Beranda / BERITA / Santri Post-Islamisme, Apa Itu?

Santri Post-Islamisme, Apa Itu?

Zaki Mubarak

DARI bacaan tentang studi pesantren, istilah ini baru saya temukan saat deklarasi Prabowo-Sandi. Santri Post Islamisme (SPI) adalah upaya terminologis untuk membuat sederhana mendefinisikan keislaman seorang Sandiaga Salahudin Uno (SU). SU yang sangat islamis agak rumit di”islam”kan kecuali dengan narasi baru. SPI mampu menjelaskan secara sederhana kesantrian SU walau secara akademis, ini perlu test of case terlebih dahulu.

Bagi seorang akademisi, istilah baru sangat membahagiakan saya dan penting dalam proses klasifikasi suatu objek melalui kajian tipologi. SPI walau lahir secara spontan dan dari politisi, bisa dikaji secara mendalam oleh akademisi. Tentu saja SPI dalam kontek SU tidak bisa diletakan secara umum di sini. Hanya presiden PKS yang memiliki otoritas untuk mendefinisikan maksudnya. Ini mirip hanya Kiai Agil Siraj yang paling tahu tentang Islam Nusantara. Yang lain, seperti saya cuman menerka dan meraba.

Bagi saya, SPI lahir setelah isme (paham) terdahulu bernama Post-truth (PT). Keduanya memiliki memiliki kelindan, yang satu rumah besarnya yang kedua bagian kecilnya. PT secara sederhana diartikan sebagai isme dimana tingkat kebenaran tidak bisa dilihat dari satu dimensi (single reality). “Benar” tidak absolut dan sangat banyak ragamnya (multiple reality). Di dunia post positivisme, realitas kebenaran terdiri daři konsensus kebenaran yang beragam.

SPI jika dilihat sebagai bagian PT dapat diartikan sebagai Keislaman santri dengan dimensi yang multi. Saya agak rumit jika mengartikan “post islamisme” karena berdampak kepada ajaran islam yang berubah. Saya lebih aman mengartikan “post santri” yg dimaknai perubahan makna santri. Jika saya memaksa mendefinisikan post islamisme, maka perdebatan akan luas layaknya Islam Nusantara. Lebih aman mengatakan Muslim Nusantara, begitupun lbh aman menyebut Post-Santri.

Santri yang dlm beberapa dimensi diklaim oleh kelompok tradisionalis, dianggap menjadi istilah umum dan berderajat tinggi (inteleltual-spiritual) yang bisa disematkan kepada siapapun. Pendeknya, dahulu santri eksklusif hanya untuk mereka yang nyantren, sekarang inklusif bagi siapa saja yang memiliki pribadi dengan keislaman yang nampak. Pesantren tereduksi oleh SPI peran dan ekosistemnya dan santri naik derajat degree-nya.

Dahulu santri terdefinisi oleh sarungan, ndeso, kitab kuning, kastrol, calon kyai dan seterusnya (lihat Zamaksari Dhofier), maka sekarang definisinya meluas kepada seorang berkepribadian islami. Pandai puasa senin-kamis, hafal dan bagus suara qur’an walau arab gundul dan 12 fan kitab tak hapal, bisa dikategorikan santri. Apapun yg terkoneksi dengan pribadi dan literatur Islam, itulah santri.

Melalui narasi SPI inilah, dicoba untuk mendekonstruksi kemapanan santri definisi awal. Dampak plusnya, santri tidak lagi menjadi milik kelompok tertentu yang ditakutkan afiliasi dan keberpihakannya kepada politik tertentu. Minusnya, tradisi santri yang sakral akan didangkalkan kepada minimnya kualitas santri. Karena hafal beberapa juz Quran tanpa tafsir dan bahasa Arab, dipanggil ustad. Tahu beberapa hadits dan mampu beretorika dipanggil kiai dan ceramah dimana-mana, dan seterusnya. SPI bisa menjadi jembatan mendangkalnya nilai santri itu sendiri. Harus digarisbawahi, dahulu santri itu calon ulama (kiai).

Padahal, sejatinya santri ditempa dg berbagai ilmu yang lengkap, mulai bahasa Arab, fikih, ushul fikih, quran, tafsir, hadits, balaghoh, dst. Seorang santri yang belum mumpuni dalam ilmu tersebut tidak lantas dikarbit jadi kiai. Butuh tuluzzaman (waktu panjang) untuk menggapainya. Walaupun ilmu itu sangat luas, tetapi santri yg bermetamorposis menjadi kiai memiliki dasar-dasar keilmuan tersebut sebagai prasyarat.

Di era milenial yg digital, SPI adalah sebutan dan menjadi hak para pembelajar non pesantren. Ilmu agama yg deras di dunia internet menjadi barang murah dan mudah untuk dicerna. Karena aksesibiliti yang luas, maka muncul santri-santri baru dengan cara belajar Islam yang baru pula. Ekosistem baru itu tentu saja butuh dinarasikan, dan SPI adalah bagian dari narasi itu. Jadi SPI adalah upaya mendefinisi ulang santri dalam dimensi multiple reality.

  • Bumisyafikri, 10/8/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *