Beranda / BERITA / Menyelami Perbedaan Pandangan tentang Islam NUsantara

Menyelami Perbedaan Pandangan tentang Islam NUsantara


Oleh: Zaki Mubarak

TERUS terang, mengangkat tulisan Islam Nusantara (IN) sudah sejak lama saya pikirkan. Munculnya tulisan KH Ma’ruf Amin di koran beserta tulisan lain yang deras di WA membuat saya berenergi untuk menuliskan ulang berbagai pemikiran itu. Mungkin beberapa pendapat sejalan dengan tulisan ini, beberapa mungkin tidak. Saya pun harus berbagi pemikiran dengan kelompok yang tidak setuju. Tulisan yang kontra itu, saya coba telaahi dan menarik benang merahnya. Dari kedua pemahaman (pro-kontra) ini, saya mencoba merenungi apa yang sesungguhnya diinginkan oleh IN, baik sebagai pemikiran, gerakan maupun amaliyah.

Sejatinya, saya harus mengikuti pemikiran NU sebagai pencetus utamanya di Muktamar NU ke-33 Jombang. Ini normal, karena jika saya memahami IN sebagai sebuah pemikiran di luar pencetusnya berarti saya telah masuk kepada perangkap IN sebagai sebuah diskursus “hoax”. Karena orang yang melahirkan akan lebih tahu dari orang yang hanya mencoba memahami dari benak “kebenaran” dirinya. Walaupun saya harus akui, banyaknya kontra pemahaman terhadap IN merupakan berkah besar bagi NU. Satu sisi eksistensi IN lebih populer daripada Islam Berkemajuan atau moderasi Islam misalnya, di sisi lain pemikiran kontradiktif ini menjadi bahan yang menarik dari sudut akademik. Ada apa sebenarnya, sehingga IN menjadi diskursus yang membuat orang mencurahkan energinya untuk berpikir. Semakin diperbincangkan dan dikritisi, maka semakin “syah” untuk jadi naskah akademik.

Terlepas dari keberpihakan, saya harus mencoba menalar semua pemahaman pro-kontra ini dalam sebuah pemahaman Islam yang saya pahami. Tentu mungkin keduanya harus saya olah dengan daya analisis yang saya miliki. Mungkin metode analisis (manhaj) yang saya hasilkan tidak akan memuaskan semua orang, tapi peling tidak, ini akan membuat pertanyaan banyak orang yang dilayangkan kepada saya bisa terjawab.

Islam: Komposisi yang Sempurna dengan Hasil yang Beragam

Berbicara Islam sebagai “System of Belief” tentu saja tidak selesai pada tataran ajaran. Dalam konteks Islam sebagai sebuah “lembaga” maka Islam terdiri dari dua komposisi; ia sebagai agama (religious) dan ia sebagai keber-agama-an (religiousity). Agama dibangun oleh sumber pokok yang dalam hal ini Al Qur’an dan Hadits, sedangkan keberagamaan adalah interpretasi darinya. Karena lebih dari seribu empat ratus tahun perjalanan Islam sampai kini, maka sumber itu lebih didekati sebagai teks daripada konteks. Teks Qur’an dan Hadits yang diyakini kebenarannya adalah sebuah sumber faktual yang divine (ilahiah) dan tidak bisa ditolak.

Sayangnya, Teks itu memiliki masalah karena berbagai faktor. Secara ilmiah, tidak ada kesalahan tata Bahasa, isi atau penyajian dalam kedua sumber Quran dan Hadits (QH) itu, tapi untuk menginsterpretasikan teks bukanlah tugas yang mudah. (1) faktor Bahasa yang berbeda memunculkan persepsi yang berbeda terhadap makna QH. Karena Bahasa Arab memiliki nilai sasatra yang tinggi, maka interpetasi dengan Bahasa lain semisal Bahasa Indonesia akan menciptakan pemahaman yang berbeda. Padanan kata Arab kadang tidak memiliki kelindan makna yang sama dengan Bahasa Indonesia. (2) faktor konteks jaman yang berbeda melahirkan bacaan atau rabaan QH yang berbeda di setiap lokus (daerah) dan tempusnya (jamannya). Ini normal karena QH sendiri tidak terlepas dari lokus dan tempus saat diturunkan. Makanya, QH harus diperhatikan asbab-nya walaupun nilainya yang terkandungnya dinilai relevan tak lekang oleh waktu dan ruang. Hal ini pula yang memunculkan sistem komodikasi hukum di bawahnya bernama qiyas, Istihsan, Saddudz Dzariyah, ‘Urf dan maslahah Mursalah.

Karena problematika yang dimunculkan faktor itulah, komposisi Islam melalui QH mengalami interpretasi yang beragam. Hal ini memunculkan dua kelompok yang berseberangan; kelompok tekstualis dan kelompok liberalis. Kelompok tekstualis memaksakan komposisi QH dalam ajaran agama baik itu sebagai agama maupun keber-agama-an. Kelompok ini menganggap semua yang tidak ditulis dalam QH memiliki kecenderungan keluar dari Islam. Walaupun mereka membatasi pada dimensi ibadah, tetapi mereka tidak jarang memasuki wilayah lain untuk membaca konteks dengan teks QH. Bila tidak sesuai maka dianggap tidak Islam. Mereka pun ingin mendekatkan kehidupan dengan narasi QH, maka tidak jarang Arabisasi diupayakan dalam praktik kehidupan, walaupun ada padanan local yang sepadan.

Kelompok Liberalis adalah kebalikannya. Mereka lebih bebas untuk berpikir menginterpretasikan Islam sesuai daya pikirnya. Mereka mengabaikan metode berpikir yang sudah dirumuskan oleh Ulama terdahulu. Sehingga, hasil pikirnya tidak sedikit nyeleneh dan dianggap keluar dari Islam mainstream. Belakangan, banyak produk pemikirannya yang dianggap keluar dari Islam sehingga KH Hasyimm Muzadi beranggapan bahwa kaum Liberal adalah “Kafir yang belum jadi”. Kelompok ini banyak dipengaruhi oleh metode berpikir fatalistic (jabbariyah) yang seratus persen mengutamakan “reason” ketimbang teks yang kaku. Mereka mengkritisi teks QH sesuai dengan kemampuan akal mereka. Hal ini sama seperti Barat yang telah berhasil melakukannya pada Injil.

Kedua kelompok ini sangat berdasar dan rasional. Yang satu memposisikan agama sebagai nilai yang harus diwariskan sehingga tidak boleh mengalami perubahan, yang satu menjadikan Islam sebagai alat untuk dikritisi sehingga memiliki relevansi dengan ruang dan waktu yang melingkarinya. Namun, keduanya memiliki masalah rumit, yang satu terlalu tekstualis, yang satu terlalu bebas tafsir. Tektualis akan mendapatkan masalah dalam memaknai konteks yang diikat oleh ruang dan waktu, sedangkan liberalis akan memiliki masalah “kekafiran” yang tersembunyi karena pisau analisisnya yang kerap tidak sesuai manhaj yang telah dirumuskan para ulama terdahulu. Alat ini memiliki otoritas yang tidak bisa diabaikan. Keduanya akan memiliki masalah ketika agama dan keberagamaan disandingkan secara praktis di masyarakat muslim.

Dalam mendamaikan keduanya, masyarakat muslim memiliki dua pilihan, apakah melalui nation-state yakni formalisasi Islam sebagai sebuah sistem kehidupan atau mereka memilih melalui civil society yakni menggunakan Islam sebagai sebuah nilai yang dipraktikan tanpa harus diformalkan. Kelompok yang pertama memperjuangakan Islam sebagai sebuah gerakan politik atau disebut Islam formalis, yang kedua lebih bergerak kepada dakwah Islam yang mengabaikan politik praktis atau biasa disebut Islam substansialis. Keduanya memiliki dampak yang berbeda, pilihan pertama berdampak kepada sistem negara yang memformalkan Islam sebagai sistem tata negara seperti banyak narasi “syariah” dalam kebijakannya, yang pilihan lainnya berdampak kultural dan massif sesuai dengan kekuatan ajarannya. Bila ia berterima secara massal, maka ajaran itu akan massif sebagai ajaran yang diterima publik, jika tidak, maka ajaran itu tidak laku, toh tidak diperkuat dengan kekuatan politik.

Konteks Indonesia, kelompok tekstualis lebih menginginkan formalisasi Islam melalui politik nation-state sedangan liberalis lebih mempropaganda dalam kultur akademik. Keduanya memiliki rintangan yang sama, yang satu memiliki musuh dengan kaum nasionalis yang menginginkan (semi) sekulerisasi tata negara, sedang yang lainnya dimusuhi oleh agamawan konservatif yang memegang teguh agama sebagai sebuah nilai turun temurun. Oleh karena itu, mendamaikan keduanya adalah hal yang paling berterima.

Gerakan civil society yang dikembangkan oleh Islam kultural semacam NU dan Muhammadiyah adalah pilihan cocok yang berdamai antara formalistic dan subtansialistik. Teks yang menjadi sumber utama kaum tekstualistik dan sekaligus menjadi objek kritik oleh liberalistic harus dilengkapi dengan konteks. Konteks inilah yang menjadi perekat keduanya, ia bisa sebagai tradisi, bisa sebagai nilai, belief, simbol dan bisa juga sebagai local wisdom. Konteks inilah yang akhirnya membuat Islam kultural menemukan jalan tengah (tawasuth) dalam memformulasikan ulang Islam sebagai sebuah agama dan keberagamaan.

Dalam pandangan kelompok ini, agama dipandang sebagai prinsip yang dihasilkan dari interpretasi QH yang dilakukan melalui metode khusus yang secara ijtima (consensus) telah disepakati oleh ulama terdahulu. QH yang memiliki masalah interpretasi Bahasa dan konteks ruang-waktu yang melingkunginya, diterjemahkan ajarannya secara substansif dan diupayakan berkelindan dengan nilai, belief, keyakinan, simbol, kebijaksanaan di masyarakat muslim. Sepanjang tidak berbenturan dengan substansi Islam, ajaran Islam mengalami sinkretisme (pencampuran) dengan tujuan dakwah Islam yang akulturatif. Faktanya, dakwah model ini sangat efektif dan diterima secara terstruktur, sistemik dan massif (TSM) di wilayah Nusantara. Dakwah model ini pula yang menjadi kesuksesan para wali songo sebagai kritik teerhadap dakwah purifikasi yang dilakukan sebelumnya.

Dalam konteks Nusantara, kelompok Islam kultural faktanya telah menjadi bagian penting dari kehidupan Indonesia. Terlepas dari tuduhan Islam di Indonesia yang klenik, sinkretis, penuh bid’ah dan tidak murni atau sempalan, Islam ini dipandang sebagai Islam yang menjadi khas. Islam ini mencoba memformulasikan Islam yang damai (Islam, peace, damai), Islam yang toleran (tasamuh), Islam yang mejadikan rahmat bagi alam (rahmatan lil alamin) dan Islam yang menghormati tradisi tanpa mengedepankan kekerasan, peperangan dan permusuhan.

Keberhasilan Islam di Indonesia ini telah memantik kekuatan civil society NU mendeklarasikan IN sebagai sebuah ikon. Hal ini juga berlaku bagi Islam Berkemajuan-nya Muhammadiyah, dan Moderasi Islam Kementerian Agama. Isinya mirip sama walaupun memiliki fokus yang beragam. Ketika Arabic Spring yang bergolak dan meluluh lantahkan Timur Tengah sebagai “Pribumi” Islam, dan semua identitas dan narasi yang diperjuangkannya adalah “atas nama Islam”, maka semua mata dunia tertuju kepada Islam Indonesia. IN yang diprakarsai oleh NU dipandang sebagai Islam dengan wajah yang solutif atas kekerasan atas nama agama dengan kedok terorisme, radikalisme dan narasi sejenisnya. IN disinyalir menjadi Islam yang mampu menyelesaikan masalah kemanusiaan dan bahkan kebudayaan di negara berpenduduk muslim.

Namun, IN memiliki masalah serius di dalam negeri. Seiring IN sebagai kajian akademis yang menarik bagi dunia internasional, IN pun memiliki “musuh” ideologis. Hal ini tidak terlepas dari gelombang “purifikasi” Islam di Indonesia. Interaksi akademisi muslim Indonesia yang belajar di Timur Tengah sedikit banyak telah merubah peta kekuatan pemikiran Islam tradisional-kultural. Sekembalinya mereka belajar dari timur tengah, mereka berupaya untuk “memperbaiki” Islam sesuai dengan Islam yang mereka pahami.

Paling tidak ada beberapa wajah Islam yang mereka boncengi; Islam ala Saudi dengan Wahabisme dan salafisme sebagai oleh-olehnya dan Islam politik ala Ikhwan Muslimin (IM) Mesir dengan oleh-oleh Politik Islam dan bahkan Khilafah. Kedua kelompok ini juga ditambah dengan para jebolan “tersembunyi” dari Iran dengan Syiah sebagai ajarannya dan jebolan Studi Islam Barat terutama Mc Gill yang lebih menekankan pada aspek liberaliasi pemikiran Islam. Wajah-wajah itu menjadi antitesa IN sebagai sebuah konsep di satu sisi, tapi di sisi lain menjadi penguat dan sintesis IN sebagai sebuah gerakan. Dalam praktiknya, ada tambal sulam IN sebagai sebuah pemikiran ketika berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran impor tersebut.

Interaksi ini membuat NU dan IN memiliki level yang berbeda-beda. Ada yang sangat mendukung IN sebagai sebuah pemikiran, gerakan dan amaliyah, ada juga yang mendukung sebatas pemikiran tanpa gerakan dan amaliyah. Level Ke-NU-an seseorang juga berbeda, ada yang berorientasi pemikiran, gerakan juga amaliyah. Keberpihakan warga NU tergantung dari orientasinya di jam’iyah NU, ada yang menggunakan untuk kepentingan politik, ummat atau kepentingan luar yang merasukinya. Semua perlu dibuktikan secara parsial untuk membuktikan tuduhan-tuduhan luar tentang dinamika pemikiran dan gerakan NU kontemporer itu.

Pemahaman Kelompok Kontra terhadap Islam Nusantara

Ada beberapa tokoh yang tidak setuju dengan IN. Secara umum ketidak setujuan bisa dicari jejak digitalnya dan orientasi ketidak sukaannya. Tokoh seperti Habib Riziek dalam videonya dan juga utamanya adalah tokoh-tokoh medsos yang mengkritisi seperti simpatisan PKS Jonru Ginting dan lainnya. Bahkan Mamah Dedeh sempat reaktif “mencoret” IN dalam diskursus Islam. Saya juga melihat ada banyak postingan warganet yang begitu antipati terhadap IN. Ada yang reaksional tanpa mengetahui jauh tentang IN, ada juga yang nyinyir sebelum tahu IN itu seperti apa. Narasi-narasi yang saya amati, kebanyakan dari mereka adalah terpengaruhi oleh agitasi media sosial yang massif tentang penolakan IN sebagai sebuah konsep. Itu normal.

Saya coba bagi penolakan IN ini dengan tiga dimensi; pemikiran, gerakan dan amaliyah. (1) dari sisi pemikiran ada beberapa hal yang menolak. Saya klasifikasi menjadi beberapa bagian. (a) IN adalah anti Arab, seperti yang diposting oleh Jonru. Semua yang berhubungan dengan Arab dianggap bukan IN. Ia harus sangat local dan berupaya untuk meninggalkan dan mengabaikan segala hal yang berbau Arab. Pesantren NU yang banyak melahirkan tokoh penting, pelajaran yang pertama mengajarkan Bahasa Arab, sepertinya ini dinafikan. Narasi-narasi seperti Assalamualaikum, Alhamdulillah, Akhi, Akhwat, Ummi, Abi, adalah beberapa yang dituduh harus disingkirkan dari Indonesia melalui IN. semua harus di Indonesiakan atau di-lokalkan.

Beberapa pemikiran Habib Riziek yang menyebut Jemaah Islam Nusantara (JIN) memiliki kekeliruan pemikiran. IN menganggap (b) Islam adalah agama pendatang yang numpang di Nusantara. Islam adalah agama orang Arab. (c) pribumisasi Islam adalah tujuan IN, bagaimana Islam harus tunduk kepada tradisi dan segala sesuatu yang ada di Nusantara. Indonesiasi Islam adalah prosesnya bukan Islamisasi Indonesia. (d) Menolak Arabisasi, baik dari budaya maupun nilai yang melekat di dalamnya. Islam harus diambil sebagai substansi, tetapi kulitnya yang menempel harus dibuang. Derivasi dari menolak arabisasi adalah harus membuang Jilbab, membuang salam, membuang jenggot, jubah dan sejenisnya, bahkan kain kafan pun diganti menjadi batik.

Hal yang saya analisis, kebanyakan IN dianggap sebagai sebuah agama (religious) padahal IN yang dimaksud oleh NU adalah Islam sebagai keber-agama-an (religiosity). “Agama” adalah ajaran yang secara tekstual telah difinalisasi melalui QH. Menafsirkan QH sebagai ajaran agama dengan derivasi dan interpretasi yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu adalah “keberagamaan”. Hal ini berlaku sangat umum, dimana agama itu sama secara prinsip, tapi keberagamaan pasti memiliki perbedaan yang parsial. Karena keberagamaan ini beda satu sama lain, maka agar tidak keluar dari “agama” maka harus menggunakan manhaj berpikir (ijtihad) dalam menghasilkan produk keberagamaannya. IN adalah produk keberagamaan bukan agama. Ia bisa sebagai kekhasan, ia bisa sebagai gerakan, tipologi, ia juga bisa sebagai tawaran konsep akademik.

Jika IN dianggap secara pemikiran adalah sesuatu yang salah karena Islam itu satu dan tak bisa dipisah-pisahkan atau dikotak-kotakan, maka ketika sejak dahulu ada Islam Kairo, Islam Mesir, Islam Yaman dan lainnya memiliki kesalahan serupa.

(2) IN sebagai gerakan. Paling tidak ada dua tuduhan IN yang lahir sebagai gerakan dan dikritisi sebagai hal yang berbahaya. (a) IN dengan NU-nya telah disusupi oleh gerakan spilis. Spilis adalah akronim yang mengacu pada sekuler, pluralis dan liberalis. Gerakan ini diimpor oleh Barat yang mengagumi pemikiran liberal sebagai penghancur sendi-sendi keagamaan. (b) IN disusupi syiah yang mencoba menghancurkan Islam Sunni (Ahlu Sunnah wal Jamaah). Gerakan mendesakralisasi istilah Islam yang Arab, dicoba dikerdilkan di Indonesia dengan tujuan akhir nilai Islam yang semakin pudar.

Gerakan IN disinyalir sebagai gerakan yang didukung oleh kaum nasionalis yang menginginkan adanya sekularisme. Sekularisme sejatinya adalah gerakan politik yang mencoba memisahkan ruang publik dan ruang privat. Agama yang sifatnya privat tidak bisa dimunculkan sebagai instrument ruang publik, sehingga semua yang berurusan dengan agama selesai di kamarnya. Ia sangat pribadi dan negara tidak mengurusi urusan pribadi. IN adalah sebuah gerakan sekulerisasi dengan mengkanalisasi anti arab. Nomenklatur Islam yang arab dicoba diruntuhkan agar pada akhirnya Islam bisa dijauhkan dari sumber hukumnya (QH yang berbahasa Arab).

Bila gerakan IN adalah berbahaya, maka gerakan Islam Terpadu, Islam berkemajuan, Moderasi Islam, Islam Wasathiyah pun memiliki tingkat keberbahayaan yang sama. Saya kira gerakan yan gdituduhkan perlu diteliti, walaupun saya meyakini gerakan ini sama dengan gerakan Islam konservatif, Islam emansipatoris, Islam Progresif, Islam developmentalis, Islam revivalis, dan sejumlah gerakan Islam lainnya.

(3) dari dimensi amaliyah terutama amaliyah dakwah, IN lebih toleran, berdamai dengan “kekafiran” dan tidak mencoba memformalisasikan Islam sebagai syariat negara. Hal ini ditentang oleh gerakan politik Islam yang mencoba mendesain Islam sebagai syariat tata negara. IN adalah sekumpulan amalan sinkretisme yang jelas-jelas hukumnya haram. Amaliyah yang tidak memiliki dasar QH diperbolehkan oleh IN, sehingga IN dianggap sebagai amaliyah yang abu-abu dan tidak berdasar kepada Sunnah yang ditunjukan nabi. Narasi-narasi ini telah banyak lahir menjadi ghozwatul fikr di Indonesia terutama di dunia maya.

Pandangan Pro terhadap Islam Nusantara

Dari berbagai sudut pandang, IN memiliki alasan logis untuk diproklamirkan menjadi sebuah konsep. Saya akan mencoba menggambarkan pandangan saya tentang IN. Untuk pandangan Pro lainnya silahkan baca tulisan yang terdahulu dari paara ahli. Secara singkat IN yang dimaksud adalah seperti yang dikatakan oleh KH Agil Siradj bahwa IN memiliki empat semangat; semangat keagamaan, semangat kebangsaan, semangat kebhinekaan dan semangat kemanusiaan. Empat ini dimanifestasikan ke dalam konsep IN yang menurut saya bangunan komprehensifnya belum tuntas.

Paling tidak ada beberapa alasan IN harus disetujui kehadirannya; alasan akademis, sosiologis, politis, dan teologis. (1) secara akademis, sebuah konsep dikaji dalam beberapa dimensi terutama dimensi filsafat. Ketika parameter filsafat bernama epistemologis, ontologis dan aksiologis telah terpenuhi, maka konsep itu syah menjadi kajian akademis. Secara akademis, Islam sebagai Agama memiliki kesamaan prinsip yang qot’i, namun secara keberagamaan memiliki tipologi. Klasifikasi-klasifikasi Islam dibutuhkan untuk membangun tipologi Islam. IN adalah sebuah tipologi yang khas. Saya yakin bangunan epistemologisnya perlu dirumuskan secara sistematis agar tipologi itu menjadi bangunan yang kuat fondasinya. IN telah memiliki syarat untuk dikaji secara akademis.

(2) secara sosiologis, IN adalah bagian dari konstruksi sosial kemasyarakatan. Tipologi IN yang bisa memotret social order, akan mampu memetakan tatanan sosial masyarakat nusantara. dengan ini, kebutuhan, kecenderungan, keinginan, dan relasi kemasyarakatan akan dengan mudah dipenuhi dengan standar kriteria tipologi IN yang khas. Ini akan sangat membantu dalam mengkaji masyarakat dengan pendekatan keagamaan.

(3) secara politis, Indonesia tidak memiliki daya tawar dalam konstribusinya di dunia internasional. Teknologi dan ilmu pengetahuan Indonesia telah kalah oleh negara lain. Salah satu yang dimiliki Indonesia dan telah terbukti berhasil dalam wacana kehidupan manusia adalah relasi Islam dan budaya nusantara. IN adalah konsepsi yang bisa ditawarkan kepada dunia Islam karena terbukti telah mampu mengawinkan Islam dan Tradisi. Ada banyak illat (dasar alasan) yang bisa menjustifikasi IN adalah Islam yang benar. Secara politis Indonesia bisa memberikan surri tauladan kepada dunia tentang hubungan agama dengan negara dan dengan tradisi yang ada. Dunia bisa berkaca pada Indonesia dan IN, baik diambil sebagai kajian akademik maupun kajian politik. IN membuat Indonesia dilirik dunia.

(4) secara teologis, IN tidak memiliki masalah ajaran. Dengan berabad lamanya Islam hidup di Nusantara, Islam telah mampu mendamaikan manusia sesuai dengan tujuan Islam itu sendiri. Masalah kafir-mengkafirkan yang belakangan terjadi adalah batu sandungan yang tidak usah reaktif. IN harus lebih dewasa dalam bersikap teologis, karena founder-founder IN lebih faqih (ahli fikih) lebih sastrawan, lebih budayawan, lebih memahami Islam dengan akhlak tasawuf yang tidak usah dipertanyakan lagi integritasnya. Saya meyakini, IN bukanlah sebuah pemikiran yang keluar dari basis Islam yang murni. Gerakannya juga tidaklah gerakan yang “asal beda” dengan Islam lainnya, ia murni mencoba berkonstribusi pada perdamaian dunia. Amalannya juga tidak neko-neko, ia hanya ingin memunculkan Islam yang nusantara, Islam yang bisa berdamai dengan tradisi, berdamai dengan perbedaan, berdamai dengan budaya, berdamai dengan Bahasa dan berdamai dengan consensus para founding father tedahulu. IN bukan sebagai projek lokalisasi Islam, tapi IN merupakan projek Indonesia sebagai solusi Islam yang rahmatan lil alamin. IN tidak anti Arab, tidak ingin merubah ajaran, dan bukan pula Islam yang beda dengan “Islam” lainnya. Wallahu a’lam.

Bumisyafikri, 12/7/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *