Beranda / Uncategorized / Kritik Menusuk dari Seseorang Tak Ber-sholat

Kritik Menusuk dari Seseorang Tak Ber-sholat

 

Oleh: Zaki Mubarak

 

INI adalah cerita saya ketika bertemu seorang kakek aneh yang menyebut dirinya “Abah” siang kemarin (9 Nopember 2017). Ketika saya tanya nama sesungguhnya, maka ia tak mau menyebutkan namanya. Ia bilang “saya adalah tentara langit, semua orang Dadaha tahu nama saya.” Saat itu, ketika saya beristirahat dari berolahraga sepeda untuk sekedar menggerakan badan setelah bertemu dengan orang kementerian Agama Jawa Barat di Ciamis, saya mendekati Abah dan tak sengaja kita terlibat dengan obrolan yang menurut saya berkualitas. Isinya penuh dengan kritik-kritik sosial kepada para agamawan.

Tampilan Abah tidaklah mengesankan memiliki pengetahuan agama dan cendekiawan yang luas wawasannya. Ia hanya menggunakan baju lusuh dengan mengayuh becak dan saat itu ia sedang memancing di sebuah kolam besar milik publik di kawasan olahraga Dadaha Tasikmalaya. Di sinilah saya mendapatkan sebuah pelajaran penting akan sebuah kehidupan dan keagamaan. Dalam logika saya yang menggunakan instrumen agama sebagai pendekatan diri kepada Sang Kholik, ternyata ada logika agama yang berbeda dari seorang Abah yang usianya hampir menyentuh tujuh puluh tahun.

Setelah obrolan kami yang panjang, maka saya simpulkan obrolan itu adalah sebuah kritik tajam kepada para cendekia Islam bernama Ustadz, Ajeungan, Kyai dan para agamawan Islam dengan apapun namanya. Dalam tulisan ini saya sengaja menggunakan pendekatan postmodernisme dimana seorang marjinal (yang diwakili Abah) di tengah tradisi modernisme yang kuantitatif didengarkan suaranya dan menjadi sebuah kritik untuk kalangan modernisme yang mapan. Mungkin kritik ini tidak berkelas dan tidak apple to apple, tapi bagi postmodernisme ini adalah penting dan sangat menyentuh.

Abah: Sebuah Biografi Singkat dan Latar Pemikirannya

Abah yang menjadi objek dalam kajian saya ini adalah tukang becak. Dalam konteks status sosial kita saat ini, ia merupakan kalangan bawah dan disebut miskin. Dalam perjalanan kehidupannya, ia memiliki sejumlah pengalaman penting yang dengannya berdampak kepada pola pemikiran-pemikiran kritis terhadap ulama. Dengan berdamai dengan pekerjaan sebagai tukang becak yang ditinggalkan istri dan anak-anaknya, Ia terus hidup dengan sejumlah kritik atas permasalahan keagamaan di lingkungannya.

Diawali dari perjalanan hidup masa kecil yang tidak mendapatkan pendidikan formal tetapi memiliki pendidikan pengajian yang cukup di tempat tinggalnya di daerah pabrik Es, Argasari, Abah kecil tumbuh dewasa dengan segala dinamika spiritualnya. Ia hapal do’a-do’a dan mahir untuk sholat, tapi sejak dewasa ia tak pernah melakukan sholat. Hal ini diakibatkan oleh pengalaman-pengalaman spiritual yang membuatnya tidak memperlakukan sholat sebagai instrumen agama yang penting.

Sejak Abah muda tumbuh, ia menjadi pedagang roti yang berkeliling di Jawa Barat. Karena banyak temannya yang “berguru” spiritual kepada mahluk ghaib di gunung atau leuweung, maka ia pun mengikuti tradisi kawan-kawannya. Di mulai berguru di Gunung Galunggung, Sancang, Gungung Lawu, dan banyak lagi gunung yang ia kelilingi di pulau jawa bagian tengah dan timur. Berhari-hari ia habiskan untuk sekedar “ngalap berkah” dan meminta “kesaktian” kepada para penunggu gunung itu. Agama yang ia anut mirip Kejawen atau Sunda wiwitan yang masih percaya Allah tetapi dengan sudut pandang lain dari Islam mainstream.

Ia mengaku bahwa hatinya masih memiliki iman kepada Allah sebagaimana ia diajari oleh ustadz di kampungnya, namun ia cukupkan iman itu dalam hati dengan menggunakan syariat ála ia yang berguru kepada mahluk ghaib. Ia tinggalkan sholat karena merasa bahwa ia masih tidak suci. Masih banyak syetan yang mencampuri kehidupannya sehingga untuk melakukan sholat akan ditangguhkan sampai ia taubat dari syetan-syetan yang membantu kehidupannya. Yang penting bagi ia adalah “eling” kepada Allah dan itu cukup.

Saat gunung galunggung meletus, ia sedang berguru di galunggung dan saat itu pula ia memberanikan diri untuk mendapatkan sebuah jimat yang terletak di puncak galunggung. Jimat itu adalah Al Qur’an dalam bentuk kecil berkotak keemasan. Dan sampai saat ini, “jimat” itu masih ada dan disimpan sebagai jimat kehidupan yang iya yakini. Ketika berguru ke gunung di Jawa pun ia mendapatkan banyak “kesaktian” diantaranya dapat menyembuhkan yang sakit dengan hanya diludahi atau dipegang apa yang dirasakan sakit oleh pasien. Para mahluk ghaib pun suka menunjukan kepadanya ramuan-ramuan herbal untuk penyakit fisik. Entahlah. Saya belum mengklarifikasi secara trianggulasi, tapi saya cukup percaya atas klaimnya.

Kritik Menusuk Terhadap Ulama

Bisa jadi kritik yang ia lontarkan akibat dari pendidikan yang tidak cukup tentang agama dan pendidikan formal yang ia lalui, walaupun Abah dididik oleh terjalnya kehidupan. Namun, hal utama yang menjadi pusat kritik adalah kemungkinan karena adanya kebencian ia terhadap ulama (ajeungan) atas perlakuan yang ia terima. Dua tahun yang lalu seorang Ajeungan menikahkan istrinya dengan orang lain. Ia mengalami stress karena istri yang memberinya anak delapan dinikahkan agama setelah ia tinggalkan selama dua tahun.

Begitupun anak perempuannya yang nikah tanpa sepengetahuan dirinya. Ajeungan inilah yang menikahkan karena Abah tidak ada di rumah dan entah dimana ia tinggal. Setelah saya telusuri melalui pertanyaan-pertanyaan tentang pribadi Ajeungan itu, maka ternyata Ajeungan yang dimaksud adalah rekan saya, baik di organisasi agama maupun dosen. Kemungkinan besar rasa dendam terhadap ajeungan ini tinggi sehingga menimbulkan rasa tidak suka dan digeneralisasi keinstitusian ajeungan secara keseluruhan.

Setelah sekitar setengah jam berbicara mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kelembagaan Ajeungan, ia menyimpulkan bahwa mayoritas ajeungan tidak baik. Paling tidak saya menemukan tiga kritik, yang saya akui kritik ini benar dan perlu diperhatikan serius.

Pertama, Ajeungan pergi sholat ke mesjid dan menjadi imam. Pertanyaanya apakah benar hatinya bersih? Apakah benar sholatnya mendekatkan diri pada Allah yang Maha Kuasa, atau hanya ritual semata?

Dalam konteks ini, kritik ini sangat filosofis dan tidak bisa didekati dengan pendekatan fikih. Seorang Ajeungan yang saya kenal (ajeungan, ustad, guru ngaji), banyak sekali tantangan dan rintangan dalam sholatnya. Semakin derajat keimanan dan ketakwaan seseorang tinggi, maka semakin hebat pula godaan syetan kepadanya. Dan saya akui bahwa kebanyakan ajeungan tidak melakukan sholat dengan khusu’ dan lebih banyak menggunakan sholat sebagai instrumen ritual yang kadang hanya “membebaskan” dari fardhu saja.

Kedalaman tasawuf seorang Ajeungan akan menentukan kualitas sholatnya. Sedangkan, tidak semua ajeungan adalah alumni dan pengikut tasawuf. Mungkin mereka belajar tentang tasawuf yang bermuara kepada tiga ajaran pokok: wara’, zuhud dan makrifatulloh, namun untuk melakukan ketiganya adalah hal yang sulit. Butuh mujahadah dan istikomah yang luar biasa dan tidak semua ajeungan lulus dari itu. Dengan segala kegiatan yang harus dilakukan dalam pengabdiannya kepada ummat, kedalaman tasawuf dalam ibadah ritual sedikit terabaikan.

Namun, itulah fakta persepsi publik (terutama kaum marjinal) terhadapa ajeungan. Ia menjadi menara gading yang semua orang melihatnya dan dipastikan menjadi pusat kritik publik yang paling empuk. Ketika berbuat baik tidak terlalu dipermasalahkan karena memang seharusnya, tetapi ketika berbuat buruk, maka akan dikritik dan dipersepsikan tidak baik. Itulah publik figur bernama Ajeungan.

Kedua, Ajeungan mengaji untuk mendapatkan uang. Apakah kalau tidak dibayar, Ia mau mengaji? Siapa yang diajarkan mengaji? Kenapa mereka lebih condong mengajar ngaji orang berduit, sedang yang miskin dibiarkan? Dalam dunia modernisme, profesionalisme dihargai dengan sejumlah rupiah. Publik menilai bahwa gelar Ajeungan adalah pengabdian, sehingga dimensi finansial jangan diperhatikan. Tidak ada pengabdian yang bermuara kepada pengahasilan rupiah. Pengabdian adalah tentang ketulusan dan bukan tentang uang. Bagi Ajeungan zaman now, ajeungan juga adalah sebagai profesi. Ia tidak berbeda dengan guru, dokter dan profesi lain. Jadi tidak salah bila ada dimensi keuangan di dalamnya. Toh hidup butuh uang.

Integrasi antara profesi dan pengabdian dalam institusi Ajeungan adalah dilihat jumlah uangnya. Ketika ada dimensi finansial yang melekat pada pekerjaannya, maka itu profesional. Namun ketika melihat jumlah nominal uangnya maka ini adalah pengabdian. Jumlah uang yang dibayarkan tidak seimbang dengan jumlah tenaga dan ilmu yang diberikan. Maka disinilah perpaduan profesional dan pengabdian dalam institusi Ajeungan.

Namun, sekali lagi publik (terutama kaum marjinal) menilai bahwa seorang Ajeungan tidak boleh menjadikan pengajian dan aktivitas keagamaan menjadi ladang mencari keuntungan finansial. Kemungkinan besar, mereka iri atas kemakmuran ajeungan yang tidak bekerja seberat mereka (menggunakan otot) tetapi dapat menikmati hidup dengan cukup. Namun, mereka tidak juga membandingkan dirinya dengan profesi yang lain semacam PNS atau pegawai bank yang kecukupan finansialnya lebih baik dari seorang Ajeungan.

Jadi, mereka nyinyir bila ajeungan mengandalkan pengajian untuk mendapatkan uang. Namun bagi saya, itu adalah kritik yang tajam dan bisa dibenarkan bila melihat kecenderungan saat ini. ada banyak muballigh yang memasang tarif untuk sekali pengajian. Tarif ini tergantung dari popularitas dan “elektabilitas” Ajeungan yang diundang. Harga dari satu jam pengajian bisa bernilai satu bulan mengayuh becak tanpa henti. Tidak sedikit juga Ajeungan yang tidak mau diundang lagi karena alasan isi amplop yang dibawah standar. Walaupun itu tidak semua tetapi ini adalah kritik yang sangat serius di dunia per-Ajeungan-an. Kritik dari kaum marjinal ini peru diperhatikan agar posisi Ajeungan yang ada dipersimpangan modernisme dan postmodernisme atau persimpangan profesionalisme dan pengabdian tidak di-nyinyir-i oleh publik terutama kaum marjinal.

Ketiga, ajeungan pergi ke Mekah, untuk apa? dalam pandangan Abah, kebanyakan Ajeungan yang datang ke mekah bukan untuk beribadah dan bertemu dengan baitulloh tapi lebih kepada meningkatkan status sosial. Menurut dia, ada banyak orang pergi ke Mekah dan disana berdo’a untuk kemakmuran hidup, sehingga sepulang dari Mekah mereka menerima kemudahan dari Allah atas kehidupan yang melimpah, pulang dari Mekah rumahnya bertambah, mobilnya baru dan sawahnya meluas.

Kritik inipun saya amini. Betapa tidak, banyak orang yang pergi ke mekah tidak berlandaskan cinta kepada Allah. Bergelar “Haji” yang memiliki status sosial tinggi di masyarakat berdampak orang berbondong-bondong ke Mekah. Alasan normatif memang ingin melaksanakan rukun Islam yang kelima, namun hati orang siapa yang tahu? Beberapa kasus yang saya temui adalah di Mekah ketika musim hajian banyak yang menggunakan Hape sebagai alat ibadah. Di Mesjidil Haram, kebanyakan dari mereka menggunakan HP sebagai alat selfie dan mengirimkannya di media sosial. Sepengetahuan saya yang ikut haji di tahun 2014, para jemaah selalu menggunakan HP untuk berfoto ria. Tidak semua, tapi paling tidak pemandangan foto-foto adalah hal yang sangat banyak dan itu mudah dilihat dari setiap sudut Masjidil Haram.

Jadi benar adanya, bahwa kritik Abah atas jemaah haji yang menggunakan instrumen haji sebagai peningkatan status sosial dan juga ibadah yang tidak murni karena Allah terjadi adanya. Saya akui, kritik ini faktual dan tidak mengada-ada walaupun dalam pandangan saya yang sedikit mengerti tentang dampak dari pendidikan terhadap pemikiran seseorang, Abah ini terlalu dangkal berpikirnya. Namun, karena pendekatan yang saya gunakan adalah postmodernisme, maka saya pun harus mengakuinya.

Belajar dari Kaum Marjinal

Banyak diantara kita yang tidak memperhatikan kaum marjinal. Mereka dianggap sampah yang tidak berguna. Mereka bagaikan penghalang untuk mempercantik kota, mereka juga duri dalam meningkatkan kemakmuran warga negara. Tapi, bagi saya yang belajar dari Abah, ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Walaupun ia tak pernah sholat dan hobinya memancing kesana kemari, bekerja hanya untuk makan sendiri dan berusaha untuk mengumpulkan dana dalam membeli nomor togel, saya menemukan pelajaran penting.

Pertama, Abah tidak mau dibilang miskin. Ia bilang saya kaya, saya masih bisa melihat, mendengar, menolong orang lain dan saya bahagia. Dengan kail pancing yang dimakan ikan, ada kebahagiaan yang saya dapatkan. Mungkin mereka yang kaya mendapatkan kebahagiaan dengan cara menghamburkan uang, tapi tenang dan gembira nya hati kita adalah sama. Walau saya tidak punya uang, tapi saya kaya. Kaya dalam dimensi yang luas. Kaya yang ukurannya kehidupan bukan kemakmuran.

Kedua, Abah menolong orang miskin. Ia menuturkan, saya berguru ke sana kemari untuk mencari “kesaktian” adalah untuk menolong orang yang miskin dan marjinal. Ada lebih dari sepuluh orang yang saya tolong karena melahirkan. Ada ratusan orang yang saya sembuhkan penyakitnya tanpa memberikan sepeserpun uang. mereka miskin, tapi mereka juga butuh kesehatan. Obat yang diberikan petunjuknya oleh mahluk ghaib yang ia punya adalah digunakan untuk orang-orang miskin.

Ketiga, Abah tidak ingin mengeluh. Ia bercerita bahwa banyak diantara orang marjinal sepertinya mengeluh atas kondisi yang dideritanya. Ada yang menggantung diri, ada yang menjadi gila, ada juga yang “main” perempuan, ada juga yang sampai kriminal. Namun, saya menikmati kehidupan dengan sederhana. Memancing ikan adalah satu hobi yang menguatkan saya. Saya ingin membahagiakan sisa usia saya menjadi lebih rileks dan terus mengingat kepada Allah (padahal ia tak sholat lho).

Keempat, Abah berani mengkritik Ajeungan yang dianggap mapan. Ia mengklaim bahwa setiap ajeungan yang keluar dari pakem Islam “sesungguhnya” akan saya kritik. Saya berani mengkritik mereka yang bernafsu duniawinya lebih besar dan meninggalkan akhirat. Saya berani menantang ajeungan yang bernafsu politik, saya juga berani menantang Ajeungan yang sholat fisiknya tapi tak mensholatkan hatinya. Saya berani menantang mereka karena saya tahu dasar dan hakikat agama itu untuk apa.

Empat hal itu pelajaran penting bagi saya. Walaupun ada pertentangan keilmuan saya bersama Abah dalam obrolan itu, namun saya tidak mempermasalahkannya. Kritik-kritik yang menajam itu adalah untuk saya, untuk para agamawan dan untuk Islam. Terimakasih Abah, semoga engkau secepatnya kembali Sholat dan Syetan yang ada di “dunia”mu secepatnya minggat untuk berhijrah dalam menghadapi sisa usia yang tinggal sedikit. Amien.

Bumisyafikri, 10/11/17

buku zakimu

 

2 Komentar

  1. Muhasabah…
    Asstagfirullohal Àdziim…
    Semoga kita bisa mempertahankan apa yg terkandung dalam kalimat Thoyibah…
    Aamin..

  2. Jajang Abdulhamid

    Setelah membaca jelas ini fenomena yang sudah tidak tabu lagi, sudah terjadi secara faktual Islam ktp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *