Beranda / Uncategorized / Tiga Kelompok Islam dalam Menghadapi Islam-Phobia

Tiga Kelompok Islam dalam Menghadapi Islam-Phobia


Oleh: Zaki Mubarak

JUDUL ini berkonotasi negatif,seolah pemeluk Islam itu tidak satu, menyatu dan bersama. Dalam konteks kebersamaan, Islam secara konsep harus bersama, menyatu, unity. Namun faktanya, Muslim memiliki kecenderangan berbeda sikap satu sama lain, sehingga perbedaan ini menjadi model polarisasi yang bisa dianalisis. Tulisan ini bertujuan hanya untuk mengklasifikasi saja, bukan ingin menjustifikasi. Hal ini berguna bagi orang awam yang ingin memetakan Islam sebagai sebuah kekuatan sosial bahkan politik. Perbedaan satu sama lain dalam tulisan ini bukanlah instrument untuk pemecah belah tapi merupakan rahmat. Bukankah, perbedaan itu rahmat?

Mengklasifikasi muslim dengan afiliasi tertentu memang sangat mudah. Afiliasi ormas keislaman seperti Muhammadiah, NU, Persis dan lainnya sangat mudah, lihat saja elitnya. Kemana kecenderungan keberpihakan para elit, ke sana pula persepsi dan klasifikasi dibuat. Afiliasi muslim atas partai politik lebih mudah lagi, karena parpol tampak “hitam-putih” dan tak kenal kompromi bila sudah terpetakan dengan para calon yang bertarung di Pilkada. Jadi sangatlah mudah untuk mengklasifikasi penganut Islam dari sudut afiliasi, namun saya tidak akan menggunakan afiliasi ini menjadi tolak ukur, walaupun saya tahu, itu susah menghindarinya. Saya akan gunakan beberapa fenomena yang hadir baru-baru ini, dimana fenomena ini berhasil membikin polarisasi Muslim yang sangat jelas. Kejadian puisi Sukmawati yang “anti-syariat” dan menghidupkan kembali aksi bela Islam dan Ulama sebagai jargon berhasil dijadikan instrument pergerakan yang efektif. Saya tak akan menghubungkannya dengan dunia politis (walaupun itu sangat mungkin).

Saya tidak dalam berpihak atau menjustifikasi kebenaran satu kelompok satu dengan kelompok lain, walaupun itu sulit. Tapi, saya mencoba menganalisis kelompok yang secara fakta bisa distandarkan indikatornya. Ini mirip dengan antropolog Amerika yang berhasil mengklasifikasi Islam di Indonesia menjadi Islam Priyayi, Santri dan Abangan. Walaupun ada kesalahan kategorisasi yakni priyayi yang menjadi kelas sosial bukan kelas “ibadah” namun tetap saja teori ini diterima sebagai “kebenaran” teori. Jadi saya mencoba mengklasifikasi kelompok Islam yang terpolarisasi karena kasus insidental di Indonesia.

Saya akan menggunakan beberapa terminologi kelompok Islam yang menguat saat pertarungan Ahok dan Anies Sandi saat pilgub DKI 2017 yaitu Islam emosional dan rasional. Namun disamping itu juga saya harus menambahkan Islam yang kultural, dimana penganut Islam yang tidak terkontaminasi oleh dua kelompok popular tadi. Karena ini adalah kelompok-kelompok besar, saya pun harus memberikan sub-klasifikasi pada masing-masing kelompok ini, agar tidak memukul rata setiap kelompok dan harus dibatasi oleh indikator-indikator penting di dalamnya.

Kelompok Pertama: Islam Emosional

Harus diakui, bahwa kelompok ini adalah kelompok Islam yang memiliki tingkat “keberpihakan” kepada Islam yang tinggi. Keberpihakan diakibatkan oleh sentiment agama yang besar karena berbagai macam intake (masukan) pengetahuan tentang Islam. Kelompok ini adalah kelompok yang mengenal Islam sebagai sebuah way of life dimana pengetahuan agamanya tidak terlalu baik karena pemahaman tekstual lebih dominan ketimbang pemahaman kontekstual.

Islam yang diwahyukan oleh Allah memang diwakili oleh Al Qur’an dan Hadits yang dituliskan dalam teks-teks. Pemahaman akan teks ini mengalami polarisasi yang beragam, ada yang menelan mentah makna terjemahnya, ada yang memandang makna sesuai dengan kebutuhannya bahkan memahami sesuai dengan nafsunya. Kadang juga, potongan ayat atau hadits yang tidak komprehensif pun dimaknai sebagai nilai atau hukum yang harus ditaati. Memahami teks, baik holistic maupun parsial kadang ditanggapi secara emosional dan langsung ingin menerapkannya dalam kehidupan.

Dengan emosi yang menggebu-gebu, kelompok ini dengan bersemangat ingin “menolong” agama Allah. Teks-teks Qur’an dan hadits menjadi “lem perekat” antara emosi yang menggebu di dada dengan prilaku sebagi aktualisasi dirinya. Tidak jarang, kondisi ini menggerakan banyak orang untuk melakukan demonstrasi dengan bumbu dan motivasi yang sangat “menggebu” dan bahkan tidak sedikit yang nyinyir terhadap kelompok yang tidak sependapat.

Jika dilihat ada dua kelompok yang termasuk dalam Islam emosional. (1) Kelompok Muslim Middle-Up. Tidak jarang kelompok ini mendapatkan pengetahuan Islam di media non-konservatif. Mereka adalah kelompok yang mengenal Islam ketika mereka sudah beranjak dewasa dengan sumber-sumber Islam pada media sosial, meme-meme, berita viral, portal berita online, dan kadang berita-berita media non mainstream. Sharing info melalui media online menjadi media penting dalam menggerakan semua orang. Kelompok ini banyak mengetahui Islam melalui sumber “kurang valid” dimana Islam sudah didefinisikan sesuai pemikiran penulis atau desainer pembuatnya. Kelompok ini mayoritas kelompok Islam perkotaan dan sangat peduli dengan islam phobia. Mereka sangat menolak Islam sebagai sesuatu yang menakutkan, tapi di sisi lain emosi yang dibuatnya terkadang “menakutkan”

(2) Kelompok Muslim Middle-Low. Kelompok ini adalah kelompok yang berbeda dengan kelompok pertama namun dengan pemahaman agama baik. “Baik” disini adalah memiliki literasi pengetahuan kepada sumber utama Islam dengan tidak banyak mengadopsi pengetahuan Islam ala media sosial dan sejenisnya. Pemahaman tekstual yang menjadi ciri khas kelompok ini dipahami dan dijadikan patokan utama. Kadang ayat-hadits utama dan popular menjadi patokan kehidupan mereka sebagai way of live. Mereka memiliki jaringan dengan muslim perkotaan sehingga memiliki relasi yang baik dengan pergerakan Islam perkotaan. Mereka sangat emosional untuk membela Islam secara bersama dengan kelompok Middle-Up, sehingga keduanya memiliki jaringan yang tidak terputus. Bahkan, tidak jarang kelompok ini memiliki ormas yang menjadikan Islam sebagai dakwah yang “nahyi munkar” walau sedikit “amar ma’ruf”. Islam Phobia harus diberantas dengan “keras” dan jalanan, karena mereka memandang dengan cara halus tidak berhasil.

Kelompok Kedua: Islam Rasional

Kelompok ini adalah kelompok antitesa kelompok pertama (Islam emosional). Sebenarnya, mereka memiliki kemampuan akademik Islam yang mumpuni, namun mereka tidak selalu mencerna kajian tekstual sebelum dimaknainya kepada konteks. Kalau kelompok pertama melihat Islam sebagai “makro” dan teks sebagai prilaku “mikro” maka kelompok ini memandang “kehidupan, kemanusiaan, Islam, bangsa” sebagai ruang makro yang harus menjadi panduan prilaku “mikro”. Dalam kata lain, kelompok ini lebih menerjemahkan ajaran Islam tekstual ke dalam yang lebih kontekstual. Upaya membumikan Islam lebih penting ketimbang menelan mentah-mentah Islam sebagai “kata-kata”. Mereka lebih dikenal sebagai intelek Islam kontekstual.

Ada dua bagian kelompok ini. (1) kelompok yang frontal (depan) membela Islam ketika dibenturkan dengan kemanusiaan, kebangsaan, keindonesiaan, kehidupan, dan budaya. Membela non-Islam banyak dilakukan dengan tujuan lebih besar, walaupun menjadi “klise” oleh kawan Islam emosional sebagai “munafik” yang membela ideology non Islam. kelompok ini sangat konsen untuk melihat Islam sebagai agama yang penting namun tidak bisa dibentrokan dengan terminology kemanusiaan, kebangsaan dan seterusnya. Islam adalah agama yang adaptif, apapun sistemnya. Islam sebagai nilai yang kadang nilai ini dihasilkan dari pemahaman holistik atas semua ajaran Islam di berbagai sumber. Islam dianggap sebagai ideology yang perlu menjadi ruh dari semua aspek kehidupan. Teks akan dipahami dan harus berkelindan dengan konteks. Islamisasi lebih penting dari institusionalisasi islam.

(2) kelompok yang medioker membela Islam. Islam rasional ini membela Islam melalui kajian-kajian Islam dalam konteks akademik melalui tulisan, seminar, focus group discussion dan berdakwah melalui tulisan yang menunjukan ada relasi positif antara Islam dengan budaya, politik, negara, kemanusiaan dan seterusnya. Mereka tidak secara frontal untuk membela Islam dan non Islam, namun mereka melakukan pembelaan Islam dengan cara rasional yang akademik. Tidak langsung muncul ke permukaan untuk menjawab Islam kultural sebagai solusi kehidupan berislam dan bernegara, tapi lebih kepada kajian-kajian akademik, yang tentu saja konsumennya adalah kalangan high-level achiever (kalangan terdidik).

(3) kelompok perusak Islam rasional. Ada banyak yang tidak mengerti Islam dan berwajah seperti Islam rasional, namun dengan ketidak tahuannya mereka merusak imej Islam rasional. Mereka membela “anti-Islam” seperti banyak yang ditunjukan oleh kelompok Islam rasional tapi justru banyak penyimpangan di dalamnya. Gaya mereka seolah mengerti Islam yang dalam, tapi prilakunya jauh dari Islam sesungguhnya. Kalau Islam rasional tidak terlalu menunjukan atribut dan simbol Islam, tapi kekhusuannya beribadah memiliki tingkat tinggi. Mereka tidak menunjukan Islamnya di hadapan manusia, tapi sifat dan sikapnya sangat terpuji dan selalu lillahi ta’ala. Nah, perusak Islam rasional tidak begitu, mereka hanya meminjam Islam rasional frontal dengan prilaku-prilaku yang merusak. Tujuan utamanya adalah popularitas dan sejumlah donasi dari pemesan.

Kelompok Ketiga Islam Kultural

Islam kultural dalam konteks Islam Phobia terlihat marjinal. Marjinal di sini bukan dalam konteks ekonomi dan sosial, tapi dalam konteks ketidak tahuan atas Islam phobia dan tidak peduli dengan ketakutan orang lain atas Islam. Kelompok ini adalah kelompok yang tidak terlalu peduli dengan Islam, apakah terpinggirkan atau sedang berkuasa. Mereka tidak tahu dampak bully terhadap Islam berdampak kepada politik atau kepada kehidupan yang lebih luas atau tidak. Kelompok ini memandang Islam sebagai agama yang ada dalam dirinya dan selesai sampai masuk masjid.

Politik diabaikan, informasi tentang keislaman tak perlu digubris, yang penting adalah mereka sendiri yang harus memiliki nilai ibadah tinggi. Kelompok ini banyak datang dan mungkin lebih besar jumlahnya dari dua kelompok di atas. Kelompok ini lebih banyak tersita pikirannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya daripada harus care (peduli) terhadap hingar binger Islam Phobia. kelompok ini banyak datang dari pedalaman dan kelompok yang sangat tenang dalam kehidupan dan berupaya untuk keluar dari kontestasi Islam sebagai instrument “perkelahian”.

Paling tidak ada tiga kelompok dalam kelopok Islam Kultural ini; (1) kelompok tarekat. Islam tarikat mayoritas tidak melihat dan membandingkan dirinya dengan non-muslim, dengan negara, dengan kemanusiaan, dengan ras, tapi lebih memfokuskan bagaimana hubungan dirinya dengan Tuhan. Kelompok ini tidak bermain di politik praktis (walaupun ada beberapa). Mereka tenang dengan kehidupan yang mereka jalani dan berusaha memisahkan mana urusan duniawi mana ukhrowi. Jika urusan duniawi (seperti politik), maka berlaku sewajarnya saja.

(2) kelompok pesantren medioker. Pesantren dan lembaga pendidikan yang menjadi pusat kegiatan masyarakat di pedalaman dan sebagian di piggir kota dengan tingkat medioker (menengah) tidak memikirkan Islam phobia. Mereka lebih memfokuskan pendidikan (terutama untuk anak-anak) dan lepas dari kondisi hingar bingar politik praktis. Walaupun ada keinginan mereka dalam partisipasi politik praktis, tapi mereka tidak memiliki kesempatan sebesar pesantren besar yang sering berpengaruh dalam politik.

(3) kelompok Islam Biasa. Yaitu kelompok masyarakat yang beragama islam yang mengikuti dan tunduk kepada “keghaliban” hidup apa adanya. Mereka membicarakan Islam sebatas nonton tivi, ngobrol di warung kopi dan tidak memiliki dampak apa-apa. mereka fokus kepada pemenuhan kebutuhan hidupnya dan Islam dianggap sebagai bagian hidup yang penting dan harus ditaati. Urusan Islam Phobia? Mereka tidak tahu, yang mereka tahu adalah bagaimana mereka bisa bertahan hidup dan meningkatkan tarap kesejahteraannya.

Nah, dari tiga kelompok di atas, dimanakah Anda berdiri?{}

Bumisyafikri, 7/4/18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *