Beranda / Uncategorized / Tercyduk Maulid Nabi

Tercyduk Maulid Nabi


Oleh: Zaki Mubarak

Gemuruh do’a yang dipanjatkan di ruangan mesjid Nabawi Madinah terdengar jelas. Mesjid dimana rumah nabi Muhammad saw dan makamnya ditanam begitu indah dipandang dan dirasakan. Karpet yang tebal berwarna merah dengan setiap tiang menghembuskan udara segar dari air conditioner. Air zamzam yang ditata rapih di samping jalan tengah di mesjid membuat orang tidak ingin beranjak keluar mesjid. Tempat alas kaki yang berada di setiap pojok mesjid pun membuat jamaah tidak kuatir alas kakinya tertukar.

Subuh ini, aku dekatkan telinga ini di dekat tiang dimana halaqoh berbahasa Indonesia dihadirkan. Kajiannya sangat indonesia banget. Bercerita bagaimana maulid nabi sebagai tradisi di Indonesia menjadi hal yang unik dibahas dalam pandangan Saudi Arabia. Ustad yang sedang menyelesaikan doktornya di Universtis Ummul Quro itu begitu fasih untuk menjelaskan maulid Nabi dalam perpektif Indonesia yang Syafi’iyah dan Saudi yang Wahabiah. Untaian katanya sangat moderat tanpa menyalahkan satu sama lain. Sepertinya ia adalah pengagum substansialist dan tidak terperangkap gozwatul fikri yang menjadi perbedaan mencolok Islam Indonesia dan Saudi.

“Saya seorang santri Tebu Ireng. Saya belajar, bagaimana orang Indonesia mengekspresikan keislaman dan keindonesiaan dalam kerangka moment kelahiran nabi Muhammad saw. Maulid Nabi adalah momentum dan isinya adalah ibadah. Adakalanya, seorang yang tidak memiliki kedalaman pengetahuan tentang maqosidussyar’i dalam ushul fiqh akan secara cepat menuduh Maulid itu bid’ah. Namun hari ini, Banyak universitas di Saudi merekomendasikan untuk mengkaji Islam indonesia sebagai Islam yang lebih baik. Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang sangat mirip dengan Nabi yang damai, tak salaing membenci, tak egois, memberi perlindungan dan tidak emosional. Islam inilah yang ingin Saudi Arabia tanamkan sejak terpilihnya Putra Mahkota Raja Salman. Islam yang tak membuat kacau balau semisal Arab spring” Sepenggal ceramah sang ustad itu aku dengarkan dengan sekasama.

Janggot yang tak setebal orang Arab tidak meluluhkan kedalaman kajian keislaman sang ustad. Sorban khas arab merah putih melekat di kepalanya, tapi tetap rasa cinta keIndonesiaanya masih terlihat dari kajiannya. Dialek Jawa yang khas sesekali terdengar sangat jelas. Aku mengira, ia adalah orang yang memiliki pemikiran di persimpangan Islam Indonesia dan Islam Saudi yang dalam beberapa dimensi memiliki perbedaan.

*****

Aku gerakan kakiku untuk segera melangkah ke Raudhah. Tempat inilah dimana Rosulullah berkhalwat dan berdo’a. Seperti kebanyakan muslim lainnya, aku sangat meyakini tempat ini adalah salah satu tempat makbulnya do’a. Saat ada tanda dibukanya raudhah karena pergantian jamaah perempuan ke laki-laki, aku pun ikut berlari dengan sesama jemaah lain untuk dapat menginjakan kaki di karpet hijau sebagai batas Raudhah.

Karena sesaknya jemaah, aku kebagian paling ujung berdekatan dengan sebuah gedung berwarna hijau dimana Nabi Muhammad di makamkan. Aku sangat beruntung karena bisa sholat di Raudhoh dan sekaligus berdekatan dengan makam Rosululloh. Aku lakukan sholat mutlak dan tidak tak terasa aku tak ingin cepat-cepat menyelesaikan sholatku.

Dalam jeda membaca fatihah di rokaat pertama, aku tak sanggup lagi melanjutkan surat lainnya. terlihat dengan jelas makam Rosululloh di samping kiriku. Aroma wangi yang membuatku teringat perjuangan rosululloh yang sangat spektakuler. Seorang wanita yang dalam masa jahiliah dianggap kelas kedua setelah lelaki diperjuangkan menjadi setara bahkan lebih mulia. Bila saja dahulu kaum perempuan menstruasi dianggap bernajis dan diasingkan di luar rumah, maka Rosululloh merevisi aturan itu.

Aku bacakan Surat Annisa sebagai refleksiku atas perjuangan Rosululloh terhadap kaum perempuan. Saat itupun aku ingat ibuku yang melahirkan, menyusui dan membesarkannya. Di masa tuanya yang renta ia harus tetap mencintai anak-anaknya tanpa syarat. Bahkan, rasa sakitnya tak pernah ia umbar kepada anak-anaknya. Ketika kami para anak-anaknya menjenguk saat idul fitri, ia tidak memperlihatkan rasa sakit kepada anak-anaknya. Malah ia menunjukan begitu ia peduli dengan kami. Masakan kesukaan kami yang masih dihapal oleh ibu dipasaknya. Kami bak raja dan ratu bagi beliau. Cintanya unconditional love.

Dalam sujud, air mata ini terus meleleh. Aku ingat bagaimana Rosululloh lahir dengan keadaan yang yatim. Lalu harus jauh dengan sang Ibu dan berpisah dengan ibu dalam usia ke sembilan. Hidup dengan orang lain bukanlah hal yang mudah, tapi kemandirian dan anti menggantungkan diri kepada keluarga telah ternanam dalam kesehariannya. Ruh ilahiah telah tertanam sejak kecil.

Pola pengasuhan yang no maden dari kakek ke paman dan seterusnya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi bagian perjuangan Nabi terpilih. Bertemu dengan Siti Khodijah, sang maestro istri yang merubah kehiidupan beliau adalah awal bagaimana ia mampu berpijak untuk mengungkapkan kebenaran wahyu yang diterima. Duri-duri dakwah yang ia terima membuat lebih kuat dalam ketauhidan. Cercaan, sindiran dan bahkan perlawanan fisik yang ia terima membuat ia lebih kuat dari sekedar panji wahyu.

Dalam sujud kedua ini, air mataku tak bisa berhenti. Terbersit dalam bayangan abstrakku bagaimana Rosululloh berjuang dengan sahabatnya untuk memperjuangkan agama yang diyakininya. Dengan akhlak yang menjadi antitesa para bangsawan Arab saat itu, ia dipuji dan disayangi oleh orang miskin dan tertindas. Para pengikut yang setuju dalam ajarannya lebih mnguat dan berhadapan dengan egoisme para bangsawan yang merasa marwahnya terganggu oleh risalah baru Rosululloh.

Terbersit juga bagaimana satu persatu Rosululloh harus memegang pedang dalam berperang. Satu demi satu perang dimenangkan. Tanpa merendahkan para musuh, Rosululloh terus mengajak para kuffar untuk mengikuti jalan Allah. Rosululloh terus dipuji dan disayang oleh ummat karena akhlaknya. Ia orator sekaligus model akhlak yang ideal dalam kehidupan. Ia bukan penyuruh tapi ia memberikan contoh. Ia penyayang kepada orang marjinal sekaligus menghargai peran dan kapasitas bangsawan. Ia hanya ingin yang tidak tahu kebenaran menjadi tahu, yang tidak beriman menjadi beriman dan yang tidak menerima menjadi menerima.

*****

Setelah selesai sholat dan waktunya memberi kesempatan kepada jemaah lain untuk berdoa dan sholat di Raudhah, aku sempatkan memegang pagar hijau di jalan keluar mesjid madinah. Air mata ini terus mengalir. Bibir ini terus bersholawat. Pagar itu adalah pagar pembatas mesjid dan Makam Rosululloh. Aku haturkan salam kepada sang revolusioner kehidupan. “Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad”

Di luar mesjid tepatnya di pelataran mesjid nabawi dengan kubah hijau yang melindungi makam nabi, aku lihat kubah itu sangat megah. Warna hijau yang Nabi senangi menjadi simbol Islam secara mendunia. Tetapi aku melihat seongokan benda yang tak pantas ada di kubah itu. Setelah aku tanya beberapa kawan, maka aku paham bahwa benda itu adalah jasad mengering seorang Yahudi yang pernah berusaha untuk mencuri jasad nabi dari mesjid nabawi itu. Badannya langsung mati dan menunjukan kepada dunia bahwa cara itu adalah cara yang keji dan tidak akan berhasil.

Aku coba untuk berdiri dan aku hadapkan muka ini pada kubah itu. Lalu secara spontan aku berteriak dihadapan kubah hijau itu.

“Wahai para musuh-musuh Islam. Janganlah engkau kira kami kalah atas hegemonimu. Jangan kau kira kami tak mampu untuk mengembalikan masa kejayaan kami. Memang Pendidikan kami masih fokus pada rote learning, memang kami banyak bernostalgia pada masa golden ages Islam. Memang kami harus berubah mengejar ketertinggalan kami. Namun, kami tidak bisa karena kalian telah membuat kami sibuk dengan perbedaan kami. Kalian membuat kami perang saudara atas kerakusan kalian di tanah kami. Ya Rosulululloh, do’kan kami agar kuat untuk terus mengemban panjimu di dunia ini. Semoga kami menjadi pewarismu yang dapat menaklukan para pembenci ajaranmu. Dengan kasih sayang seperti yang kau tunjukan, doakan kami menjadi Islam yang lebih damai. Dengan ketawadhuan seperti yang kau ajarkan, doakan kami menjadi pembawa risalah Islam ke seluruh dunia. Doakan kami bisa menjadi wakilmu untuk menuntun manusia di jalan Allah. Allahumma solli ala Muhammad, wa sallim alaihi.” Kata-kata itu meluncur tak tertahankan olehku.

Entahlah mulut itu tak terkendali. Semua mata menatap dan tak memahami atas bahasaku di mulut kubah itu. Para jemaah yang hadir melongo atas keberanianku berteriak. Para askar pun tak tahu mereka tak berani menghentikanku. Entahlah. Di Maulid nabi tahun ini, aku merasa bahwa yang harus ada di ummat Islam adalah semangat Nabi dalam menerjang kebodohan. Ummat Islam wajib move on atas nostalgia masa lalu. Ummat Islam harus tahu bahwa Rosululloh berani menerjang badai perlawanan dengan sebuah keyakinan tauhid yang tinggi untum satu tujuan, li ila kalimatillah.{}

Bumisyafikri, 30/11/17

Satu Komentar

  1. MuhammadArif Abdurrohman

    Meskipun Nabi Muhammad SAW tergolong orang besar yang di akui oleh semua pihak, baik kawan mauoun lawan, namun beliau tidak melihat dirinya lebih dari anggota masyarakat yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *