Beranda / Uncategorized / Masalah Dakwah Di Era Milenial

Masalah Dakwah Di Era Milenial

Oleh: Zaki Mubarak

 

Tak bisa dipungkiri, setelah revolusi industri dan revolusi Francis, Teknologi semakin hari semakin canggih. Teknologi konvensional yang sudah beberapa dekade digunakan sebagai cara memudahkan hidup telah berganti dengan teknologi yang lebih mutakhir. Berbagai inovasi teknologi telah ditemukan dan langsung diaplikasikan dalam praktik kehidupan manusia. Generasi Z atau dikenal dengan generasi kids zaman Now dengan meyakinkan telah melupakan teknologi generasi zaman X dan Z yang disebut orang tua zaman old.

Generasi X atau biasa disebut dengan generasi Baby Boomers telah menua dengan diikuti menuanya teknologi yang digunakan. Generasi X yang ada dipersimpangan generasi konvensional (90an) dengna generasi milenial (setelah tahun 2000) memiliki dua kecenderungan. Ia mengikuti tradisi baru generasi Z atau ia menolak karena menyadari begitu banyaknya hal negatif yang hadir tersematkan dalam teknologinya. Apapun pilihannya, yang jelas generasi X telah mengadopsi hampir 80% prilaku generasi Z. Ini men unjukan bahwa lebih dari 70% manusia produktif di dunia telah menggunakan teknologi terkini.

Lalu, bagaimana dengan dakwah, mission, tabligh, yang harus dilakukan oleh para kaum agamawan? Dahulu semasa generasi X bangga dengan tivi-nya, dan menganggap radio telah usang, maka hari ini generasi Z menunjukan bahwa tivi tidak adaptif dan egois. Ia hanya mempertontonkan kepentingan medianya. Youtube, Media sosial, aplikasi pesan broadcasting, adalah salah satu kontestan tivi. Mereka dengan mandiri bisa memproduksi informasi dakwah sekaligus mereka bisa mengatur informasi yang dibutuhkan secara digital. Media inilah yang mereka gunakan karena sangat self oriented, self management dan simpel. Jadi, sepertinya kita akan segera membuat kuburan model dakwah konvensional yang dahulu dibanggakan.

Tulisan ini akan mencoba mengupas masalah dakwah islamiyah (atau agama lain) yang harus adaptif terhadap dunia digital di era milenial. Ada beberapa konsep ilmu komunikasi universal yang bisa diterapkan dalam dunia dakwah, baik dahulu maupun sekarang. Beberapa masalah dakwah di dunia digital akan dikemukan sekaligus meneropong solusi yang bisa diandalkan. Bila Anda tidak setuju, mari kita kaji bersama secara komprehensif.

Masalah Dunia Dakwah Milenial

Milenial adalah kosakata dari derivasi millenium yang berarti duaribu. Millenial sendiri adalah kata kerja yang melekat kata benda semisal “generasi millenial” yang berarti sebagai generasi yang lahir di tahun 2000an. Ketika saya kecil sekitar tahun 80an, ada sebuah ajaran orang tua yang mengatakan bahwa pada tahun 2000 itu dunia akan terbalik. Norma yang diajarkan dan diwariskan oleh orang tua dan dipegang erat sebagai sebuah keyakinan akan hancur lebur pada era itu. Perzinahan dimana-mana, banyak anak lahir tanpa pernikahan syah, kaum sodom akan berulang, dan kekacauan akan terjadi dimana-mana. Dahulu saya sempat tidak percaya, namun saya berusaha memaksakan diri untuk percaya. Namun, hari ini kita bisa merasakan betapa benarnya ungkapan “ajaran” orang tua dulu.

Seiring dengan “dunia terbalik” yang sudah diingatkan oleh orang terdahulu untuk generasi milenial, ada juga kemajuan yang tak terkendalikan dalam dunia digital di era ini. dikabarkan, dunia akan menjadi sebuah desa (global village) dimana prilaku penghuni bumi akan seperti penghuni desa. Koneksi satu sama lain akan menghancurkan ruang dan waktu. Hari ini, saya bisa menyaksikan bagaimana ruang dan waktu ditiadakan oleh sebuah jaringan internet dan segala aplikasi yang mendukungnya.

Dunia digital berbasis koneksi global inilah yang menjadi kemajuan sekaligus menentang kemapanan teknologi konvensional masa lalu. Dahulu dakwah bisa dengan menggunakan media cetak semacam koran, buletin, majalah dan lainnya. Sekarang hal itu mulai ditinggalkan. Ongkos yang mahal, distribusi yang terbatas, dan kompleksitas produksi-distribusi-konsumsi yang nyata telah membuat orang berpindah dari teknologi konvensional ke dunia digital. Bila dulu dakwah dilakukan dengan media elektronik semacam tivi dan radio, maka hari ini pun mulai ditinggalkan (terutama di perkotaan).

Media elektronik ini bergantung kepada tim editorial yang bisa jadi ada like dislike pemirsanya. Maka di dunia digital itu berubah drastis. Semua orang harus mampu memproduksi kajiannya, juga semua orang harus bisa memilih acara yang ingin dilihatnya. Maka muncullah Youtube, misalnya sebaga data-base penyedia layanan penyimpan video-video yang bisa dilihat dengan jaringan daring (online) kapanpun dan dimanapun. Begitu juga semua orang bisa membuat chanel sendiri dalam memproduksi videonya sehingga tidak membutuhkan dana yang besar. Dahulu untuk membangun sebuah studio harus memiliki pealatan yang mahal, saat ini cukup bermodalkan kamera android satu jutaan dan satu set komputer dengan koneksi internet, maka studio itu sudah bisa dijalankan.

Keuntungan membuat studio untuk channel Youtube pun bisa melebihi keuntungan studio konvensional. Kalau dahulu terbatas pada waktu dan ruang publik yang diatur sedemikian rupa oleh pemerintah, sekarang orang memiliki jaringan dan channel yang tidak terbatas. Hal ini pun berlaku bagi pengelola jenis informasi yang menggunakan web. Para blogger bisa memproduksi macam-macam informasi dengan bebas dan murah sehingga bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak daripada koran dan sejenisnya. Jadi dunia digital sangat menguntungkan dan tidak dibatasi oleh aturan-aturan ketat semacam peraturan pemerintah yang dahulu membelenggu. Keuntungan dunia digital akan melebihi keuntungan konvessional dari sudut ekonomi, pun demikian dari sudut dakwah.

Lalu bangaimana dengan dakwah di era digital semacam itu? Bila kita setuju, dakwah harus dilakukan dengan segala macam cara. Konvensional ditempuh dan digital pun demikian. Kanalisasi model dakwah diperlukan agar semua unsur masuk “jebakan” dakwah. Namun demikian, dakwah ia digital sudah menunjukan beberapa masalah.

(1) Masalah validitas ilmu. Dakwah dengan nilai-nilai sakral dan ilahiah akan pudar kesakralannya dengan desakralisasi dunia digital. Semakin orang bebas memproduksi informasi dakwah maka akan semakin kecil juga nilai kesakralannya. Hal ini berbahaya karena akan menimbulkan banyak masalah. Masalah yang paling krusial adalah menimbulkan ketidak percayaan penganut agama atas apa-apa yang didapatkan dalam dunia digital. Tidak semua informasi dunia digital memiliki pakem yang sama. Ada banyak sampah agama yang dipaksakan masuk ke relung pembaca atau penontonnya.

(2) Masalah media pendidikan. Dengan dunia digital memang orang akan lebih mudah dan sederhana dalam memahami ilmu yang akan didakwahkan. Namun hal ini akan membuat beberapa masalah relasi pendidikan dengan lembaganya. Bila lembaga pendidikan ini bergeser kepada dunia digital maka akan lahir kyia tanpa pesantren, santri tanpa kitab kuning, ustad tanpa mesjid, ulama tanpa majlis. Hal ini berbahaya karena selain terjadi desakralisasi ajaran, itu juga akan menurunkan citra agama itu sendiri.

Hari ini kita bisa melihat para penggiat media dengan tidak malu mengatakan dirinya “ustadz”. Jugha, begitu derasnya kajian keislaman yang diframe derivasi dari ajaran-ajaran agama dengan tampilan yang sangat menarik menjadi bagian tak terpisahkan dari ajaran. Qur’an, Hadits dan berbagai ilmu keagamaan diproduksi secara massal dan diviralkan dengan berbagai gaya. Hal ini menunjukan lembaga pendidikan konvensional yang melahirkan para “ustadz” memiliki saingan ketat dengan lembaga pendidikan berbasis online.

(3) Masalah disorientasi agama. Ketika informasi agama dengan sangat bebas diproduksi oleh setiap orang tanpa memperhatikan latar belakang dan motifnya, maka pembelajar agama di dunia digital akan mengalami disorientasi. Pertama disorientasi ilmu dan amal. Agama bukan hanya sekedar ilmu tapi amal, namun dunia digital akan menghentikan ilmu agama sebagai ilmu tanpa amal. Mereka sebatas akan tahu tapi mereka tidak memiliki lingkungan untuk mengamalkan. Mereka memviralkan tahajud tapi tidak melakukan tahajud. Disorientasi kedua adalah disorientasi sakralitas agama sebagai sebuah ajaran menjadi sebuah viral semata. Memviralkan berita agama seolah menjadi dakwah walaupun tidak ada proses tabayun di dalamnya. Hal ini menjadi sebuah hal yang berbahaya apalagi viral berita ini dilakukan oleh ustadz beneran. Pemviral belum tentu tahu kualitas pembuat beritanya, pun juga tidak tahu referensi yang digunakan.

Solusi Masalah Dakwah di Era Milenial

Dengan sederet masalah yang diungkapkan atas dakwah di dunia digital dan milenial, mungkin solusi ini bisa mengatasi beberapa masalah tersebut. (1) giring orang untuk mencari ilmu tidak hanya di dunia digital tapi langsung di dunia real. Dunia digital harus mampu untuk membuat orang ingin mencari ilmu di dunia real. Caranya bisa menggunakan digital campaign yang massif sehingga orang akan merasa berdosa kalau hanya mencari ilmu di dunia digital, atau orang penasaran kalau hanya belajar ilmu hanya di dunia digital.

(2) desain informasi agama di dunia digital dengan menggunakan referensi yang benar. Tulislah, bila itu informasi tertulis, atau sampaikan informasi, bila itu menggunakan media video dengan cara yang valid ilmu dan valid orang. Valid ilmu adalah bahwa ilmunya benar-benar dari referensi yang jelas dan terbukti kebenarannya. Valid orang yaitu penulis atau pembicaranya bukan hanya pelaku dunia maya tetapi memiliki majelis ilmu di dunia nyata sehingga ketawadhuan, kewaroan, latar belakang pendidikan dapat dibuktikan secara linier.

(3) penuhi semua media digital dengan para pendakwah yang benar-benar ingin berdakwah bukan mereka yang memiliki motif keduniaan atau motif menghancurkan agama (Islam). Para pendakwah yang tulen, harus memproduksi sebanyak-banyaknya video atau tulisan di dunia digital agar mengalahkan beberapa pendakwah yang memiliki motif tidak benar. Isilah channel channel youtube dengan banyak video kyai atau ulama atau habib atau ustadz yang benar-benar ilmunya mumpuni, bukan dipenuhi dengan ceramah yang tidak jelas. Penuhilah Search engine Optimize (SEO) semacam google dengan kata kunci-kata kunci yang merujuk kepada tulisan penceramah yang referensinya jelas atau penulisnya jelas. Hal ini akan bisa mencegah para pembelajar agama digital terperosok kepada ajaran-ajaran yang sesat dan mensesatkan. {}

 

Kampus, 21/12/17

 

Satu Komentar

  1. Sebaiknya para pendakwah yang original berbasis pesantren dan keilmuan yang dia gali dari kitabnya mempunyai asisten untuk menuangkan berbagai ilmunya dalam media cetak, media sosial dll. Semoga saja para penerus bangsa ini bukan hanya cerdas dalam ilmu dunia nya melainkan cerdas pula dalam meninggikan agama Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *