qur’an dan Hadits. Penggunaan pendekatan ini sangat normal dan sudah banyak berkembang di dunia Islam. Nah, apakah ini adaptif terhadap relevansi zaman?

Ada dua pendekatan mengkaji kebenaran idealistik, yaitu pendekatan kesesuaian dan pendekatan kontradiktif. Pendekatan kesesuaian adalah untuk mencari data-data empirik disesuaikan dengan ilmu konseptual yang ada dalam ide-ide pokok Islam. Pendekatan kontradiktif adalah melihat fakta-fakta ilmiah dikontradiksikan dengan ajaran konseptual Islam. Karena Qur’an menempatkan beberapa ajaran di berbagai surat Qur’an dan tidak ditata sesuai dengan tema, maka Qur’an akan “selamat” dari kontradiksi ini. di samping itu, Bahasa Qur’an menggunakan bahasa sastra yang memiliki makna mendalam dan multi interpretasi. Ujungnya, kontradiksi faktual akan dapat disenyawakan dengan makna Qur’an yang sangat adaftif.

Jadi kedua pendekatan ini sangat adaptif dan Qur’an lolos dari uji pendekatan ini. untuk masalah hadits, ini akan berlaku sama. Karena hadits dan sunnah adalah penjelas dari Qur’an dan sangat situasional tergantung dari asbab al wurud-nya, maka Hadits akan selamat juga dari dua pendekatan ini. Hal yang paling bisa menjadi alasan dari Hadits bila tidak relevan dengan fakta-fakta saat ini adalah adanya qiyas dan Ijma’.

Lalu bagaimana khutbah Jum’at bermigrasi dari idealistik ke positivistik? Tentu saja, khutbah model ini harus mengikuti beberapa tahap ide positivistik dalam melakukan sebuah khutbah. Prinsip dari khutbah positivistik ini harus rasional, observable dan measurable dan tentu saja dijelaskan dengan menggunakan data empiris. Hal ini sulit bagi para khotib yang tidak memiliki kekayaan data empiris dan tidak membaca jurnal ilmiah yang penuh dengan data faktual. Ini membutuhkan perjuangan yang lebih dari sekedar memahami kitab-kitab klasik yang penuh dengan norma dan idealistik.

Khutbah positivistik dapat dilakukan dengan, pertama harus mengungkapkan isu faktual yang sedang hangat. Isu ini bisa diungkapkan dengan berbagai fakta empiris sehingga para mustami’in bisa mengetahui atau menyetujui fakta-fakta ini. fakta ini bisa disorot dari berbagai kasus dari media massa, isu nasional, isu rasial, isu moral, isu kebijakan politis, dan isu lain yang sedang berkembang atau menarik untuk dibahas.

Kedua harus menentukan pertanyaan khutbah yang menggiring mustami’in memahami arah tujuan dari khutbah secara keseluruhan. Pertanyaan dan tujuan khutbah ini perlu disamapaikan karena para mustami’in harus tahu arah pembicaraan dari khutbah. Jumlah pertanyaan bisa mengandung beberapa pokok masalah yang dikemukan sesuai dengan isu yang disampaikan di awal. Isi khutbah harus dipastikan akan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh khotib, sehingga akhir dari khutbah akan berujung kepada mustamiin memahami masalah yang ditanyakan oleh khotib.

Ketiga adalah berupaya menjawab masalah yang ditanyakan dengan landasan teoritis dan yuridis yang berkembang dalam teks-teks keilmuan Islam, itu bisa dari Qur’an Hadits, Atsar, tulisan Ulama Salafussholih dan Ulama kontemporer. Kalau istilah karya ilmiah adalah Literature Review. Penyebutan landasan teoritis ini harus bereferensi agar dianggap valid dan mutawatir.

Keempat adalah upaya untuk menginegrasikan teori dengan data lapangan. Data ini bisa diambil dari hasil kajian jurnal atau hasil kajian, muthola’ah, renungan, fakta di sekitar khotib, atau hasil diskusi faktual dalam pertemuan ilmiah para Ulama. Data ini harus aktual, faktual dan empiris agar tingkat ketertarikan mustami’in lebih baik. Data lapangan ini bisa berupa kuantitatif yaitu angka prosentase dari sebuah masalah yang diajukan, atau data kualitatif yaitu data tentang sebuah narasi yang sifatnya deskriptif. Pemaduan kedua data ini akan lebih menarik karena lebih lengkap dan sangat diminati oleh mustamiin positivistik.

Kelima harus membahas kajian teoritis dan praktis (empiris) sehingga menemukan sebuah konflik-konflik (gap) antara das sein dan das solen. Karena landasan teoretis sangat adaptif untuk semua permasalahan di dunia, apapun masalahnya, maka dapat dipastikan gap itu bisa dijawab dengan benar oleh firman Tuhan, Sabda Nabi atau qoul Ulama. Pertentangan inilah yang akan menjadi ruang diskusi satu arah khotib dalam berkhutbah. Para mustami’in akan mengakumulasikan informasi dan terlibat langsung dalam pemikiran khutbah Jum’at. Jadi ngantuk yang menjadi kebiasaan dalam khutbah Jum’at akan terhindarkan.

Keenam adalah harus menyimpulkan. Tentu saja simpulan adalah upaya sederhana untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh khotib di awal pembicaraan. Di area ini, mustami’in diajak untuk setuju atas “kebenaran” ilahiah atas fakta-fakta empiris dan menunjukan bagaimana hebatnya Islam sebagai ajaran yang adaptif dan solutif terhadap sebuah permasalahan saat ini.

Dengan begitu, Khutbah Jum’at akan menarik, menginspirasi dan jauh dari mistis. Konsep abstrak yang sering dilakukan dalam pendekatan idealistik menggiring Khutbah Jum’at sebagai arena untuk menutup mata sementara (ngantuk) sambil menunggu sholat dilakukan. Hal ini berbahaya, karena kebanyakan dari muslim perkotaan yang bekerja, mereka menemukan kajian Islam yang memaksa adalah pada saat Jum’at. Jadi, sayang bila kesempatan baik ini disia-siakan oleh para khotib untuk memasukan ide pokok Islam dalam seluruh jiwa muslim yang mengikuti Jum’atan. Masalahnya adalah pada model penyampaiannya. Apakah idealistik yang membuat kantuk, atau positivistik yang harus terlibat berpikir? {}

Bumisyafikri, 3/11/17

2 Komentar

  1. Alhamdulillah…
    Pencerahan yg begitu menggugah,khususnya bagi yg diamanati Alloh sebagai juru da’wah lewat mimbar khutbah jumàh.
    Semoga kami bisa menggali,menggali dan menggali ilmu.

  2. triwati ummuhani

    Sangat bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *