Beranda / Uncategorized / Kontradiksi Hadits tentang Ramadhan: Sebuah Analisis Kritis

Kontradiksi Hadits tentang Ramadhan: Sebuah Analisis Kritis


Oleh: Zaki Mubarak

HADITS Nabi Muhammad saw yang saya maksud adalah dua hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalah Shahihnya dan hadits yang diriwayatkan oleh Nuaim bin Hammad dalam Kitab al Fittan-nya. Seolah dua hadits ini memiliki konstradiksi dalam memandang Ramadhan sebagai sebuah objek. Yang satu berbicara tentang Fadhilah Ramadhan dan amalah yang harus dilakukan selama Ramadhan, yang satunya lagi adalah prediksi Nabi tentang Ramadhan ketika malam tanggal lima belas (pertengahan) Ramadhan jatuh pada malam Jum’at.

Sebenarnya, saya tidak akan mengkritisi hadits secara langsung, karena saya adalah orang konservatif dalam masalah akidah termasuk memahami hadits. Saya anti mengkritisi hadits bahkan bila itu hadits dhoif sekalipun. Karena memang saya bukan ahli hadits dan juga saya tidak memiliki otoritas untuk memahami dan memaknai hadits. Walau demikian, sebagai muslim yang pernah belajar banyak tentang hadits, saya ingin menganalisis beberapa hal yang mungkin belum dianalisis oleh ahli hadits. Analisisnya menggunakan analisis kritis, walaupun tidak sekritis tulisan terhadap sebuah kebijakan “duniawi”. Ada ketakutan “kawalat” bila saya mengkritisinya dengan berlebihan.

Intisari 2 Hadits Ramadhan yang Dikaji

Saya tidak akan menuliskan narasi Arab dua hadits yang dimaksud. Selain narasinya panjang, saya juga percaya bahwa pembaca sudah bisa mengenal hadits ini. Di samping isi haditsnya sudah sangat populer, karena suka diceramahkan secara sepotong-sepotong disebabkan narasinya yang sangat panjang, hadits ini memiliki tiga dimensi yang berbeda; dimensi fadhilah Ramadhan, klasifikasi Ramadhan dan dimensi amalan Ramadhan. Silahkan Anda membacanya di kitab-kitab klasik seperti Shahih Ibn Khuzaimah dan al Fitan.

Intisari dari hadist pertama yakni diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah. Intinya, hadits ini diberitakan oleh Salman yang meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad khutbah saat akhir bulan Sa’ban. Bulan ini adalah bulan yang bersentuhan langsung dengan bulan Ramadhan, dan Nabi berbicara secara kontekstual dimana ke depannya ummat akan menjalani ibadah shaum di bulan Rhamadan. Informasi yang disampaikan terdiri dari tiga yakni tentang fadhilah bulan Ramadhan, klasisifikasi bulan Ramadhan dan Amalan Ramadhan yang harus dilakukan ummat.

Fadhilah Ramadhan disimpulkan menjadi (1) bulan Ramadhan adalah bulan yang berkah dengan konsepsi keberkahan yang diilustrasikan dengan keberkahan seribu bulan ( lihat al Qadr). (2) amalan Sunnah memiliki pahala fardhu, sedangkan amalan fardhu memiliki pahala tujuh kali lipat amalan fardhu di bulan selain Ramadhan. (3) Ramadhan adalah bulan kesabaran dimana orang yang sabar akan diberi hadiah utama Jannah. (4) Ramadhan adalah bulan simpati kepada sesama terutama simpati kepada orang yang tidak mampu. (5) Ramadhan adalah bulan dimana rezeki orang berpuasa ditambah. (6) Ramadhan adalah bulan pengampunan, bebas dari api neraka Jahannam bagi orang yang memberi makanan buat berbuka walaupun sebuah kurma, seteguk air atu seisap susu. Bahkan, mereka akan diberikan pahala puasa tanpa dikurangi sedikitpun.

Di hadits ini pula dijelaskan bahwa kalkulasi bulan Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian. (1) sepertiga awal adalah rahmat (kasih sayang), (2) sepertiga pertengahan adalah pengampunan dosa, dan (3) sepertiga akhir adalah menyelamatkan dari siksa api neraka.

Amalan yang perlu dilakukan oleh orang berpuasa di bulan Ramadhan adalah terbagi dua, dua yang harus dilakukan dan dua yang akan diperlukan oleh manusia di akhirat. Dua amalan yang harus dilakukan adalah memperbanyak istigfar (meminta maaf akan dosa) dan kedua memperbanyak dzikir kalam thoyyibah. Sedang dua hal yang perlu diminta adalah pertama memohon masuk surga dan kedua meminta perlindungan dari neraka Jahannam. Hal inilah yang direkonstruksi menjadi do’a di bulan Ramadhan: Allohumma inni as’aluk ridhoka wal Jannah, wa a’udubika min shakhotika wannar (Ya Allah kami (saya) meminta ridu-Mu dan Surga dan kami (saya) berlindung dari amarah-Mu dan Neraka.

Intisari hadits kedua adalah tentang huru hara yang akan terjadi pada bulan Ramadhan bila pertengahan Ramadhan (malam tanggal 15 Ramadhan) jatuh pada malam Jum’at. Hadits ini menceritakan “prediksi” (tepatnya keyakinan) Nabi tentang akan terjadinya huru hara yang akan terjadi bila Pertengahan Ramadhan terjadi malam Jum’at. Malam itu akan terjadi gempa, kejadian-kejadian aneh dan diperintahkan setiap muslim untuk tinggal di rumah.

Narasi haditsnya tidak lebih dari begini: “Apabila telah terdengar suara dahsyat di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru hara di bulan syawal, semua suku akan saling berselisih di bulan Dzul Qo’dah, dan akan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan bulan Muharram dan manusia akan banyak yang terbunuh.” Nabi menyebutnya sebanyak tiga kali dan para sahabat bertanya: “ Suara keras apa itu ya Rosulallah?”

“Suara keras yang terjadi di pertengahan bulan Ramadhan. Pada malam Jum’at, suara dahsyat itu mengagetkan orang-orang yang sedang tertidur, menjadikan orang-orang yang berdiri terjatuh, para wanita-wanita terhempas keluar dari kamarnya. Pada malam Jum’at di tahun tersebut itu banyak gempa bumi, jika kalian telah melaksanakan shalat subuh di hari Jum’at pada pertengahan bulan Ramadhan tersebut, masuklah kalian ke dalam rumah-rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, tutuplah lubang-lubangnya, lindungi diri kalian dengan selimut, tutuplah telinga kalian, Jika kalian merasakan adanya suara yang dahsyat, maka sujudlah kepada Allah dan ucapkanlah: subhanal quddus, subhanal quddus, robbanal quddus. Barang siapa yang melakukaknya niscaya akan selamat dan yang tidak melaksanakan akan binasa (HR Nuaim bin Hammad, dalam Al Fittan).

Pendek kata, Hadits kedua itu menunjukan bahwa kerusakan bumi atau kejadian kerusuhan dengan segala dimensinya terjadi pada malam jum’at di pertengahan Ramadhan. Kejadian ini adalah kejadian dahsyat yang kemungkinan akan terjadi kapan saja dengan indikator pertengahan Ramdhan yakni tanggal 15 jatuh pada malam jum’at.

Ramadhan: Keutamaan yang Tak Ternilai

Objek dari analisis yang akan saya lakukan adalah bulan “Ramadhan” bukan haditsnya. Bagi ahli hadits yang menyatakan tingkat kebenaran hadits di dalamnya silahkan merumuskan kajiannya. Bagi saya yang fokus di bidang pendidikan, saya akan memikirkan beberapa kandungan dua hadits ini. Yang satu Ramadhan diletakan dalam nada positif dan yang kedua sebagai yang negatif.

Hadits pertama memandang postitif tentang Ramadhan. (1) Ramadhan sebagai bulan berkah. Berkah memiliki nilai spiritual tinggi. Saking tingginya, Berkah Ramadhan menjadi nomenklatur yang tidak bisa dipisahkan dalam dunia pesantren. Segala sesuatu kebaikan dalam konteks pesantren selalu dikaitkan dengan “berkah” atau “barokah” untuk orang Sunda. Bahkan untuk menerima sesuatu yang negatif pun, konsep “berkah” mampu menetralisir hal negasi menjadi lebih positif.

Kenapa konsep berkah begitu hebat? Berkah dapat didefinisikan sebagai jiyadatul khoer, added value (bertambah kebaikan). Semisal angka gaji memang tidak berubah, tetapi dengan uang itu, kebahgiaan meningkat, kebermaknaan uang makin terasa dan uang itu bisa lebih bermanfaat bagi kehidupan sesama. Konsep berkah lebih abstrak dan sangat spiritual. Itu hanya dapat dirasakan orang yang memercayainya. Nah, Ramadhan adalah bulan yang berkah dimana segala sesuatu bisa bernilai lebih, melebihi nilai yang didapat dari bulan selain Ramadhan.

(2) fadhilah Ramadhan selanjutnya adalah sebagai bulan lipat ganda pahala. Amalan Sunnah diberi pahala fardhu, amalan fardhu dilipatgandakan menjadi 70 kali lipat pahala amalan fardhu di bulan biasa. Dalam beberapa literature khasanah Islam, angka “7” adalah mengacu pada bilangan yang sangat tinggi. Hal ini sama dengan angka “9” pada angka yang kita kenal sekarang. Hingga, dalam banyak literature Islam, angka tujuh banyak sekali diungkapkan. Semisal langit berlapis 7, bumi berlapis 7 dan seterusnya. Artinya nilai kualitatifnya tak terhingga.

Ketika hadits ini disampaikan pada ummat, maka bulan ini sangat dipenuhi dengan amalan-amalan kebaikan terutama amalan Sunnah. Tadarus atau membaca al Qur’an sebagai amal utama di bulan ini sangat populer dan sangat direkomendasikan. Di beberapa pesantren, bulan ini dijadikan ajang program “pasaran” yaitu program kajian penuh selama bulan Ramadhan untuk berbagai jenis kitab kuning. Untuk beberapa kampus ada banyak paket Ramadhan, juga untuk DKM banyak program yang tidak biasa dilaksanakan di bulan non-ramadhan. Semisal kuliah subuh, mabit, tarawih, buka bersama, tajil gratis dan seterusnya.

(3) fadhilah ketiga adalah bulan kesabaran. Tidak bisa dipungkiri bahwa berpuasa memiliki ujian tersendiri. Ujian paling nyata adalah kesabaran, yakni sabar untuk berprilaku hidup tidak seperti biasaya, sabar untuk menahan nafsu, sabar untuk lebih beramal sholeh dan sabar untuk menempa hidup dan mengukur kemampuan mengendalikan diri.

Ada dua kesabaran yang perlu dilakukan dalam bulan puasa: sabar fisik dan sabar psikis (mental). Secara fisik, bulan Ramadhan adalah bulan mendisiplinkan pola makan. Makan pada dini hari saat paling nikmat untuk tidur, kemudian mengosongkan perut untuk mengalami lapar dan dahaga, kemudian berbuka di maghrib dan melakukan shalat tarawih yang sangat melelahkan. Kesabaran mental adalah selama puasa harus disipin dalam mengarungi banyak godaan puasa, baik godaan pada diri sendiri maupun godaan yang lahir dari luar diri. Ini benar-benar menempa hidup untuk belajar sabar sesungguhnya.

(4) fadhilah lainnya adalah Ramadhan sebagai bulan simpati kepada sesama. Merasakan lapar dan dahaga akan memantik rasa kepada perasaan yang peka terhadap apa yang dirasakan oleh orang kurang beruntung. Sehingga bulan puasa adalah bulan “peka” dan bulan “syukur” atas karunia Allah yang diberikannya. Bila bulan yang lalu, karunia Allah kadang dilupakan karena perut dan tenggorokan kita selalu terpenuhi hajatnya, maka di bulan ini, akan terasa bagaimana fakir miskin merasakan apa yang menjadi kepedihan hidup. Ujungnya, bulan ini adalah bulan untuk saling memberi dan saling simpati untuk sesama.

(5) fadhilah Ramadhan kelima adalah bulan penambahan rezeki. Secara matematis, dengan berpuasa berakibat pada aktivitas yang lemah pada bekerja sehingga pendapatan menurun. Tapi itu tidak berlaku secara matematis. Pedagang di bulan Ramadhan lebih ramai. Lihat saja jalanan protokoler yang penuh dengan pedagang musiman, bahkan di saat buka puasa, pusat jajanan menjadi lebih ramai ketimbang hari biasanya. Tidak jarang juga rumah makan menjadi salah satu perusahaan yang paling menjadi destinasi berbuka puasa, dan mereka memiliki keuntungan yang lebih.

Pasar, perusahaan makanan dan fashion mulai merancang untuk mempersiapkan “supply” karena “demand” masyarakat tinggi di bulan ini. Lihat saja agresifitas iklan di bulan Ramadhan, mereka begitu bersemangat untuk memperkenalkan produk untuk dikonsumsi di bulan ini. semua orang, bukan hanya muslim, non muslim pun memiliki peluang yang sama untuk mengeruk keuntungan. Tidak jarang, para pengusaha menginvestasikan modal dalam menghadapi bulan Ramadhan. Rezeki bukan?

(6) fadhilah terakhir adalah sebagai bulan pengampunan dan perlindungan dari api neraka jahanam. Hal ini berlaku bagi mereka yang bersedekah untuk buka puasa. Hadits ini menunjukan begitu murahnya pengampunan dan perlindungan api Jahanam hanya dengan memberi sedekah untuk berbuka. Mereka dibeli dengan hanya korma, air minum atau susu. Hadits ini menunjukan bahwa Allah begitu memberikan kado special berupa “discount” untuk menjadi bahagia di akhirat kelak. Begitu hebatnya bulan Ramadhan, memberi sedikit, menghasilkan kehidupan akhirat yang bahagia dan tak ternilai.

Ramadhan: Awal Kehancuran yang Besar

Hadits kedua yang bernada negatif adalah hadits yang menunjukan bahwa Ramadhan adalah pertanda masuknya kehancuran. Sebelum menjelaskan kandungannya yang dahsyat, perlu kiranya menganalisis haditsnya secara singkat, takut kalau tingkat “kebenaran” haditsnya kurang valid. Hampir semua hadits yang mengandung nilai “prediksi” memiliki tingkat validitas yang dipertanyakan. Ini berbeda dengan hadits yang mengandung nilai norma dan anjuran.

Nuaim bin Hammad adalah salah satu rowi hadits ini. Diberitakan bahwa beliau adalah salah satu rowi yang dipertanyakan kevalidannya. An Nasa’I berkata bahwa beliau adalah rowi yang dhoif (lemah, lihat Ad Dhu’afa wa al Matrukin hal 101). Abu Daud juga berkata bahwa Nuaim bin Hammad meriwayatkan 20 hadits Nabi saw yang tidak mempunyai dasar sanad. Imam Al Azdi mengatakan: “Dia termasuk orang yang memalsukan hadits dalam membela As sunah dan membuat kisah-kisah palsu tentang keburukan An Nu’man (Abu Hanifah) yang semuanya adalah kedustaan” (lihat Mizan Al I’tidal, hal 267).

Tambahan, Imam Adz Dzahabi berkata tentangnya: “Tidak boleh bagi siapapun berhujjah dengannya dan ia telah menyusun kitab al Fitan dan menyebutkan di dalamnya keanehan-keanehan dan kemungkaran-kemungkaran.” (Lihat, As Siyar A’lam An Nubala, hal. 609). Ini menunjukan bahwa tingkat validitas hadits di pertanyakan oleh para ahli hadits. Isinya terdapat kontradiksi dari makna dan pola hadits yang biasa disampaikan Nabi. Simpulnya, dalam konteks ini, tidak apple to apple jika kita menghadapkan hadits fadhilah Ramadhan yang pertama dengan hadits ini yang kedua di lihat dari validitasnya.

Namun demikian, saya harus menganalisis, apakah hadits ini memiliki tingkat prediksi yang tinggi atau tidak di lihat dari dimensi faktual. Pertama hadits ini mengatakan bahwa akan ada suara yang dahsyat dan terjadi gempa yang maha dahsyat jika terjadi pertengahan Ramadhan jatuh pada malam jum’at. Hal ini sangat prediktif dan prediksinya jelas dengan dua petunjuk; pertengahan Ramadhan yaitu tanggal 15 dan malam jum’at. Saya kira, Nabi Muhammad bukanlah predictor yang jika memprediksi tidak sejelas itu. Prediksi tentang kiamat yang banyak dikaji oleh hadits-hadits tentang kiamat banyak dinyatakan ketidak validannya. Artinya, hadits nabi yang prediktif sering memiliki tingkat validitas yang bermasalah. Prediksi Nabi senantiasa tersembunyi dan memiliki makna yang tidak bisa ditujukan pada satu makna (atau waktu). Sehingga artinya kadang sulit difaktualkan.

Kedua hadits ini menyatakan bahwa ketika tanggal 15 ramadhan itu jatuh pada malam jum’at maka pada bulan syawal akan terjadi huru-hara, dzulqodah akan terjadi perselisihan antar kaum (bangsa atau negara), Dzulhijjah akan terjadi pertumpahan darah dan di bulan Muharam akan banyak yang terbunuh. Hadits ini sangat kronologis, sehingga seolah Nabi telah mengetahui yang ghaib, padahal Nabi senantiasa bersabda jika sesuatu yang ghaib adalah urusan Allah. Beliau selalu menunggu wahyu jika itu adalah sesuatu yang tidak diketahuinya.

Namun demikian, perlu juga kita pikirkan kemungkinan-keungkian itu terjadi. Ada banyak hadits yang memiliki tingkat validitas dipertanyakan tapi memang benar-benar terjadi. Seperti halnya tentang tanda akhir jaman yang menyatakan bahwa di mulai oleh ketidak stabilan dan perang di Syam (Suriah sekarang, Arabic spring), dan sekarang sudah terbukti. Hadits tentang bahwa Dajjal akan datang di dataran tinggi di wilayah Madinah, sekarang pun telah ada banyak tandanya termasuk menyusutnya sungai Eufrat dan tanaman ghorqod di Palestina. Hadits tentang akan menghijaunya jazirah Arab yang padang pasir sepertinya juga akan terbukti karena mulai saat ini Saudi banyak mengalami hujan salju. Ada banyak hal yang dalam tingkat kevalidan hadits dipertanyakan tapi terbukti saat ini.

Info semalam dari teman yang ada di Madinah, katanya terjadi angin besar dan banjir di Madinah. Untuk meyakinkan saya, beliau mengirimkan video, entah video itu benar atau video dengan waktu yang lain. Jika dalam hadits itu di sebutkan “pertengahan” Ramadhan, maka itu bukan hanya tanggal 15, itu bisa tanggal 13, 14, 15, 16 atau 17. Tapi yang pasti adalah 15 jika 30 hari puasa dan 14.5 jika genap bulannya 29 hari. Jadi apakah itu terjadi pada tahun ini? tahun ini malam jum’at jatuh pada tanggal 16, bukan tanggal 14, atau 15. Jadi kemungkinan besar tahun ini bukanlah Ramadhan yang dimaksud dalam hadits itu. Entahlah.

Ramadhan dalam Konteks Dua Hadits Kontradiktif

Saya kira, hal yang normal jika dalam satu kajian akan ada hal yang positif dan sekligus hal yang negatif. Hal ini pun bisa berlaku bagi kajian Ramadhan yang dikaji melalui hadits. Terlepas dari masalah validitas hadits kedua, saya mencoba menganalisis keduanya. Analisisnya dicoba secara berimbang dan logis atas kontradiksi keduanya.

(1) Ramadhan adalah objek dimana keduanya memiliki plus dan minus. Sesuatu akan dianggap lengkap bila sebuah kajian diungkapkan sisi plus sekaligus sisi minus. (2) Setiap hadits (bahkan Al Qur’an) mengandung “nadhir” dan “mubasir”. Walaupun narasinya jarang yang sejelas pada hadits kedua, kandungan khabar baik-buruk, neraka-surga, perintah-peringatan adalah sesuatu yang biasa. Ramadhan harus diletakan sebagai bulan yang memiliki fadhilah yang tinggi sekaligus memiliki ancaman yang dahsyat juga. (3) diungkapkannya sisi positif dan sisi negatif dalam agama adalah untuk menunjukan bahwa agama adalah instrument untuk berhati-hati dan selalu melakukan amal shaleh. Setiap Qur’an dan hadits selalu mengatakan “semoga” yang merupakan narasi agar manusia selalu berbuat baik. Amal sholeh yang kita lakukan “tidak selalu” menjadi jaminan bagi surga, hingga berbuat baik sepanjang hayat adalah tujuannya.

Saya berpikir positif tentang kedua hadits ini. Keduanya memiliki informasi yang harus menjadi sebuah keyakinan, walaupun tingkat keyakinan disesuaikan dengan tingkat validitas haditsnya. Selalu berhati-hati dalam menjalankan ibadah dalam bulan Ramadhan dan selalu siap dengan segala keadaan hidup serta selalu melakukan kebaikan karena berbagai alasan fadhilah Ramadhan adalah cara yang paling baik dalam memaknai kedua hadits yang kontradiktif ini. Memang kelihatan kontradiktif, tapi pada dasarnya kedua hadits ini adalah saling melengkapi dalam dimensi yang lebih luas, yaitu dimensi segala sesuatu pasti memiliki nilai baik dan buruk. Wallahu a’lam.{}

Sahur ke 12
Bumisyafikri, 28/5/18

 

Tambahan Info dari Kawan:

Peristiwa ini prnh trjadi pd tahun 2012 lalu n diprediksi melalui hadis bermasalah (tuk tdk mnyebut palsu) trsebut n tidak ada kejadian hingga kini …
Namun boleh jd apa yg diprediksi hadis brmasalah ini akan trjadi jika klompok teroris melegalkn hadis ini tuk melakukan aksi teror ledakan bomx di prtengahan ramadhan … n kekacauan dibulan syawal ditimbulkn oleh kekacauan pilkada yg ditimbulkn oleh org kecurangan2 yg slama ini tdk sportif melewati n menerima hasil2 pilkada sperti kemarin.
Sy malah penasaran n tertarik dgn motif org2 yg mnyebarkn hadis brmasalah ini. Jika nntix ad kejadian bom/kekacauan bln ramadhan n sya’ban. Apakh ad hubungan n kontibusix jika trjadi kerusuhan tsb
_____________________
Penjelasn ttg hadis brmsalh tsb.

Tentang Hadist tersebut

Hadist yang disebut di atas ternyata adalah hadist palsu (maudhu), bukan hadist atau bahkan hadist shahih. seperti keterangan hadist palsu tersebut yang saya kutip dari situs Islam www.muslim.or.id, berikut penjelasannya :

Berikut teks (lafazh) hadits tersebut dengan sanadnya, serta studi kritis para ulama terhadapnya.

قَالَ نُعَيْمٌ بْنُ حَمَّادٍ : حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ قَالَ : حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “إذا كانَتْ صَيْحَةٌ في رمضان فإنه تكون مَعْمَعَةٌ في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتُسْفَكُ الدِّماءُ في ذي الحجة والمحرم.. قال: قلنا: وما الصيحة يا سول الله؟ قال: هذه في النصف من رمضان ليلة الجمعة فتكون هدة توقظ النائم وتقعد القائم وتخرج العواتق من خدورهن في ليلة جمعة في سنة كثيرة الزلازل ، فإذا صَلَّيْتُمْ الفَجْرَ من يوم الجمعة فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم، وسدوا كواكـم، ودَثِّرُوْا أَنْفُسَكُمْ، وَسُـدُّوْا آذَانَكُمْ إذا أَحْسَسْتُمْ بالصيحة فَخَرُّوْا للهِ سجدًا، وَقُوْلُوْا سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ ، ربنا القدوس فَمَنْ يَفْعَلُ ذَلك نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ)

Nu’aim bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku, pent) di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram…”. Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, kerana barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa”.

(Hadits ini diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam kitab Al-Fitan I/228, No.638, dan Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, No.39627).

Derajat Hadits

Hadits ini derajatnya palsu (maudhu’), karena di dalam sanadnya terdapat beberapa perawi hadits yang pendustadan bermasalah sebagaimana diperbincangkan oleh para ulama hadits. Para perawi tersebut ialah sebagaimana berikut ini

1. Nu’aim bin Hammad

Dia seorang perawi yang dha’if (lemah),

An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah)” (Lihat Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin, karya An-Nasa’i I/101 no.589)Abu Daud berkata: “Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dua puluh hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang tidak mempunyai dasar sanad (sumber asli, pent).”Imam Al-Azdi mengatakan: “Dia termasuk orang yang memalsukanhadits dalam membela As-Sunnah, dan membuat kisah-kisah palsu tentang keburukan An-Nu’man (maksudnya, Abu Hanifah, pent), yang semuanya itu adalah kedustaan”  (Lihat Mizan Al-I’tidal karya imam Adz-Dzahabi IV/267).Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah dengannya, dan ia telah menyusun kitab Al-Fitan, dan menyebutkan di dalamnya keanehan-keanehan dan kemungkaran-kemungkaran” (Lihat As-Siyar A’lam An-Nubala X/609).

2. Ibnu Lahi’ah (Abdullah bin Lahi’ah)

Dia seorang perawi yang dha’if (lemah), karena mengalami kekacauan dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnyaterbakar.

An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah)” (Lihat Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin, karya An-Nasa’i I/64 no.346)Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Dia mengalami kekacauan di dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar” (Lihat Taqrib At-Tahdzib I/319 no.3563).

3. Abdul Wahhab bin Husain

Dia seorang perawi yang majhul (tidak dikenal).

Al-Hakim berkata tentangnya: “Dia seorang perawi yang majhul (tidak jelas jati dirinya dan kredibilitasnya)” (Lihat Al-Mustadrak No. 8590)Imam Adz-Dzahabi berkata di dalam At-Talkhish: “Dia mempunyai riwayat hadits palsu.” (Lihat Lisan Al-Mizan, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani II/139).

4. Muhammad bin Tsabit Al-Bunani

Dia seorang perawi yang dha’if (lemah dalam periwayatan hadits) sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Hibban dan An-Nasa’i.

An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah)”Yahya bin Ma’in berkata: “Dia seorang perawi yang tidak ada apa-apanya”(Lihat Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal, karya Ibnu ‘Adi VI/136 no.1638).Ibnu Hibban berkata: “Tidak boleh berhujjah dengannya, dan tidak boleh pula meriwayatkan darinya” (Lihat Al-Majruhin, karya Ibnu Hibban II/252 no.928).Imam Al-Azdi berkata: “Dia seorang yang gugur riwayatnya” (Lihat Tahdzib At-Tahdzib, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani IX/72 no.104)

5. Al-Harits bin Abdullah Al-A’war Al-Hamdani.

Dia seorang perawi pendusta, sebagaimana dinyatakan oleh imam Asy-Sya’bi, Abu Hatim dan Ibnu Al-Madini.

An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia bukan seorang perawi yang kuat (hafalannya, pent)” (Lihat Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal, karya Ibnu ‘Adi II/186 no.370).Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata tentangnya: “Imam Asy-Sya’bi telah mendustakan pendapat akalnya, dan dia juga dituduh menganut paham/madzhab Rafidhah (syi’ah), dan di dalam haditsnya terdapat suatu kelemahan” (Lihat Taqrib At-Tahdzib I/146 no.1029).Ali bin Al-Madini berkata: “Dia seorang pendusta”Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah.” (Siyar A’lam An-Nubala’, karya imam Adz-Dzahabi IV/152 no.54)

Perkataan Para Ulama Tentang Hadits Ini

Al-Uqaily rahimahullah berkata: “Hadits ini tidak memiliki dasar dari hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya), atau dari jalan yang tsabit (kuat dan benar adanya).” (Lihat Adh-Dhu’afa Al-Kabir III/52).

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Hadits ini dipalsukan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” (Lihat Al-Maudhu’aat III/191).

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Hadits ini palsu (maudhu’). Dikeluarkan oleh Nu’aim bin Hammad dalam kitab Al-Fitan.” Dan beliau menyebutkan beberapa riwayat dalam masalah ini dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhuma. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah no.6178, 6179).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Hadits ini tidak mempunyai dasar yang benar, bahkan ini adalah hadits yang batil dan dusta” (Lihat Majmu’ Fatawa Bin Baz XXVI/339-341).

(Copaz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *