Beranda / Uncategorized / Rekonseptualisasi Syetan: Mahluk Imajiner Penggoda

Rekonseptualisasi Syetan: Mahluk Imajiner Penggoda


Oleh: Zaki Mubarak

ANEH. Saya merasa aneh di malam ini, karena tidak biasanya harus bangun jam dua malam sebelum sahur. Bangunnya tersebab oleh pikiran yang nyeleneh di alam bawah sadar yakni memikirkan “syetan”. Ya, syetan yang bagi pikiran saya adalah mahluk yang tak jelas konsepnya. Apakah ia mahluk beneran atau mahluk imajiner.

Dalam tidur itu saya berpikir tentang banyak hal tentang syetan. Saya memiliki banyak “halusinasi” atau tepatnya imajinasi tentang konsepsi syetan. Bukan saya tidak percaya tentang konsepsi syetan yang saya dapatkan dari banyak ustad dan kitab kuning, namun saya merasa penjelasannya tidak jelas. Pikiran akademis saya mencoba untuk mengelaborasinya tanpa melihat sumber referensi yang valid. Analisis ini murni menggunakan analisis kritis yang saya temukan dalam mimpi itu.

Bisa jadi Anda tidak setuju dengan apa yang saya rekonseptualisasi (membangun konsepsi ulang, walaupun tidak murni baru) tentang syetan yang saya tulis. Saya akan menerima kritikan Anda jika apa yang saya pikirkan salah. Saya berusaha menjauhkan dari konsep syetan yang telah ada terutama yang disebut oleh KBBI bahwa syetan adalah “roh jahat” yang selalu menggoda manusia untuk berlaku jahat. Dalam beberapa hal saya setuju, tapi untuk bagian lain saya tidak yakin. Untuk itu, saya mminta maaf bila Anda tidak setuju, saya mencoba menggunakan logika-historis dan fakta-fakta yang saya dapatkan selama ini tentang nomenklatur syetan.

Syetan: Apakah “Roh” atau Mahluk Imajiner?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya kira kita harus memetakan segala hal di alam semesta ini. Dzat yang ada di alam semesta ini tebagi menjadi dua; kholik dan makhluk. Kholik adalah pencipta yakni Allah, sedangkan mahluk adalah sesuatu yang diciptakan yang memiliki dua kategori; mahluk hidup dan mati. Kriteria visualisasi kholik dan makhluk terbagi menjadi tiga; Maha Ghaib, Ghaib dan Nyata. Ghaib adalah dzat yang tidak terlihat oleh mata, sehingga mahluk ini bagi manusia disebut mahluk ruhani.

Allah adalah Maha Ghaib. Penyebutannya bukanlah “roh” tapi “Dzat”, dimensinya sangat ilahiah dan tidak dapat divisualisasi atau diimajinasi oleh manusia, pokoknya “laisa kamislihi saiun fil ardhi wala fi samawati” (tidak ada yang menyerupai baik di bumi maupun di langit). Manusia hanya bisa memvisualisasi sesuatu sesuai dengan apa yang dialaminya atau yang dilihatnya. Daya imajinasinya terbatas pada apa yang menyerupai segala yang empiris dan tidak mampu berimajinasi sesuatu yang tidak empiris. Jadi Allah adalah sesuatu yang musatahil digambarkan oleh manusia dan hal ini berbeda dengan konsepsi “Tuhan” dalam agama lain yang bukan tauhid.

Mahluk ghaib terdiri dari kelompok besar yakni malaikat dan jin. Jin juga disebutkan sebagai turunan dari Iblis yang biasa dalam tafsir disebutkan abal jin (leluhur jin). Iblis dan Jin adalah satu rumpun, bahkan disebutkan bahwa dahulunya para malaikat itu dipimpin oleh seorang raja Malaikat yang disebut Iblis. Iblis inilah yang tidak mau sujud kepada nabi Adam atas perintah Allah. Iblis memiliki keturunan Jin dengan segala derivasinya. Ada Jin Ifrit, Jin qorin (Jin yang selalu menempel pada manusia) dan Jin lainya. Mereka bisa baik dan taat kepada Allah disebut Jin Islam, bisa juga maksiat kepada Allah disebut Jin Kafir. Tidak ada terminology syetan diantaranya, karena beberapa ayat Al Qur’an menyebutkan bahwa syetan bisa terdiri dari manusia dan jin (minal jinnati wannas).

Setiap mahluk diberikan tiga potensi bathin; rasa, pikir dan nafsu. Persenyawaan rasa dan pikir adalah akal. Tajamnya akal tergantung tajamnya rasa dan pikir. Manusia sebagai mahluk nyata diberikan ketiganya, sehingga manusia memiliki akal dan nafsu. Hal inipun sama dengan Jin, mereka memiliki rasa, pikir dan nafsu. Dengan demikian Jin menikah dengan sesamanya dan memiliki keturunan layaknya manusia. Pupulasi mereka lebih banyak daripada manusia. Namun, Malaikat adalah sesuatu yang berbeda, mereka tidak memiliki potensi batin yang tiga tadi. Malaikat tidak memiliki rasa, pikir dan nafsu, sehingga malaikat tidak merasa Letih, protes dan seterusnya, juga malaikat tidak menikah atau jatuh cinta. mereka hanya patuh terhadap apa yang diperintahkan Allah.

Karena malaikat tidak memiliki ketiga potensi bathin tadi, maka mereka disebut mahluk quddus (suci). Mahluk ghaib berbeda dengan mahluk nyata yang memiliki roh dan jasad, mahluk ghaib hanya memiliki roh saja, sehingga malaikat disebut “ruhul quddus”. Untuk agama lain ruhul quddus itu dianggap sebagai “tuhan”. Bahkan dalam agama bumi, ruhul quddus yang sering diistilahkan dengan berbagai narasi Semisal “Dewa”, “tuhan” (dengan t kecil) adalah dzat yang disembahnya. Saya tak memahami secara teologis tentang hal ini.

Dahulu, saya memahami syetan adalah mahluk mirip Jin atau bahkan dari sejenis Jin. Namun, dengan perjalanan pemikiran saya, hal ini berubah. Saya melihat syetan bukanlah dari bangsa Jin apalagi malaikat. Syetan adalah konsep yang diciptakan (mahluk) Allah untuk mewakili keburukan atau kejahatan. Ia bukanlah roh, tapi sebuah konsep atau mahluk imajiner. Kalau syetan itu membuat was-was dan menggoda manusia untuk berbuat jahat dari kalangan jin dan manusia, maka keghaibannya harus melebihi dari Jin. Ini disebabkan bahwa syetan harus lebih tidak terlihat oleh Jin. Sehingga keghaibannya setara dengan malaikat atau dibawah malaikat diatas Jin.

Namun, saya tidak menemukan terminology yang menyebutkan keghaiban syetan melebihi Jin atau setara dengan malaikat. Jadi saya menyimpulkan bahwa syetan itu adalah “sebuah konsep”. Syetan bisa diartikan sebagai “energi negatif” yang diciptakan Allah untuk mewakili kejahatan dengan segala derivasinya. Dengan energi ini, setiap mahluk yang memiliki rasa, pikir dan nafsu akan memiliki kecenderungan berbuat jahat. Kita bisa memahami kenapa tempat dasar syetan adalah di aliran darah, karena darah inilah yang mampu menggerakan pikir (otak) untuk menginstruksikan melakukan sesuatu. Jadi Syetan itu energi negatif bukanlah “roh” jahat.

Nah, degan ini saya menyimpulkan bahwa syetan itu bukanlah mahluk mirip malaikat dan Jin. Walaupun malaikat dan Jin adalah bangsa Ruhani yang diciptakan dari Nur dan Api, dan tidak memiliki wujud nyata seperti manusia, Syetan bisa tidak bisa diartikan sebagai mahluk itu. Saya melihat syetan sebagai energi negatif yang ada di setiap mahluk yang memiliki ruh. Ruh inilah yang mejadi persemayaman syetan, baik di manusia, hewan ataupun Jin. Maka tidak salah bila syetan sebagai energi negatif membuat mahluk untuk berbuat jahat dan buruk. Pendek kata, syetan adalah mahluk imajiner sebagai antitesa dari mahluk imajiner energi positif yang bersemayam di ruh lainnya. Energi ini disebut energi ilahiah.

Dimanakah Energi Syetan Ini Tinggal?

Karena syetan adalah sebuah energi di setiap mahluk beruhani, maka syetan akan tinggal di mana saja yang ia suka, bahkan sejatinya setiap mahluk hidup pasti memiliki energi ini. Saya akan coba mengklasifikasikan tempat hidup syetan sebagai sebuah energi negatif. Klasifikasi ini sesuai dengan referensi teologis yang saya dapatkan. (1) Hidup di kaum Jin. Jin sebagai mahluk ghaib dibekali rasa, pikir dan nafsu memiliki energi negative lebih besar daripada positif (ilahiah). Nafsu inilah yang menjadi tempat dominan energi negatif bernama syetan tadi.

Karena sejatinya Jin adalah turunan dari Iblis, maka kecenderungan untuk menggoda manusia sangatlah tinggi. Maka muncul konsep Jin yang telah dirasuki setan (energi negatifnya dominan) untuk menggoda hidup manusia. Maka lahirlah konsep “hantu”. Hantu sifatnya lokalistik, seperti di Indonesia hantu bisa berupa pocong, kuntilanak, sundelbolong, dan seterusnya atau di China dengan vampire atau Ghost, Drakula dan hantu lainnya yang dikonsepsikan oleh Barat. Karena Jin adalah bangsa roh yang tak berjasad, maka visualisasi jasad menyesuaikan dengan alam pikiran manusia sebagai konteksnya. Hantu inilah yang selalu mengganggu manusia untuk berlaku jahat.

Bangsa Jin memiliki kecenderungan untuk tinggal di tempat yang khas. Angker, dingin, hutan, pohon besar, pohon khusus, atau tempat-tempat yang memang sudah lama menjadi kekuasaannya adalah tempat-tempat yang dimaksud. Maka tidak salah, orang yang tidak memiliki iman yang kuat, akan takut kepada tempat-tempat itu karena dihuni para Jin yang sebagian besar energi negatifnya dominan. Bahkan tidak jarang, orang menyembah Jin yang kesetanan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tidak jarang pula cerita tentang bangsa manusia yang telah terikat “kontrak nyawa” dengan bangsa Jin untuk kekuasaan tertentu. Kelindan Jin dan Manusia kadang dihubungkan dengan adanya kesamaan energi negatif ini yang diinisiasi oleh syetan.

(2) syetan hidup di kaum manusia. Sama halnya dengan Jin, manusia memiliki rasa, pikir dan nafsu. Syetan sebagai energi negatif bersemayam di roh manusia, akan menjadikan nafsunya sebagai prilaku yang jahat (inna nafsa laammarotun bissu’I, sesungguhnya nafsu memerintahkan kepada keburukan).

Sejatinya dalam roh manusia terdiri dari dua kavling; kavling energi ilahiah dan kavling energi syaitoniah. Awalnya roh ilahiah sangat dominan, sehingga manusia dilahirkan dalam keadaan “fitri” suci. Namun, sejalan dengan kehidupan yang beragam, energi syaitoniah memiliki momentum yang baik untuk hidup dalam hati manusia. Hingga, manusia dipilihkan kepada dua pilihan yakni dominan energi ilahiahnya atau syaitoniahnya. Pilihan tergantung dimana manusia sering menyimpan ruhnya. Bila sering disimpan di tempat suci, maka energi positif lah yang akan dominan, begitupun sebaliknya.

Ada yang kurang saya setujui tentang tempat syetan bersemayam secara lokus. Saya banyak mendapatkan cerita bahwa WC atau kamar mandi adalah tempat syetan (tepatnya banyak jin yang memiliki energi negatif dominan). Karena saya tak memiliki kemampuan untuk memvisualisasi jin, saya kurang percaya bahwa WC adalah tempat favorit Syetan. Kenapa? Karena secara logis-empiris, saya melihat WC adalah tempat dimana ide-ide muncul. Bahkan sebagian tokoh besar dunia mendapatkan idenya di kamar mandi. Apakah ide itu dari syetan? Kalau iya, maka idenya akan bernada negatif, tapi tidak semua ide itu negatif.

Saya pun merasa bahwa kamar mandi adalah tempat wudhu. Wudhu adalah tahapan bersuci, maka tempat itu harus suci. Apakah syetan hidup favorit di tempat suci? Mungkin yang dimaksud WC tempat syetan itu adalah narasi do’a allahumma inni a’udubika minal hubusi wal hobaisi. Hubusi diartikan kotoran bukan syetan, jadi tidak ada alasan hubusi diterjemahkan syetan. Karena kotoran tidak selalu syetan, kotoran bisa karena bau atau kotoran dan bukan kejahatan dan keburukan sebagaaimana karakter yang ditabiatkan oleh syetan.

Atau mungkin juga bahwa syetan menjadikan tempat favorit di WC untuk meggoda manusia dalam buang air kencil. Diriwayatkan bahwa banyak manusia masuk neraka karena baol (air kencing). Dengan air kencing inilah banyak yang tidak peduli akan najis yang dibuatnya, sehingga ibadahnya tidak syah. Maka kalau ini alasannya, maka masjid pun adalah tempat favorit syetan dimana setiap khutbah jumat banyak Jemaah yang ngantuk dan tak sadarkan diri. Dengan itu pula, Jemaah jum’at yang kehilangan pahalanya. Namun demikian, saya setuju tempat favorit syetan adalah di pasar (syuq). Di sanalah kita bisa melihat banyak penipuan timbangan dan ketidak jujuran. Wallahu a’lam.{}

Sahur kelima
Bumisyafikri, 21/5/18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *